SUARAINDONEWS.COM, SINGAPURA — Urusan jodoh ternyata bukan cuma bikin pusing para jomblo. Pemerintah Singapura ikut turun tangan lewat layanan kencan FirstDate, sebuah program pilot yang khusus menyasar pegawai sektor publik berusia 21–35 tahun.
Program yang digarap Government Technology Agency (GovTech) Singapore ini punya konsep yang lumayan beda dari aplikasi kencan pada umumnya. Kalau biasanya pengguna disuruh geser-geser profil sampai jempol pegal, FirstDate justru memberikan satu kandidat pasangan dalam setiap siklus pencocokan.
Program ini dirancang untuk membantu para lajang membangun koneksi yang lebih serius dan mengurangi apa yang disebut sebagai swipe fatigue alias capek geser profil sana-sini.
Peserta harus masuk menggunakan Singpass, identitas digital resmi Singapura. Setelah itu, mereka mengisi kuesioner mengenai minat, kebiasaan, nilai-nilai pribadi, preferensi pasangan hingga hal-hal yang dianggap sebagai dealbreaker.
Nah, jawaban tersebut kemudian diolah oleh sistem pencocokan FirstDate.
Bukan asal comot pasangan, sistem ini menggunakan Gale-Shapley Stable Marriage Algorithm, sebuah metode matematika untuk menghasilkan pasangan berdasarkan preferensi peserta.
Setiap siklus, peserta akan mendapatkan satu kandidat lengkap dengan skor kompatibilitas, gambaran mengenai kandidat dan catatan pribadi.
Kalau cocok, lanjut.
Kalau belum klik, ya santai saja. Pengguna bisa mendapatkan kandidat baru pada siklus berikutnya. Sebab, namanya juga cari jodoh, tidak semua pertemuan berujung pelaminan.
Setelah mendapatkan pasangan, kedua pihak punya waktu 72 jam atau tiga hari untuk memutuskan apakah mau saling terhubung.
Kalau dua-duanya bilang “oke”, barulah informasi kontak bisa dibagikan.
Yang menarik, profil pengguna juga hanya dapat dilihat oleh orang yang menjadi pasangannya. Data pribadi dan jawaban kuesioner disebut ditangani sesuai standar keamanan data pemerintah Singapura.
Ketemu langsung? Ada ‘Date Quest’
Kalau sudah match dan akhirnya ketemuan, FirstDate juga menyediakan Date Quests, yakni aktivitas yang dirancang untuk membantu pasangan mencairkan suasana.
Jadi bukan sekadar, “Hai, kamu suka makan apa?” lalu obrolan mendadak mati gaya.
Dalam ketentuan program, pasangan yang mengikuti aktivitas tertentu selama periode promosi dapat memenuhi syarat mendapatkan voucher. Namun, ini bukan berarti pemerintah otomatis membayar seluruh biaya kencan pertama setiap pasangan.
Pendaftaran sampai 5 Oktober
Buat para pegawai publik Singapura yang masih single, pilot ini masih membuka pendaftaran hingga 5 Oktober 2026 pukul 23.59.
Pesertanya bukan hanya mereka yang belum pernah menikah. Layanan ini juga terbuka bagi peserta yang berstatus janda atau duda maupun bercerai, selama memenuhi ketentuan usia dan persyaratan program.
FirstDate sendiri bukan lahir dari rapat pemerintah yang kaku. Ide layanan ini bermula dari sejumlah pegawai GovTech yang mempertanyakan apakah semakin banyak pilihan pasangan di aplikasi kencan benar-benar membuat orang lebih mudah menemukan pasangan yang cocok.
Ide tersebut kemudian diuji melalui {build} hackathon tahunan GovTech hingga berkembang menjadi pilot yang kini diuji di lingkungan pelayanan publik Singapura.
Kenapa pemerintah ikut sibuk cari jodoh?
Ada konteks yang lebih besar di balik program ini.
Singapura tengah menghadapi persoalan pernikahan yang semakin terlambat dan angka kelahiran yang rendah. Pemerintah Singapura sebelumnya juga telah menjalankan berbagai kebijakan untuk mendukung keluarga dan mendorong pembentukan keluarga.
FirstDate menjadi salah satu eksperimen baru untuk membantu orang bertemu dan membangun hubungan, meski GovTech sendiri menegaskan bahwa kecocokan yang terlihat di atas kertas tentu tidak menjamin munculnya chemistry atau hubungan jangka panjang. Setelah dikenalkan, keputusan tetap berada di tangan masing-masing peserta.
Singapura sebenarnya bukan baru kali ini mencoba ikut membantu para lajang mencari pasangan.
Pada 1984, pemerintah pernah membentuk Social Development Unit (SDU) untuk mempertemukan para lajang melalui berbagai kegiatan sosial seperti makan malam, pesta dansa hingga perjalanan ke luar negeri.
Jepang dan Korea Selatan juga pernah menjalankan berbagai inisiatif untuk mempertemukan masyarakat yang masih lajang di tengah persoalan angka kelahiran yang rendah. Pemerintah Metropolitan Tokyo, misalnya, meluncurkan layanan kencan sendiri pada 2024.
Jadi, di Singapura sekarang ceritanya bukan lagi sekadar “cari kerja lewat pemerintah”, tetapi ada juga eksperimen “cari jodoh lewat pemerintah.”
Bedanya, kalau lamaran kerja gagal mungkin tinggal kirim CV lagi. Kalau urusan jodoh, ya… semoga algoritmanya tidak ikut bikin baper.
(Purwantiningsih)

























