SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar, mengimbau masyarakat agar tetap optimistis dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah.
Menurutnya, kekhawatiran berlebihan justru berpotensi memperburuk kondisi. Ia mengingatkan adanya fenomena self-fulfilling prophecy, yakni ekspektasi negatif yang dapat berubah menjadi kenyataan jika diyakini secara kolektif.
“Jangan ditunggu-tunggu angka Rp20.000 itu. Kita cukup menyadari bahwa rupiah sedang lemah dan solusinya harus dicari,” ujar Hermanto di sela acara Perbanas Futsal Series II di Jakarta Timur, Jumat (1/5).
Ia menegaskan, fokus utama seharusnya tidak pada rasa takut, melainkan pada langkah konkret untuk memperkuat ekonomi. Salah satu solusi yang didorong adalah peningkatan ekspor guna memperbesar aliran devisa dan menopang nilai tukar rupiah.
“Kalau semua orang sibuk khawatir, justru bisa jadi kenyataan. Lebih baik kita cari jalan keluarnya,” tambahnya.
Terkait sektor perbankan, Hermanto menilai kondisi industri keuangan nasional masih terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di kisaran 5 persen.
Dengan pertumbuhan tersebut, aktivitas ekonomi dinilai tetap berjalan dan penyaluran kredit masih menunjukkan tren positif.
“Pertumbuhan kredit saat ini masih di kisaran 8 hingga 10 persen. Dalam kondisi normal, jika sudah dua digit, artinya perbankan masih mencatatkan kinerja yang baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, selama ekonomi nasional terus tumbuh, sektor perbankan akan tetap bergerak dan menopang berbagai aktivitas usaha.
Hermanto juga menegaskan bahwa setiap tantangan ekonomi selalu memiliki solusi. Karena itu, ia mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk menjaga optimisme agar iklim investasi dan stabilitas keuangan tetap terjaga.
“Masalah pasti ada, tapi solusinya juga selalu ada. Tinggal bagaimana kita tidak ikut panik,” tutupnya.
(Anton)




















































