SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Bayangkan manusia suatu hari nanti tidak hanya membangun gedung pencakar langit di Bumi, tetapi juga membuat kota raksasa di luar angkasa, habitat berbentuk cincin, hingga struktur yang mampu memanfaatkan energi sebuah bintang.
Gagasan tersebut terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Namun, sejumlah konsep megastruktur memang telah lama dibahas dalam kajian space settlement dan astroengineering. Persoalannya, sebagian besar masih jauh dari kemampuan teknologi manusia saat ini.
Salah satu konsep paling terkenal adalah Dyson Sphere. Gagasan ini menggambarkan peradaban maju yang membangun sejumlah besar struktur di sekitar sebuah bintang untuk menangkap energi yang dipancarkannya.
Dalam penelitian modern, ilmuwan tidak hanya mencari bentuk “bola” raksasa yang mengurung bintang. Mereka justru mencari tanda tidak langsung berupa kelebihan radiasi inframerah, karena energi bintang yang dimanfaatkan teknologi hipotetis tersebut pada akhirnya diperkirakan akan menghasilkan panas buangan.
Pencarian itu masih berlangsung hingga sekarang.
Pada Juli 2026, tim Project Hephaistos melaporkan pengamatan menggunakan James Webb Space Telescope (JWST) terhadap dua bintang katai merah yang sebelumnya masuk daftar kandidat Dyson Sphere. Hasil pengamatan menunjukkan adanya galaksi latar belakang yang sangat merah di sekitar garis pandang kedua objek tersebut. Temuan itu memperkuat kemungkinan bahwa sinyal inframerah yang sebelumnya terlihat bukan berasal dari megastruktur, melainkan objek lain yang kebetulan berada di belakangnya.
Penelitian Project Hephaistos lainnya yang terbit pada Juli 2026 juga menganalisis tujuh kandidat utama serta beberapa objek tambahan. Para peneliti menyatakan belum mendapatkan penjelasan yang tuntas terhadap seluruh kelebihan inframerah tersebut, tetapi pengamatan JWST mulai menunjukkan bahwa sebagian kandidat dapat dijelaskan oleh objek latar belakang.
Artinya, belum ada bukti bahwa Dyson Sphere benar-benar ditemukan.
Pencarian bahkan diperluas ke skala yang jauh lebih besar. Studi yang dipublikasikan pada 12 Agustus 2026 menganalisis 129 galaksi untuk mencari panas buangan yang secara teori dapat menunjukkan keberadaan teknologi berskala galaksi.
Hasilnya, tidak ada satu pun dari 129 galaksi tersebut yang lebih cocok dengan model yang memasukkan komponen Dyson Sphere. Penelitian itu memperkirakan bahwa kurang dari 2,6 persen galaksi dalam sampel kemungkinan memiliki kawanan Dyson yang menyerap sekitar 25 persen energi bintangnya.
Selain Dyson Sphere, terdapat berbagai konsep megastruktur lain yang tidak kalah ekstrem.
Ringworld, misalnya, merupakan konsep cincin raksasa yang mengelilingi sebuah bintang. Struktur bagian dalamnya secara teori dapat menjadi habitat dengan luas sangat besar. Rotasi struktur juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan efek gravitasi buatan.
Ada pula Bernal Sphere, konsep habitat luar angkasa yang menggunakan rotasi untuk menciptakan gravitasi buatan. Ide semacam ini menjadi bagian dari pemikiran mengenai pemukiman manusia permanen di luar Bumi.
Sementara Alderson Disk jauh lebih ekstrem. Konsep ini menggambarkan cakram buatan berukuran luar biasa besar yang membentang hingga skala orbit planet. Secara teori, struktur seperti itu dapat menjadi habitat raksasa, tetapi kebutuhan material, energi, stabilitas struktur, dan teknologi konstruksinya berada jauh di luar kemampuan manusia saat ini.
Konsep lain bahkan membayangkan fasilitas industri di sekitar planet raksasa seperti Jupiter, yang dapat mengambil dan memproses sumber daya untuk mendukung industri antariksa.
Namun, penting membedakan antara konsep ilmiah, penelitian teoritis dan teknologi yang sudah tersedia.
Hingga 2026, manusia belum memiliki kemampuan untuk membangun megastruktur seukuran orbit planet. Belum ada teknologi konstruksi otomatis berskala besar di luar angkasa, industri pertambangan asteroid yang matang, maupun sistem transportasi antariksa yang mampu mengangkut material dalam jumlah luar biasa besar dengan biaya ekonomis.
Karena itu, Ringworld, Bernal Sphere dan Alderson Disk belum dapat disebut sebagai proyek pembangunan nyata.
Sementara Dyson Sphere memiliki posisi sedikit berbeda. Yang benar-benar dilakukan ilmuwan saat ini bukan membangun Dyson Sphere, melainkan mencari kemungkinan keberadaannya melalui pengamatan astronomi.
Pencarian tersebut juga memberikan pelajaran penting tentang cara kerja sains. Sinyal yang tampak aneh belum tentu merupakan tanda teknologi asing. Galaksi jauh, debu kosmik, aktivitas bintang dan berbagai fenomena alam dapat menghasilkan sinyal yang sekilas terlihat seperti sesuatu yang luar biasa.
Dengan kata lain, manusia belum sampai pada tahap membangun kota raksasa mengelilingi Matahari.
Tetapi manusia sudah berada pada tahap yang menarik: mencari tanda-tanda apakah peradaban lain di alam semesta mungkin pernah melakukan sesuatu yang bahkan jauh lebih besar.
Dan untuk saat ini, jawabannya masih sama: belum ada bukti kuat.
Justru di situlah menariknya penelitian megastruktur. Bukan karena manusia sebentar lagi akan membangun Dyson Sphere, tetapi karena pencarian tersebut memaksa ilmuwan memikirkan satu pertanyaan besar:
Jika suatu hari manusia mampu menggunakan energi sebuah bintang, seperti apa sebenarnya bentuk peradaban kita?
(Rizki Fadillah)
























