SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Teknologi yang dulu hanya muncul dalam film fiksi ilmiah perlahan mulai masuk ke dunia nyata. Organ hasil pencetakan 3D, perangkat mikro yang ditanam di bawah kulit, hingga sistem penghantaran obat berteknologi tinggi kini terus dikembangkan para ilmuwan.
Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan besar: seberapa dekat manusia dengan revolusi teknologi yang membuat tubuh dan mesin semakin sulit dipisahkan?
Salah satu teknologi yang terus mengalami kemajuan adalah 3D bioprinting. Teknologi ini menggunakan sel hidup dan material biologis untuk membentuk jaringan atau struktur menyerupai bagian tubuh manusia.
Penelitian terbaru menunjukkan bioprinting mulai digunakan untuk menghasilkan jaringan dan organoid yang dapat membantu penelitian penyakit, pengembangan obat, hingga pengujian terapi. Namun, teknologi tersebut belum berarti manusia sudah bisa mencetak organ utuh yang siap digunakan untuk transplantasi secara massal.
Tantangan terbesar masih berada pada kemampuan menciptakan struktur organ yang kompleks, termasuk pembuluh darah, menjaga sel tetap hidup, serta memastikan jaringan hasil cetakan dapat berfungsi dengan baik setelah digunakan.
Peneliti di Nanyang Technological University (NTU) Singapura juga mengembangkan pendekatan baru untuk mengatasi persoalan suhu dalam proses bioprinting. Teknologi tersebut diarahkan untuk menjaga sel tetap hidup sekaligus mempertahankan bentuk struktur biologis yang dicetak.
Di sisi lain, teknologi yang terdengar lebih futuristis justru sudah benar-benar ada, yakni microchip yang ditanam di bawah kulit.
Microchip implan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari identifikasi hingga akses terhadap sistem tertentu. Teknologi serupa juga terus diteliti untuk aplikasi kesehatan.
Namun, semakin canggih teknologinya, semakin besar pula persoalan yang muncul.
Implantasi microchip memunculkan perdebatan mengenai privasi, keamanan data, pengawasan dan siapa yang nantinya memiliki kendali atas informasi yang dihasilkan perangkat tersebut.
Persoalannya bukan hanya apakah chip tersebut bisa bekerja, tetapi juga bagaimana data yang dikumpulkannya disimpan dan digunakan.
Teknologi penghantaran obat juga mengalami perkembangan. Sistem berbasis microchip dan perangkat mikro memungkinkan obat dilepaskan secara lebih terkontrol sehingga pemberian obat berpotensi menjadi lebih presisi.
Meski demikian, berbagai teknologi tersebut masih berada pada tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Sebagian sudah digunakan dalam aplikasi tertentu, sementara lainnya masih berada dalam tahap penelitian laboratorium atau pengujian praklinis.
Artinya, gambaran manusia yang bisa mencetak organ baru, memasang chip komputer di tubuh, kemudian mengendalikan berbagai fungsi tubuh seperti dalam film fiksi ilmiah memang belum sepenuhnya menjadi kenyataan.
Namun, sejumlah teknologi yang dulu dianggap mustahil kini sudah berada di laboratorium dan bahkan mulai digunakan dalam kehidupan nyata.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah teknologi tersebut mungkin dibuat.
Melainkan, seberapa jauh manusia siap menerima ketika teknologi tidak lagi hanya berada di luar tubuh, tetapi mulai masuk dan menjadi bagian dari tubuh manusia itu sendiri?
(Robby Bustami)

























