SUARAINDONEWS.COM, SINGAPURA — Singapura punya cara unik untuk mendorong masyarakat kembali akrab dengan buku. Pemerintah melalui National Library Board (NLB) meluncurkan ReadSG, gerakan literasi nasional yang dirancang berjalan selama lima tahun.
Program tersebut mengajak masyarakat membangun kebiasaan membaca sedikitnya 15 menit setiap hari, di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin banyak mengonsumsi konten digital berdurasi pendek.
ReadSG resmi diluncurkan pada 6 September 2026 bertepatan dengan National Reading Month. Program ini tidak hanya mengajak warga membaca, tetapi juga menggunakan konsep gamification agar aktivitas membaca terasa lebih menarik.
Baca 15 menit, kumpulkan poin
Melalui ReadSG Challenge di platform pemerintah CrowdTaskSG, peserta dapat menetapkan target membaca, mencatat durasi membaca, mempertahankan reading streak, hingga mengumpulkan experience points dan virtual coins.
Setiap sesi membaca selama 15 menit dilaporkan memberikan 20 virtual coins. Sementara itu, 1.000 virtual coins dapat ditukarkan dengan nilai sekitar S$1, atau kurang lebih Rp12 ribu, tergantung nilai tukar.
Namun, sistem tersebut bukan berarti warga Singapura bisa mendapatkan uang besar hanya dengan membaca. Nilai hadiahnya relatif kecil dan lebih diarahkan sebagai pemicu agar masyarakat konsisten membangun kebiasaan membaca.
Program ini juga menyediakan berbagai tantangan dan rekomendasi bacaan agar peserta tidak sekadar membaca, tetapi menemukan jenis buku yang sesuai dengan minat mereka.
Target 150 ribu pengguna
Uji coba ReadSG berlangsung mulai 6 September hingga 31 Desember 2026.
National Library Board menargetkan program tersebut mampu menjaring sekitar 150.000 pengguna hingga September 2027.
Konsepnya cukup sederhana: membaca dibuat seperti aktivitas yang biasa dilakukan masyarakat melalui aplikasi digital. Ada target, ada catatan progres, ada streak, dan ada penghargaan.
Dengan cara tersebut, kebiasaan membaca diharapkan tidak berhenti sebagai kampanye sesaat.
Bukan cuma soal buku
ReadSG juga dikembangkan melalui berbagai kegiatan pendukung. Salah satunya adalah program Read for Good, yang menghubungkan aktivitas membaca dengan kegiatan sosial dan penggalangan dana untuk organisasi amal.
Ada pula kegiatan berbagi buku seperti Big Book Giveaway, yang memungkinkan masyarakat memperoleh buku dari koleksi perpustakaan secara gratis.
NLB berharap berbagai pendekatan tersebut bisa membuat membaca menjadi bagian dari rutinitas masyarakat, bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika mendapat tugas sekolah atau pekerjaan.
Indonesia perlu meniru?
Konsep Singapura ini tentu menarik jika diterapkan di Indonesia.
Apalagi tantangan membaca saat ini bukan hanya soal ketersediaan buku, tetapi juga persaingan dengan video pendek, media sosial dan berbagai bentuk hiburan digital yang menawarkan informasi secara cepat.
Indonesia sebenarnya bisa mengadaptasi konsep serupa dengan sistem yang lebih lokal.
Misalnya, warga yang konsisten membaca 15 menit setiap hari mendapatkan poin yang bisa ditukar dengan buku, akses perpustakaan, tiket transportasi, merchandise atau berbagai fasilitas publik lainnya.
Konsep reading streak juga bisa dibuat untuk pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.
Jadi, daripada sekadar mengatakan “ayo rajin membaca”, pemerintah bisa membuat membaca terasa seperti mengejar target olahraga atau menyelesaikan misi dalam aplikasi.
Pertanyaannya kemudian sederhana: kalau membaca 15 menit sehari diberi target, dicatat dan dibuat seru seperti game, apakah masyarakat Indonesia bakal lebih rajin membuka buku?
(Ginanjar Prio Wibowo)

























