SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA – Indonesia kini punya langkah besar di jantung pelayanan haji dan umrah dunia!
Melalui Danantara Indonesia, aset perhotelan di Makkah, Arab Saudi, resmi diakuisisi dengan nilai fantastis, mencapai sekitar Rp9,5 triliun!
Bukan cuma hotel, Indonesia juga mengakuisisi 14 bidang tanah yang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan penginapan dan fasilitas pendukung bagi jemaah haji dan umrah asal Tanah Air.
Lantas, benarkah langkah ini bisa membuat pelayanan haji lebih baik dan biaya jemaah lebih ringan?
Transaksi ini mencakup Hotel Novotel Thakher Makkah, yang memiliki 1.461 kamar dan suite, serta 14 bidang tanah dengan luas total sekitar 4,4 hektare.
Lokasinya berada di kawasan pengembangan Thakher Makkah, sekitar 1,2 kilometer dari Masjidil Haram.
Berdasarkan informasi Danantara Indonesia, kesepakatan awal dengan pengembang Thakher Development diumumkan pada Desember 2025. Hotel diserahterimakan pada 11 Agustus 2026, sementara penyelesaian akuisisi lahannya dilakukan pada Oktober 2026.
Nilai transaksi mencapai sekitar 2 miliar riyal Saudi, setara kurang lebih 531 juta dolar Amerika Serikat, atau Rp9,5 triliun.
Danantara menyebut langkah ini sebagai bagian dari pembangunan platform perhotelan jangka panjang di Arab Saudi, untuk memperkuat layanan bagi jemaah Indonesia.
Yang bikin menarik, investasi ini tidak berhenti pada satu hotel!
Ke-14 bidang tanah tersebut direncanakan untuk pengembangan fasilitas perhotelan dengan potensi sekitar 6.000 kamar tambahan, serta pusat perbelanjaan yang direncanakan memiliki lebih dari 90 gerai.
Namun, perlu digarisbawahi, angka tersebut masih merupakan rencana pengembangan, bukan jumlah kamar yang sudah tersedia saat ini.
Jika terealisasi dan dikelola dengan baik, kawasan ini berpotensi memperkuat kapasitas akomodasi Indonesia di Makkah, terutama saat musim haji dan umrah ketika kebutuhan kamar meningkat tajam.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menempatkan investasi ini sebagai langkah membangun platform perhotelan jangka panjang di Arab Saudi.
Intinya, Indonesia tidak hanya ingin mengeluarkan biaya untuk menyewa kamar setiap musim haji, tetapi juga membangun aset yang dapat dikelola secara berkelanjutan.
Catatan: Pernyataan di atas merupakan parafrasa dari informasi Danantara, bukan kutipan langsung kata demi kata.
Lalu, bagaimana dampaknya bagi masyarakat?
Data yang diberitakan Bisnis.com menyebut biaya perjalanan ibadah haji atau Bipih yang dibayarkan jemaah pada 2026 tercatat sekitar Rp54,19 juta. Dari jumlah tersebut, komponen akomodasi di Makkah disebut mencapai sekitar Rp14,1 juta.
Kepemilikan hotel sendiri membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan akomodasi.
Ketua Komnas Haji dan Umrah, Mustolih Siradj, dalam pemberitaan Bisnis.com pada 25 Oktober 2026, menekankan pentingnya manfaat investasi ini bagi jemaah, termasuk peluang efisiensi biaya.
Pesannya jelas: investasi besar harus dibarengi pengelolaan profesional, transparan, dan akuntabel.
Sebab, punya hotel di Makkah memang sebuah pencapaian. Tetapi, bagi masyarakat Indonesia, pertanyaan yang paling penting adalah: apakah pelayanan makin baik dan biaya haji bisa lebih terjangkau?
Indonesia kini mengambil langkah strategis untuk memperkuat kehadiran asetnya di Makkah.
Dengan investasi sekitar Rp9,5 triliun, harapannya bukan sekadar memiliki hotel di Tanah Suci, melainkan membangun fasilitas yang memberi manfaat nyata bagi jutaan umat Islam Indonesia yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah.
Tetapi ingat, kepemilikan hotel tidak otomatis membuat biaya haji turun. Semuanya bergantung pada tarif, biaya operasional, pengelolaan aset, dan seberapa besar manfaatnya benar-benar dirasakan jemaah.
Nah, menurut kalian, apakah investasi Rp9,5 triliun ini bisa menjadi langkah nyata menuju pelayanan haji yang lebih baik dan biaya yang lebih efisien?
(Ginanjar Prio Wibowo)
Tulis pendapat kalian di kolom komentar!
#Danantara #KampungHaji #HajiIndonesia #Umrah #BeritaIndonesia

























