SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA – Ketua Umum Forum Nasional IKA PTKIN se Indonesia, Idrus Marham mendukung pernyataan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang meyakini pasar modal Indonesia memiliki fundamental kuat dan mampu menghadapi tekanan di tengah rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Menurut Idrus, persoalan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni upaya memperkuat kemandirian dan kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah dinamika perekonomian global.
Ia menilai, sebagai negara besar dengan sumber daya alam melimpah dan potensi ekonomi yang luas, Indonesia harus mampu membangun kekuatan ekonominya sendiri, mulai dari sektor pangan, energi, hingga pasar modal.
Idrus yang juga wakil ketua umum bidang kebijakan publikmengatakan, kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan Indonesia yang berdaulat dan tidak mudah terombang-ambing oleh dinamika eksternal.
“Indonesia ini bangsa besar, dengan sumber daya alam dan berbagai potensi yang kita miliki. Karena itu, kita harus betul-betul mandiri,” ujar Idrus saat menanggapi pernyataan Dasco.
Menurut Idrus, kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dan energi, tetapi juga kemampuan memperkuat pasar modal serta menentukan arah pengembangan sistem keuangan nasional.
Pasalnya, pasar modal memiliki peran strategis dalam mendukung pembiayaan pembangunan, memperkuat dunia usaha, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia pun menilai, pernyataan Dasco sejalan dengan semangat membangun Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan mampu mengoptimalkan seluruh potensi ekonominya.
“Indonesia adalah rumah besar yang harus kita bangun bersama. Untuk itu, kita memerlukan kemandirian di berbagai bidang, termasuk pangan, energi, dan pasar modal,” kata Idrus.
Kedaulatan ekonomi bukan berarti menutup diri
Idrus menegaskan, upaya memperkuat kedaulatan ekonomi bukan berarti Indonesia harus menutup diri dari penilaian internasional.
Menurut dia, Indonesia tetap perlu terbuka terhadap evaluasi global, memperbaiki tata kelola pasar modal, serta meningkatkan transparansi dan kredibilitas untuk menjaga kepercayaan investor.
Namun, ia mengingatkan bahwa penilaian lembaga internasional tidak boleh menjadi satu-satunya penentu arah perekonomian Indonesia.
Idrus berpandangan, Indonesia harus memiliki fondasi ekonomi yang kuat agar mampu menghadapi perubahan kebijakan, penilaian, maupun dinamika pasar global tanpa kehilangan arah pembangunan nasional.
Dengan demikian, keterbukaan terhadap dunia internasional perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemandirian ekonomi di dalam negeri.
Bagi Idrus, tantangan yang muncul saat ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah, regulator, dan seluruh pelaku pasar untuk memperkuat kualitas pasar modal Indonesia.
Pembenahan tata kelola, transparansi kepemilikan saham, dan perlindungan investor menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan sekaligus meningkatkan daya saing pasar modal nasional.
Dasco yakin pasar modal Indonesia memiliki fundamental kuat
Sebelumnya, Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan keyakinannya bahwa pasar modal Indonesia memiliki fundamental yang kuat di tengah gejolak akibat rencana perubahan klasifikasi oleh MSCI.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Dasco mengajak seluruh pelaku pasar modal untuk bersatu menghadapi berbagai tantangan dan memperkuat posisi Indonesia.
“Di Bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri,” ujar Dasco, dikutip Senin (26/10/2026).
Dasco juga menyerukan pentingnya persatuan seluruh elemen bangsa untuk menghadapi situasi tersebut.
“Kita bersatu, bergerak dan berjuang. Menuju Bangsa Pemenang!” tuturnya.
Pernyataan Dasco muncul setelah MSCI mengumumkan konsultasi atas proposal perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada Oktober 2026.
MSCI menjadwalkan pengumuman keputusan final paling lambat pada 30 Juni 2027. Selama periode konsultasi, lembaga penyedia indeks global tersebut membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan masukan.
MSCI menyebut sejumlah persoalan yang menjadi perhatian investor, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham, tingkat investabilitas, dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi.
Apabila perubahan klasifikasi tersebut diberlakukan, saham Indonesia tidak lagi menjadi bagian dari indeks acuan global MSCI seperti MSCI Emerging Markets Index. Kondisi ini berpotensi memengaruhi cara sebagian investor global mengalokasikan investasinya di pasar saham Indonesia.
Di tengah perkembangan tersebut, penguatan fundamental pasar modal menjadi tantangan penting bagi Indonesia.
Bagi Idrus, Indonesia perlu menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk memperkuat ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan investor internasional.
Dengan tata kelola yang semakin baik, transparansi yang terjaga, dan fondasi ekonomi yang kuat, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing pasar modalnya tanpa mengesampingkan kepentingan nasional.
(Yulianto)
























