SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Komisi XII DPR RI menilai gejolak harga minyak mentah dunia akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah tidak boleh menjadi beban bagi ketahanan energi Indonesia.
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengatakan, salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengurangi dampak fluktuasi harga minyak global adalah mempercepat transisi energi, termasuk penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Menurut Bambang, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan dinamika jalur perdagangan Selat Hormuz kerap memicu kekhawatiran terhadap pasokan serta harga minyak dunia, kondisi rantai pasok global saat ini secara umum mulai kembali normal.
“Kita lihat dari range-nya itu kan tadi sudah Presiden umumkan, (harga minyak) kita akan menuju ke 75 (dolar per) barel. Kita melihat sebetulnya secara umum rantai pasok dunia itu sudah kembali normal,” ujar Bambang.
Namun, ia mengingatkan harga minyak dunia yang terlalu tinggi justru dapat mempercepat pergeseran masyarakat dan industri menuju sumber energi alternatif.
“Mempercepat yang namanya peralihan dari penggunaan BBM kepada kendaraan listrik (electric vehicle),” kata politikus Fraksi Partai Golkar tersebut.
Bambang menjelaskan, kenaikan harga minyak fosil pada akhirnya akan mendorong masyarakat mencari pilihan energi dan transportasi yang lebih murah. Kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat penggunaan kendaraan listrik.
“Jadi menurut saya semua akan ada perimbangannya, semua akan ada substitusinya. Jika kemudian harga crude terlalu tinggi, masyarakat sendiri dan dunia itu akan melirik kepada mana yang akan lebih murah,” ujarnya.
Karena itu, Bambang mengapresiasi langkah pemerintah yang mendorong percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, baik untuk sepeda motor maupun mobil.
Menurutnya, percepatan elektrifikasi transportasi dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak sekaligus menghadapi risiko gejolak energi akibat situasi geopolitik global.
“Presiden sudah memberikan program bagaimana percepatan untuk kendaraan listrik, baik itu motor maupun kendaraan mobil. Saya pikir Presiden sudah sangat paham terhadap persoalan geopolitik ini, bagaimana persoalan energi itu tidak membelenggu Indonesia dan persoalan Timur Tengah tidak membuat satu masalah bagi kita,” tegas Bambang.
Ia menilai transisi menuju kendaraan listrik bukan hanya berkaitan dengan teknologi dan transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.
(Agung Suhartono)
























