SUARAINDONEWS.COM, GAZA — Setelah hampir tiga tahun lebih banyak mendengar suara perang ketimbang suara bel sekolah, Holy Family School di Gaza akhirnya kembali membuka pintunya.
Sekolah yang berada di kompleks Holy Family Parish, satu-satunya gereja Katolik Roma di Gaza, kembali memulai kegiatan belajar pada 15 September 2026. Tahun ajaran 2026–2027 ini, sekitar 1.005 siswa dari tingkat taman kanak-kanak hingga kelas 12 kembali masuk sekolah.
Yang menarik, mayoritas siswa yang belajar di sekolah tersebut adalah Muslim. Sementara sekitar 130 siswa atau 13 persen merupakan siswa Kristen.
Bagi komunitas Kristen Gaza, pembukaan sekolah ini punya arti tersendiri. Sebelum perang, terdapat lima sekolah Kristen di Gaza, terdiri dari tiga sekolah Katolik, satu Ortodoks, dan satu Evangelikal. Kini, Holy Family School menjadi satu-satunya sekolah Kristen yang kembali beroperasi, sehingga siswa Kristen di Gaza untuk pertama kalinya belajar bersama di satu sekolah Kristen.
Jadi, sekolah ini bukan cuma soal buku, papan tulis dan tugas rumah. Ada cerita panjang di balik pintunya.
Selama perang, gedung Holy Family School sempat berubah fungsi menjadi tempat perlindungan. Lebih dari 450 orang yang mengungsi akibat perang pernah tinggal di kompleks sekolah tersebut. Setelah sebagian pengungsi kembali ke rumah atau mendapatkan tempat tinggal lain, gedung sekolah kembali dipersiapkan untuk menjalankan fungsi utamanya: tempat anak-anak belajar.
Pastor Gabriel Romanelli, imam Holy Family Parish, mengatakan pembukaan kembali sekolah diharapkan bisa memberikan sedikit rasa normal bagi anak-anak dan keluarga di tengah kondisi Gaza yang masih sangat berat.
Menurutnya, lingkungan sekolah juga dipersiapkan agar anak-anak memiliki tempat yang bersih dan aman setelah mengalami masa panjang penuh tekanan akibat perang.
“Sekolah ini adalah cahaya di tengah kegelapan,” demikian gambaran Romanelli mengenai arti kembalinya aktivitas pendidikan tersebut. Ia juga mengatakan, ketika 1.000 siswa datang mengenakan seragam, hal itu menunjukkan bahwa masih ada masa depan yang ingin diperjuangkan.
Bukan cuma murid yang harus beradaptasi. Para guru juga menghadapi beban psikologis setelah bertahun-tahun hidup dalam situasi perang.
Karena itu, program sekolah kini tidak hanya berisi pelajaran akademik. Dukungan psikososial untuk siswa dan guru menjadi bagian penting dari kegiatan pendidikan. Sekolah juga tengah menyiapkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk membantu anak-anak menghadapi dampak psikologis akibat terhentinya pendidikan selama bertahun-tahun.
Sebanyak 77 guru telah kembali bekerja pada tahun ajaran baru tersebut. Namun, sekolah masih menghadapi sejumlah keterbatasan, termasuk kekurangan furnitur, alat tulis dan perlengkapan pendidikan dasar.
Yang tak kalah menarik, sekolah ini juga tidak langsung tutup setelah bel pulang berbunyi. Pihak sekolah berencana menyediakan kegiatan setelah jam pelajaran karena anak-anak di Gaza masih membutuhkan ruang yang aman untuk bermain, berkegiatan dan bertemu teman.
“Jangan tutup sekolah setelah pelajaran. Kami tidak punya kegiatan dan tidak punya tempat untuk pergi,” menjadi gambaran permintaan anak-anak yang disampaikan Pastor Romanelli kepada ACN.
Latin Patriarchate of Jerusalem menyebut pembukaan kembali sekolah ini sebagai bagian dari upaya mengembalikan pendidikan bagi anak-anak Gaza. Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, sebelumnya menekankan pentingnya pendidikan sebagai bagian dari harapan bagi anak-anak.
Kini, gedung yang pernah menjadi tempat berlindung ratusan orang itu kembali dipenuhi anak-anak dengan seragam sekolah.
Di tengah Gaza yang masih menghadapi berbagai persoalan akibat perang, bel sekolah kembali berbunyi. Bagi para pengelola sekolah, kembalinya sekitar seribu siswa bukan sekadar dimulainya tahun ajaran baru, tetapi juga upaya menghadirkan kembali rutinitas, ruang aman dan harapan bagi generasi muda Gaza.
(Agus Marwan)

























