SUARAINDONEWS.COM, HARARE — Nama mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pernah ramai gara-gara pernyataannya soal pasangan sesama jenis. Bukan cuma kontroversial, ucapan itu sampai menyebut soal kehamilan dan hukuman penjara.
Pernyataan tersebut disampaikan Mugabe saat kampanye politik pada 5 Juli 2013 di Harare, menjelang pemilihan umum Zimbabwe. Ketika itu, Mugabe mengatakan pasangan sesama jenis yang mengklaim bisa memiliki anak seharusnya ditempatkan dalam satu ruangan untuk melihat apakah mereka bisa hamil.
Kalau ternyata tidak bisa memiliki anak, Mugabe secara retoris mengatakan mereka seharusnya dipenjara. Pernyataan itu diberitakan sejumlah media internasional pada saat kampanye berlangsung.
Jadi, kalau ada yang mengira ucapan tersebut langsung berubah menjadi undang-undang Zimbabwe, ceritanya tidak begitu.
Pernyataan Mugabe merupakan retorika politik dalam kampanye, bukan aturan hukum otomatis yang kemudian membuat pasangan sesama jenis harus menjalani tes kehamilan atau dipenjara karena tidak memiliki anak.
Mugabe memang dikenal sering mengeluarkan pernyataan keras mengenai homoseksualitas selama memimpin Zimbabwe. Pada 2013, ia juga menentang pernikahan sesama jenis dan mengkritik dukungan Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, terhadap hak-hak pasangan sesama jenis.
Namun, di balik ucapan kontroversial tersebut memang ada konteks hukum yang nyata.
Zimbabwe pada masa itu sudah memiliki aturan yang mengkriminalisasi hubungan seksual tertentu antara laki-laki. Ketentuan tersebut kemudian tercantum dalam Section 73 Criminal Code, dengan ancaman hukuman maksimal satu tahun penjara dan denda.
Konstitusi Zimbabwe yang disahkan pada 2013 juga menyatakan bahwa orang dengan jenis kelamin yang sama tidak diperbolehkan menikah. Ketentuan tersebut terdapat dalam Article 78(3).
Artinya, ada perbedaan antara ucapan Mugabe dengan hukum yang benar-benar berlaku.
Ucapan soal pasangan yang tidak bisa mempunyai anak dipenjara tidak menjadi ketentuan hukum tersendiri. Sementara larangan hubungan seksual tertentu antara laki-laki dan larangan pernikahan sesama jenis memang mempunyai dasar hukum di Zimbabwe.
Bahkan, sampai laporan Human Rights Watch World Report 2026, Section 73 Criminal Code masih disebut memberikan ancaman hukuman hingga satu tahun penjara dan denda untuk hubungan sesama laki-laki. Konstitusi Zimbabwe juga masih melarang perkawinan sesama jenis.
Ada pula satu hal yang sering bikin informasi di media sosial jadi campur aduk.
Pada 2024 beredar klaim bahwa sebuah pengadilan Zimbabwe menghukum pasangan sesama jenis dengan tahanan rumah selama satu tahun dan akan menjatuhkan hukuman mati jika mereka tidak ada yang hamil.
Klaim tersebut palsu.
Africa Check menyatakan tidak ada hukum Zimbabwe yang memberikan hukuman mati kepada pasangan sesama jenis karena tidak memiliki anak. Tidak ada laporan kredibel mengenai putusan pengadilan seperti itu.
Jadi, cerita tentang “pasangan gay tidak hamil lalu dihukum mati” jangan dicampur dengan pernyataan Mugabe pada 2013.
Yang benar, Mugabe memang pernah melontarkan pernyataan kontroversial tersebut dalam kampanye politik. Sementara aturan hukum Zimbabwe terkait hubungan sesama jenis dan pernikahan sesama jenis merupakan persoalan hukum yang berbeda.
Mugabe sendiri meninggal dunia pada September 2019, setelah memimpin Zimbabwe selama puluhan tahun. Ia dikenal kerap menggunakan isu homoseksualitas dalam pidato dan kampanye politiknya.
Jadi, kalau muncul lagi narasi “Mugabe bikin aturan pasangan sesama jenis yang tidak bisa punya anak harus dipenjara”, jangan langsung percaya mentah-mentah.
Ucapan politik ada, aturan hukumnya ada, tetapi keduanya bukan hal yang sama.
(Rizki Fadillah)

























