SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Bayangkan sebuah subspesies hewan tinggal dua individu saja di seluruh dunia. Itulah kondisi badak putih utara yang kini hanya menyisakan dua betina, Najin dan Fatu.
Keduanya sudah tidak mampu berkembang biak secara alami. Kondisi tersebut membuat badak putih utara dinyatakan punah secara fungsional, meski secara biologis subspesies ini belum benar-benar hilang.
Harapan terakhir kini ada di tangan para ilmuwan yang mencoba menyelamatkannya melalui teknologi reproduksi berbantuan.
Program BioRescue hingga awal 2026 telah menghasilkan 39 embrio badak putih utara. Salah satunya merupakan embrio baru yang berhasil dibuat dari sel telur Fatu pada awal tahun 2026.
Embrio-embrio tersebut nantinya diupayakan berkembang melalui induk pengganti dari badak putih selatan, karena tidak ada lagi badak putih utara betina yang mampu menjalani kehamilan secara alami.
Namun, jalannya tidak mudah.
Sejumlah percobaan transfer embrio sebelumnya belum berhasil menghasilkan kehamilan yang bertahan. Artinya, teknologi untuk menyelamatkan subspesies ini masih menghadapi tantangan besar.
Dengan hanya Najin dan Fatu yang tersisa, setiap embrio menjadi sangat berharga bagi masa depan badak putih utara.
Jika teknologi reproduksi ini berhasil, para ilmuwan berpeluang membuka jalan untuk membangun kembali populasi badak putih utara.
Sebaliknya, jika upaya tersebut gagal, subspesies ini berisiko benar-benar hilang dari dunia.
Dua betina tersisa. Puluhan embrio jadi harapan. Sekarang, masa depan badak putih utara benar-benar bergantung pada teknologi dan kerja keras konservasi.
(Purwantiningsih)

























