SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Latvia punya fenomena demografi yang cukup unik. Jumlah perempuan di negara Eropa tersebut lebih banyak dibandingkan laki-laki. Kondisi ini kemudian kerap dikaitkan dengan munculnya layanan bernama “Husband for an Hour” atau “suami selama satu jam”.
Namun, jangan buru-buru salah paham. Layanan tersebut bukan jasa menyewa pasangan atau teman kencan. “Suami” yang dimaksud adalah tukang serba bisa untuk membantu berbagai pekerjaan rumah.
Layanan tersebut menawarkan pekerjaan mulai dari memperbaiki pipa, memasang perlengkapan rumah, merakit furnitur, mengecat, hingga pekerjaan teknis lainnya.
Salah satu penyedia layanan di Latvia, Remontdarbi.lv, menawarkan jasa home master untuk berbagai kebutuhan perbaikan rumah. Teknisi dapat membantu pekerjaan seperti instalasi, perbaikan pipa, pekerjaan listrik, pemasangan televisi, perakitan furnitur dan pekerjaan rumah lainnya.
Nama “Husband for an Hour” menjadi daya tarik tersendiri karena terdengar seperti layanan penyewaan pasangan. Padahal, pelanggan sebenarnya memesan tenaga profesional untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang membutuhkan keterampilan teknis.
Perempuan Lebih Banyak daripada Laki-laki
Fenomena tersebut semakin menarik perhatian karena Latvia memang memiliki jumlah penduduk perempuan yang lebih besar.
Data resmi Biro Statistik Latvia menunjukkan sekitar 53,7 persen penduduk Latvia adalah perempuan, atau sekitar 116 perempuan untuk setiap 100 laki-laki.
Namun, ketimpangan tersebut tidak terjadi secara sama pada semua kelompok umur.
Pada kelompok usia muda hingga usia produktif, jumlah laki-laki dan perempuan relatif berimbang. Bahkan pada beberapa kelompok usia, laki-laki lebih banyak.
Perbedaan jumlah menjadi semakin mencolok pada kelompok usia lanjut. Populasi perempuan berusia 65 tahun ke atas jauh lebih besar dibandingkan laki-laki.
Salah satu faktor utamanya adalah perbedaan harapan hidup. Perempuan di Latvia rata-rata hidup lebih lama dibandingkan laki-laki.
Bukan Jasa Cari Pasangan
Karena menggunakan istilah “suami”, layanan tersebut sering muncul dalam pemberitaan dengan narasi seolah-olah perempuan Latvia menyewa laki-laki karena kekurangan pasangan.
Padahal, hubungan antara ketimpangan demografi dengan bisnis “Husband for an Hour” tidak bisa disimpulkan secara langsung.
Layanan tersebut pada dasarnya merupakan bisnis jasa perbaikan dan perawatan rumah.
Beberapa penyedia bahkan menggunakan istilah lokal “Vīrs uz stundu”, yang merujuk pada konsep “suami selama satu jam”. Pekerjaan yang ditawarkan tetap berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, seperti memperbaiki keran, memasang peralatan, merakit furnitur dan pekerjaan teknis lainnya.
Dengan demikian, “suami” dalam layanan tersebut lebih menggambarkan sosok tukang yang bisa mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, bukan pria yang disewa untuk menjadi pasangan.
Nama Bisnis Jadi Daya Tarik
Konsep ini kemudian menjadi bahan pemberitaan karena namanya mudah memancing rasa penasaran.
Bayangkan seseorang menelepon dan berkata membutuhkan “suami satu jam”. Yang datang ternyata bukan pasangan romantis, melainkan tukang membawa peralatan untuk memperbaiki keran bocor, memasang rak atau merakit lemari.
Sejumlah media internasional mengangkat fenomena tersebut dengan menghubungkannya dengan kondisi demografi Latvia. Namun, data resmi menunjukkan bahwa persoalan ketimpangan jumlah penduduk berdasarkan gender sangat dipengaruhi oleh struktur usia dan perbedaan harapan hidup.
Karena itu, fenomena “Husband for an Hour” lebih tepat dilihat sebagai layanan handyman dengan nama yang unik, sementara ketimpangan jumlah perempuan dan laki-laki merupakan persoalan demografi yang memiliki penyebab lebih kompleks.
Nama yang terdengar seperti layanan romantis justru menjadi bagian paling menarik dari bisnis tersebut: yang disewa satu jam bukan suami, melainkan keahlian untuk membereskan pekerjaan rumah.
(Agung Suhartono)

























