SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Hubungan diplomatik Indonesia dan Israel masih dingin, tetapi perdagangan produk sawit ternyata tetap berjalan. Sepanjang 2025, ekspor minyak sawit olahan Indonesia ke Israel tercatat mencapai US$21,598 juta atau sekitar Rp350 miliar.
Data World Integrated Trade Solution (WITS) menunjukkan, volume ekspor produk tersebut mencapai 19.185.100 kilogram atau sekitar 19.185 ton. Data ini mencakup minyak sawit selain minyak sawit mentah (CPO), beserta fraksi cairnya, dengan kode perdagangan HS 151190.
Angkanya bukan recehan. Namun, di balik nilai ekspor puluhan juta dolar AS tersebut, ada fakta lain yang tak kalah menarik: volume pengiriman justru terus menyusut dalam dua tahun terakhir.
Mengutip data WITS yang diberitakan Suara.com pada 22 Oktober 2026, nilai ekspor pada 2024 mencapai US$21,635 juta dengan volume sekitar 21.908 ton. Pada 2025, nilai ekspor turun tipis sekitar 0,17%, sedangkan volumenya merosot sekitar 12,4%.
Jika ditarik lebih jauh, pada 2023 nilai ekspor produk sawit kategori ini mencapai US$27,05 juta dengan volume sekitar 28.883 ton.
Artinya, selama 2023–2025, nilai ekspor menyusut sekitar 20,2%, sementara volume pengiriman turun sekitar 33,6%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan masih berlangsung, tetapi jumlah produk yang dikirim ke Israel tidak sebesar dua tahun sebelumnya.
Perdagangan jalan, hubungan diplomatik tetap berbeda
Lalu, bagaimana produk sawit Indonesia masih bisa masuk ke Israel ketika kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal?
Jawabannya, hubungan diplomatik dan aktivitas perdagangan merupakan dua urusan berbeda. Ketiadaan hubungan diplomatik formal tidak otomatis menghentikan seluruh transaksi komersial lintas negara.
Namun, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa aktivitas ekspor ini berarti Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Data perdagangan hanya mencatat arus barang dan nilai transaksinya, bukan perubahan sikap politik luar negeri.
Di sinilah publik perlu melihat persoalan secara jernih. Sikap diplomatik suatu negara tidak bisa disimpulkan hanya dari angka ekspor. Sebaliknya, ketiadaan hubungan diplomatik juga tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dengan negara tersebut berhenti.
Ada perbedaan angka yang perlu dijelaskan
Catatan lain muncul ketika data ekspor Indonesia dibandingkan dengan data impor Israel.
WITS mencatat ekspor Indonesia ke Israel untuk kategori HS 151190 pada 2025 sebesar US$21,598 juta. Sementara itu, data impor yang dilaporkan Israel mencatat nilai produk dari Indonesia sebesar US$9,698 juta, dengan volume sekitar 6.106 ton.
Perbedaan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut. Perbedaan waktu pencatatan, metode penilaian, negara asal atau pengiriman, dan pembaruan statistik bisa memengaruhi angka perdagangan. Data yang tersedia belum cukup untuk memastikan penyebab selisih tersebut.
Karena itu, perbedaan angka tidak bisa langsung dijadikan tuduhan adanya transaksi tersembunyi atau pelanggaran perdagangan.
Bukan cuma soal sawit
Bagi Indonesia, minyak sawit merupakan salah satu komoditas ekspor penting. Sementara dalam konteks perdagangan dengan Israel, angka tersebut memperlihatkan bahwa produk sawit olahan Indonesia masih tercatat masuk ke pasar negara itu meski hubungan diplomatik formal tidak terjalin.
Pertanyaan yang layak ditelusuri berikutnya adalah siapa perusahaan eksportirnya, bagaimana rantai distribusinya, melalui jalur perdagangan mana produk tersebut dikirim, serta bagaimana aturan ekspornya diterapkan.
Data yang tersedia belum mengungkap secara rinci identitas eksportir maupun mekanisme setiap transaksi.
Satu hal yang sudah jelas: berdasarkan WITS, ekspor produk minyak sawit Indonesia ke Israel pada 2025 tercatat sebesar US$21,598 juta atau sekitar Rp350 miliar, dengan volume 19.185 ton.
Hubungan diplomatik boleh tidak ada. Namun, untuk memahami kenyataan perdagangan, publik perlu membaca data, memeriksa aturan, dan membedakan fakta ekonomi dari kesimpulan politik.
Sumber: World Integrated Trade Solution (WITS), data perdagangan 2023–2025; Suara.com, 22 Oktober 2026.
Catatan: Konversi rupiah merupakan perkiraan. Data HS 151190 tidak mencakup seluruh kategori produk sawit yang mungkin diperdagangkan antara Indonesia dan Israel.
(Ginanjar Prio Wibowo)























