Hal itu disampaikan Megawati saat bertindak sebagai Inspektur Upacara pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di halaman Masjid At-Taufiq, Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).
Dalam amanatnya, Megawati mengajak seluruh elemen bangsa untuk berani melihat sejarah secara jujur, termasuk mengenai berbagai penderitaan politik yang dialami Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno.
“Meskipun Ketetapan MPRS Nomor 33 MPRS Tahun ’67 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno telah dicabut, namun bagi saya persoalan sejarah tidak berhenti pada pencabutan sebuah ketetapan. Yang lebih penting adalah bagaimana nurani sejarah itu,” ujar Megawati.
Megawati menilai bangsa yang tidak berani menghadapi sejarahnya sendiri akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan pihak lain. Karena itu, ia menekankan pentingnya kejujuran sejarah sebagai bagian dari pendidikan bagi generasi penerus bangsa.
Dalam pidatonya, Megawati mengungkap perjalanan panjang Bung Karno yang menurutnya menghabiskan sekitar 18 tahun dalam penjara, pengasingan, hingga tahanan rumah.
Ia merinci, sekitar 12 tahun dijalani Bung Karno dalam penjara dan pengasingan pada masa kolonial Belanda, dua tahun dalam pengasingan pada masa revolusi fisik, serta empat tahun menjalani tahanan rumah tanpa proses pengadilan pada masa Orde Baru.
Megawati juga menyinggung masa ketika Bung Karno ditempatkan di sejumlah lokasi, mulai dari Istana Bogor, Batu Tulis hingga Wisma Yaso.
“Coba kamu bayangkan, Bung Karno itu proklamator, terus tiba-tiba pada zaman Orde Baru, ketika zaman Pak Harto itu, beliau karena Pak Harto ingin menjadi presiden, maka Bung Karno itu dilakukan suatu penahanan,” tuturnya.
Menurut Megawati, keluarga Bung Karno selama puluhan tahun bahkan tidak mendapatkan dokumen resmi mengenai status hukum penahanan sang Proklamator.
Di sisi lain, ia menyoroti penghormatan terhadap Bung Karno di berbagai negara. Menurutnya, nama dan gagasan Bung Karno justru terus dikenang dunia internasional.
“Bulan depan saya diminta ke Uzbekistan untuk meresmikan patung Bung Karno di sana. Mengapa kita di sini malah melecehkan beliau?” kata Megawati.
Megawati menegaskan, penyampaian mengenai sejarah Bung Karno bukan ditujukan untuk membangkitkan kebencian ataupun membuka luka lama. Ia menyebut hal tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban moral sekaligus pendidikan sejarah bagi generasi muda.
“Saya berbicara bukan hanya karena saya anak Bung Karno. Saya berbicara sebagai warga bangsa, saya berbicara sebagai warga negara Indonesia,” tegasnya.
Megawati menambahkan, Bung Karno bukan hanya milik keluarga, melainkan bagian penting dari sejarah Indonesia dan dunia.
Ia juga mengungkap perjalanan panjang selama 57 tahun yang dilakukan keluarganya hingga akhirnya TAP MPRS Nomor 33 Tahun 1967 dicabut. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting mengenai keteguhan dalam mempertahankan kebenaran.
“Peristiwa itu mengajarkan satu hal kepada saya: bahwa kebenaran mungkin dapat ditunda, tetapi kebenaran itu tidak akan pernah kehilangan jalannya, dan kebenaran itu pasti menang!” tegas Megawati.
Selain berbicara mengenai sejarah, Megawati mengingatkan generasi penerus agar tidak mewariskan kebencian. Namun, ia juga meminta agar ketidakjujuran terhadap sejarah tidak dibiarkan terus berlangsung.
Menurut Megawati, nilai-nilai perjuangan Bung Karno, termasuk Trisakti dan Pancasila, harus terus dihidupkan. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi juga dinilai penting untuk memperkuat kedaulatan bangsa.
Dalam kesempatan yang sama, Megawati juga mengajak seluruh peserta upacara dan masyarakat Indonesia untuk mendoakan para korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Flores.
Ajakan tersebut disampaikan Megawati saat prosesi mengheningkan cipta dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
“Marilah kita mengucapkan doa bersama terutama untuk daerah Nusa Tenggara Timur terutama Flores. Kita doakan supaya mereka yang telah mengalami musibah untuk menguatkan dirinya,” ujar Megawati.
Ia juga mendoakan keluarga korban yang ditinggalkan agar diberikan kekuatan dalam menghadapi musibah.
“Dan bagi keluarga yang telah ditinggalkan oleh mereka-mereka yang merupakan terkena musibah gempa, kita doakan untuk mendapatkan tempat selayaknya di sisi Allah,” katanya.
Megawati kemudian menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh warga Flores dan NTT yang terdampak bencana gempa bumi.
“Seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai dan banggakan, saya secara khusus tadi kita telah berdoa bagi warga Flores, NTT dan berduka cita yang sedalam-dalamnya atas korban yang terjadi akibat gempa bumi yang sangat luar biasa,” pungkasnya.
(Yulianto)

























