SUARAINDONEWS. COM, JAKARTA – Proses pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, agar mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang berdaya saing di masa depan.
Sejumlah sarana dan tenaga pendidikan harus dipersiapkan dengan baik agar memiliki kapasitas, serta keterampilan yang mumpuni dalam beradaptasi.
Anggota Komisi X DPR RI yang juga Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/10), menegaskan bahwa dalam upaya beradaptasi dengan perkembangan zaman, digitalisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada penyediaan perangkat semata.
Dalam kegiatan reses pada Senin (19/10), di Kudus, Lestari meresmikan pelatihan literasi digital bagi para pendidik serta meninjau langsung kesiapan sejumlah sekolah.
Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, tanpa pemahaman yang utuh, teknologi justru berpotensi menjadi ancaman bagi peserta didik itu sendiri.
Pelatihan bertema “Implementasi Digitalisasi Pembelajaran untuk Meningkatkan Kualitas Proses Belajar Mengajar” yang digelar bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Kudus tersebut diikuti oleh ratusan guru, khususnya dari jenjang sekolah dasar di wilayah Demak, Kudus, dan Jepara .
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi digital di satuan pendidikan yang telah ditetapkan sebagai proyek strategis nasional,” ujar Rerie.
Dalam sambutannya, Rerie menyoroti realitas anak-anak yang kini tumbuh sebagai digital native.
Namun, kedekatan mereka dengan gawai, menurutnya, tidak serta-merta dibarengi dengan kecakapan menggunakan teknologi secara aman dan produktif. Ia mengingatkan bahwa peran guru, tidak tergantikan oleh kecerdasan artifisial (AI) sekalipun.
“Tanpa pemahaman yang utuh, ini bisa menjadi alat yang bisa jadi pisau yang menusuk diri kita sendiri,” tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
Ia menekankan bahwa literasi digital yang utuh bagi pendidik adalah prasyarat agar pemanfaatan teknologi berjalan aman dan efektif, bukan sekadar formalitas.
Sinergi antara DPR RI dan Kemendikdasmen dinilai krusial untuk mengatasi keterbatasan jangkauan wilayah serta infrastruktur di daerah.
Melalui pemetaan yang akurat bersama Wakil Rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah II tersebut, program pelatihan diharapkan dapat diintervensi secara tepat sasaran, tidak lagi bersifat seragam dari pusat.
Selain meresmikan pelatihan, Rerie menggunakan masa resesnya untuk mengunjungi sejumlah sekolah di Jepara dan Kudus. Ia meninjau pelaksanaan program revitalisasi fasilitas pendidikan di SMP 1 Mayong, SMA 1 Nalumsari, Jepara dan SMK NU Banat, Kudus.
Di SMK NU Banat, Kudus, ia mengapresiasi progres revitalisasi yang telah mencapai 60%. Ia secara khusus mengagumi karya desain busana dan kriya para siswi yang dinilainya memiliki kualitas tinggi.
“Bahkan, kalau tidak tahu itu produk desain Kudus, mungkin saya sudah mengira dari mancanegara,” ujarnya. Menurutnya, fasilitas praktik yang memadai adalah kunci agar kreativitas siswa terus terasah.
Sementara itu, di SMA 1 Nalumsari, persoalan klasik ruang kelas menjadi perhatian. Kepala Sekolah Rhokis Setiawati mengungkapkan bahwa sekolahnya memiliki 24 ruang kelas, sementara kebutuhan ideal mencapai 27 ruang.
Kekurangan tersebut memaksa pihak sekolah memanfaatkan laboratorium dan perpustakaan untuk kegiatan belajar mengajar. Rerie berharap, program revitalisasi yang tengah berjalan dapat segera menuntaskan kebutuhan sarana tersebut.
Rerie menegaskan bahwa fungsi pengawasan dan anggaran yang dimilikinya di Komisi X DPR RI difokuskan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan harus dibarengi dengan perawatan dan peningkatan kapasitas guru.
Rerie berharap, para guru yang telah mengikuti pelatihan dapat segera menerapkan pengetahuan yang diperoleh, sehingga digitalisasi benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan bagi peserta didik di wilayah tersebut.
(Akhirudin)
























