SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Jauh sebelum China dikenal sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, negeri tersebut telah memiliki posisi penting dalam catatan hubungan antara Asia Timur dan dunia Islam.
Salah satu ungkapan yang populer di kalangan umat Islam adalah “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Kalimat tersebut kerap dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW sebagai anjuran untuk mencari ilmu hingga ke tempat yang jauh.
Namun, dari sisi ilmu hadis, keabsahan ungkapan tersebut masih menjadi perdebatan. Sejumlah ulama hadis menilainya sebagai riwayat yang lemah dan tidak dapat dipastikan sebagai sabda Nabi Muhammad SAW.
Meski demikian, ungkapan itu memiliki konteks sejarah yang menarik. China pada masa tersebut telah dikenal sebagai wilayah dengan perkembangan ilmu pengetahuan, perdagangan, teknologi, dan peradaban yang cukup maju.
Dalam jurnal China-Arab Relations in the 60 Years’ Evolution (2018), Yang Fuchang menyebut ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa China telah memiliki reputasi yang cukup besar di kalangan masyarakat Arab pada masa itu.
Ketika Nabi Muhammad SAW hidup pada 570-632 Masehi, China memasuki salah satu periode penting dalam sejarahnya. Dinasti Tang berdiri pada 618 Masehi dan bertahan hingga 907 Masehi.
Dinasti tersebut didirikan oleh Li Yuan yang kemudian dikenal sebagai Kaisar Gaozu. Kemunculannya berlangsung pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan menjadi awal dari periode penting dalam perkembangan politik, ekonomi, perdagangan, serta kebudayaan China.
Di bawah pemerintahan Dinasti Tang, stabilitas politik dan ekonomi mulai diperkuat setelah periode pergolakan. Penyatuan wilayah dan berkembangnya aktivitas perdagangan turut mendorong pertumbuhan kekaisaran.
Periode Tang kemudian dikenal sebagai salah satu masa keemasan dalam sejarah China. Kota-kota besar berkembang menjadi pusat perdagangan dan pertukaran budaya, sementara hubungan China dengan berbagai wilayah di Asia semakin intensif.
Jalur Sutra dan Perdagangan Internasional
Kemajuan China pada era Dinasti Tang tidak terlepas dari aktivitas perdagangan internasional. Berbagai komoditas seperti sutra, keramik, kertas dan kain menjadi barang yang diperdagangkan ke berbagai wilayah.
Perdagangan berlangsung melalui jalur darat maupun laut. Jalur Sutra menghubungkan China dengan Asia Tengah hingga kawasan Timur Tengah, sedangkan jalur maritim menghubungkan pelabuhan-pelabuhan China dengan jaringan perdagangan internasional.
Interaksi tersebut tidak hanya membawa perpindahan barang. Pedagang dari berbagai wilayah juga membawa pengetahuan, teknologi, kebudayaan, serta gagasan dari satu peradaban ke peradaban lainnya.
Hubungan perdagangan tersebut menjadi salah satu jalur yang mempertemukan China dengan dunia Arab.
Makkah, tempat Nabi Muhammad SAW hidup, pada masa itu juga merupakan bagian dari jaringan perdagangan di Jazirah Arab. Posisi Makkah sebagai kota dagang membuat masyarakatnya mengenal berbagai wilayah yang berada jauh di luar Jazirah Arab.
China menjadi salah satu negeri yang dikenal melalui informasi mengenai kekayaan, produk perdagangan dan perkembangan peradabannya.
Jarak geografis yang sangat jauh tidak sepenuhnya menghalangi pertukaran informasi. Jalur perdagangan memungkinkan kabar mengenai berbagai wilayah Asia sampai ke kawasan Timur Tengah.
Jejak Awal Islam di China
Hubungan antara Islam dan China juga berkembang melalui sejumlah tradisi mengenai kedatangan para sahabat Nabi Muhammad SAW ke China.
Salah satu nama yang sering dikaitkan dengan sejarah awal Islam di China adalah Sa’ad bin Abi Waqqas. Dalam sejumlah tradisi Muslim di China, ia disebut pernah melakukan perjalanan ke negeri tersebut untuk menyebarkan ajaran Islam.
Namun, kisah tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Bukti sejarah yang kuat mengenai perjalanan Sa’ad bin Abi Waqqas ke China pada masa tersebut belum dapat dipastikan.
Sementara itu, keberadaan pedagang dan utusan Muslim di China pada masa Dinasti Tang memiliki dasar sejarah yang lebih kuat. Hubungan tersebut berkembang melalui jalur perdagangan darat dan laut, termasuk melalui kota pelabuhan seperti Guangzhou.
Kontak antara pedagang Muslim dan masyarakat China kemudian menjadi bagian dari proses panjang terbentuknya komunitas Muslim di negeri tersebut.
Dari Jalur Sutra ke Ekonomi Global
Berabad-abad setelah masa kejayaan Dinasti Tang, China kembali menempati posisi penting dalam percaturan dunia.
Jika pada masa lalu pengaruh China banyak terlihat melalui perdagangan sutra, keramik dan komoditas lainnya, kini kekuatan tersebut berkembang melalui manufaktur, teknologi, investasi, energi, infrastruktur dan industri strategis.
Dalam beberapa dekade terakhir, China berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur utama dunia. Produk-produk dari negara tersebut tersebar ke berbagai pasar internasional, sementara perusahaan dan investasinya menjadi bagian dari rantai pasok global.
Perkembangan teknologi dan industri juga memperluas peran China dalam perekonomian dunia.
Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa hubungan China dengan berbagai kawasan dunia bukanlah fenomena baru. Jaringan perdagangan yang berkembang sejak berabad-abad lalu telah menjadi salah satu jalur pertukaran barang, pengetahuan dan kebudayaan antarmasyarakat.
Ungkapan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, terlepas dari perdebatan mengenai status hadisnya, kemudian memiliki konteks sejarah yang menarik.
China telah lama dikenal dalam hubungan lintas peradaban, termasuk dengan dunia Islam. Dari jalur perdagangan dan pusat-pusat peradaban pada masa Dinasti Tang, China kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi yang memiliki pengaruh luas di dunia modern.
(
SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Jauh sebelum China dikenal sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, negeri tersebut telah memiliki posisi penting dalam catatan hubungan antara Asia Timur dan dunia Islam.
Salah satu ungkapan yang populer di kalangan umat Islam adalah “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Kalimat tersebut kerap dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW sebagai anjuran untuk mencari ilmu hingga ke tempat yang jauh.
Namun, dari sisi ilmu hadis, keabsahan ungkapan tersebut masih menjadi perdebatan. Sejumlah ulama hadis menilainya sebagai riwayat yang lemah dan tidak dapat dipastikan sebagai sabda Nabi Muhammad SAW.
Meski demikian, ungkapan itu memiliki konteks sejarah yang menarik. China pada masa tersebut telah dikenal sebagai wilayah dengan perkembangan ilmu pengetahuan, perdagangan, teknologi, dan peradaban yang cukup maju.
Dalam jurnal China-Arab Relations in the 60 Years’ Evolution (2018), Yang Fuchang menyebut ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa China telah memiliki reputasi yang cukup besar di kalangan masyarakat Arab pada masa itu.
Ketika Nabi Muhammad SAW hidup pada 570-632 Masehi, China memasuki salah satu periode penting dalam sejarahnya. Dinasti Tang berdiri pada 618 Masehi dan bertahan hingga 907 Masehi.
Dinasti tersebut didirikan oleh Li Yuan yang kemudian dikenal sebagai Kaisar Gaozu. Kemunculannya berlangsung pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan menjadi awal dari periode penting dalam perkembangan politik, ekonomi, perdagangan, serta kebudayaan China.
Di bawah pemerintahan Dinasti Tang, stabilitas politik dan ekonomi mulai diperkuat setelah periode pergolakan. Penyatuan wilayah dan berkembangnya aktivitas perdagangan turut mendorong pertumbuhan kekaisaran.
Periode Tang kemudian dikenal sebagai salah satu masa keemasan dalam sejarah China. Kota-kota besar berkembang menjadi pusat perdagangan dan pertukaran budaya, sementara hubungan China dengan berbagai wilayah di Asia semakin intensif.
Jalur Sutra dan Perdagangan Internasional
Kemajuan China pada era Dinasti Tang tidak terlepas dari aktivitas perdagangan internasional. Berbagai komoditas seperti sutra, keramik, kertas dan kain menjadi barang yang diperdagangkan ke berbagai wilayah.
Perdagangan berlangsung melalui jalur darat maupun laut. Jalur Sutra menghubungkan China dengan Asia Tengah hingga kawasan Timur Tengah, sedangkan jalur maritim menghubungkan pelabuhan-pelabuhan China dengan jaringan perdagangan internasional.
Interaksi tersebut tidak hanya membawa perpindahan barang. Pedagang dari berbagai wilayah juga membawa pengetahuan, teknologi, kebudayaan, serta gagasan dari satu peradaban ke peradaban lainnya.
Hubungan perdagangan tersebut menjadi salah satu jalur yang mempertemukan China dengan dunia Arab.
Makkah, tempat Nabi Muhammad SAW hidup, pada masa itu juga merupakan bagian dari jaringan perdagangan di Jazirah Arab. Posisi Makkah sebagai kota dagang membuat masyarakatnya mengenal berbagai wilayah yang berada jauh di luar Jazirah Arab.
China menjadi salah satu negeri yang dikenal melalui informasi mengenai kekayaan, produk perdagangan dan perkembangan peradabannya.
Jarak geografis yang sangat jauh tidak sepenuhnya menghalangi pertukaran informasi. Jalur perdagangan memungkinkan kabar mengenai berbagai wilayah Asia sampai ke kawasan Timur Tengah.
Jejak Awal Islam di China
Hubungan antara Islam dan China juga berkembang melalui sejumlah tradisi mengenai kedatangan para sahabat Nabi Muhammad SAW ke China.
Salah satu nama yang sering dikaitkan dengan sejarah awal Islam di China adalah Sa’ad bin Abi Waqqas. Dalam sejumlah tradisi Muslim di China, ia disebut pernah melakukan perjalanan ke negeri tersebut untuk menyebarkan ajaran Islam.
Namun, kisah tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Bukti sejarah yang kuat mengenai perjalanan Sa’ad bin Abi Waqqas ke China pada masa tersebut belum dapat dipastikan.
Sementara itu, keberadaan pedagang dan utusan Muslim di China pada masa Dinasti Tang memiliki dasar sejarah yang lebih kuat. Hubungan tersebut berkembang melalui jalur perdagangan darat dan laut, termasuk melalui kota pelabuhan seperti Guangzhou.
Kontak antara pedagang Muslim dan masyarakat China kemudian menjadi bagian dari proses panjang terbentuknya komunitas Muslim di negeri tersebut.
Dari Jalur Sutra ke Ekonomi Global
Berabad-abad setelah masa kejayaan Dinasti Tang, China kembali menempati posisi penting dalam percaturan dunia.
Jika pada masa lalu pengaruh China banyak terlihat melalui perdagangan sutra, keramik dan komoditas lainnya, kini kekuatan tersebut berkembang melalui manufaktur, teknologi, investasi, energi, infrastruktur dan industri strategis.
Dalam beberapa dekade terakhir, China berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur utama dunia. Produk-produk dari negara tersebut tersebar ke berbagai pasar internasional, sementara perusahaan dan investasinya menjadi bagian dari rantai pasok global.
Perkembangan teknologi dan industri juga memperluas peran China dalam perekonomian dunia.
Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa hubungan China dengan berbagai kawasan dunia bukanlah fenomena baru. Jaringan perdagangan yang berkembang sejak berabad-abad lalu telah menjadi salah satu jalur pertukaran barang, pengetahuan dan kebudayaan antarmasyarakat.
Ungkapan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, terlepas dari perdebatan mengenai status hadisnya, kemudian memiliki konteks sejarah yang menarik.
China telah lama dikenal dalam hubungan lintas peradaban, termasuk dengan dunia Islam. Dari jalur perdagangan dan pusat-pusat peradaban pada masa Dinasti Tang, China kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi yang memiliki pengaruh luas di dunia modern.
(Riana P)

























