SUARAINDONEWS.COM, Lombok Tengah – Alunan Gendang Beleq dan Ceng-ceng terdengar meriah saat mengiringi rombongan wisatawan yang melintas di depan lapak pedagang lokal di Desa Adat Ende, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tradisi penyambutan tersebut bukan sekadar hiburan bagi wisatawan. Di balik pertunjukan musik tradisional itu, ada upaya warga mengenalkan budaya Sasak sekaligus menggerakkan perekonomian lokal melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan sektor pariwisata.
Wisatawan yang datang tidak hanya diajak menikmati suasana desa adat dan melihat kehidupan masyarakat Sasak, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan para pelaku UMKM serta membeli berbagai produk lokal.
Konsepnya sederhana: wisatawan datang, budaya dikenalkan, warga ikut mendapatkan pemasukan. Jadi, bukan cuma kamera wisatawan yang bekerja, dompet juga ikut dibuka.

Salah satu aktivitas ekonomi kreatif yang menjadi daya tarik adalah kerajinan tenun tradisional. Seorang perajin tenun Suku Sasak memperlihatkan keahliannya menggunakan alat tenun tradisional di pelataran rumah adat Desa Ende.
Interaksi langsung antara perajin dan wisatawan menjadi bagian penting dari pengalaman berkunjung. Wisatawan dapat melihat proses pembuatan kain secara langsung, sekaligus mengenal nilai budaya yang terkandung dalam setiap hasil tenunan.
Bagi masyarakat setempat, keterampilan menenun tidak hanya menjadi warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan keluarga.
Selain kerajinan tenun, warga juga mengembangkan produk olahan hasil kebun. Sejumlah hasil pertanian dan perkebunan diolah menjadi produk lokal yang kemudian dapat menjadi buah tangan bagi wisatawan.
Seorang warga terlihat menjemur hasil kebun yang telah diolah di area Desa Adat Ende. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi produk UMKM yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkenalkan cita rasa dan kekhasan daerah kepada wisatawan.
Dengan demikian, pariwisata tidak hanya memberikan keuntungan bagi sektor akomodasi dan jasa perjalanan. Kehadiran wisatawan juga membuka peluang bagi pedagang, perajin, pengolah pangan, pemandu wisata hingga pelaku usaha kecil lainnya.
Desa Adat Ende menjadi salah satu gambaran bagaimana kebudayaan dan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan. Tradisi tetap dipertahankan, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk mengembangkan usaha.
Kawasan permukiman adat Suku Sasak tersebut juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melihat langsung kehidupan masyarakat setempat. Rumah tradisional Sasak yang disebut Bale menjadi salah satu bagian penting dari kawasan ini.
Bale dibangun menggunakan material alami, seperti tiang kayu, anyaman bambu dan atap ilalang kering. Arsitektur tersebut menjadi bagian dari identitas budaya Sasak yang masih dipertahankan hingga kini.

Berbagai tradisi masyarakat Sasak juga menjadi daya tarik wisata, di antaranya Merariq atau perkawinan adat serta Peresean, yakni kesenian ketangkasan menggunakan pemukul rotan dan perisai kulit kerbau.
Kehadiran wisatawan memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai tradisi tersebut secara langsung. Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi warga dapat ikut tumbuh melalui penjualan produk lokal dan jasa wisata.
Desa Adat Ende berjarak sekitar 15 hingga 25 menit perjalanan darat dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Pemerintah setempat tidak memberlakukan tarif tiket masuk resmi, tetapi wisatawan dapat memberikan sumbangan secara sukarela untuk mendukung pemeliharaan dan operasional desa.
Bagi masyarakat Sasak, pariwisata bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan. Lebih dari itu, sektor ini menjadi ruang untuk menjaga tradisi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ketika wisatawan datang, budaya diperkenalkan, produk lokal ikut terjual, dan UMKM mendapatkan pasar baru. Tradisi tetap hidup, ekonomi warga pun ikut bergerak.
(Yulianto)
























