SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) masih bertahan di atas US$4 per galon di tengah perang AS-Israel dengan Iran yang terus mengganggu arus energi global.
Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga bensin rata-rata nasional AS berada di kisaran US$4 per galon pada akhir Agustus 2026. Kondisi tersebut membuat Agustus berpotensi menjadi salah satu periode Agustus termahal dalam sejarah harga BBM AS.
Kenaikan harga paling terasa di sejumlah negara bagian. California menjadi wilayah dengan harga bensin tertinggi. Pada 20 Agustus, rata-rata harga bensin reguler di negara bagian tersebut mencapai US$5,58 per galon, disusul Hawaii US$5,42 dan Washington US$5,24.
Harga di California bahkan kembali meningkat menjelang akhir bulan. Laporan 29 Agustus menyebut rata-rata harga bensin di negara bagian tersebut mencapai sekitar US$5,66 per galon.
Kondisi ini tidak terlepas dari gejolak pasar minyak akibat perang Iran. Selat Hormuz menjadi titik krusial karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
Reuters melaporkan konflik yang telah berlangsung sekitar enam bulan tersebut membuat pasar energi global terus menghadapi ketidakpastian. Gangguan terhadap jalur perdagangan minyak membuat harga energi tetap berada pada level tinggi meskipun sebagian arus pengiriman mulai kembali bergerak.
Dampaknya langsung terasa di tingkat konsumen. Harga BBM yang tinggi meningkatkan biaya perjalanan dan transportasi rumah tangga sekaligus berpotensi mendorong kenaikan harga berbagai barang dan jasa.
Presiden Donald Trump bahkan sebelumnya meminta masyarakat AS menerima harga bensin yang lebih tinggi sebagai konsekuensi dari kebijakan menghadapi Iran. Pernyataan tersebut muncul ketika harga BBM menjadi salah satu persoalan ekonomi yang semakin sensitif secara politik.
Tekanan tersebut membuat pemerintah AS mulai mencari cara untuk menahan harga BBM. Gedung Putih dilaporkan mendorong pemberian pengecualian lebih besar bagi kilang minyak kecil dari kewajiban pencampuran bahan bakar nabati untuk membantu menekan biaya bahan bakar. EPA sedang meninjau puluhan permohonan pengecualian tersebut.
Trump juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah perusahaan penyulingan dan penjual BBM untuk membahas tingginya harga bensin. Langkah tersebut dilakukan ketika kenaikan harga bahan bakar mulai memberikan tekanan politik menjelang pemilu sela Kongres AS pada November.
Masalahnya, tekanan energi tidak berhenti pada bensin. Gangguan distribusi minyak juga berdampak terhadap solar, bahan bakar pesawat, hingga produk petrokimia yang digunakan dalam berbagai kebutuhan industri.
Reuters mencatat hampir separuh aliran minyak dunia pada 2026 berasal dari negara-negara yang terdampak konflik. Situasi tersebut menunjukkan betapa besar risiko geopolitik terhadap stabilitas pasokan dan harga energi global.
Dengan perang yang belum menunjukkan penyelesaian permanen, harga BBM AS masih berpotensi mengalami tekanan. Bagi masyarakat AS, persoalannya kini bukan lagi sekadar harga bensin di SPBU, tetapi bagaimana mahalnya energi merembet ke biaya hidup sehari-hari.
Krisis energi akibat konflik Iran pun menjadi salah satu ujian ekonomi terbesar pemerintahan Trump, terutama ketika masyarakat mulai merasakan langsung dampaknya di pompa bensin.
(Rizki Fadillah)

























