SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), tokoh NU Idrus Marham menggelar bedah buku berjudul “Nahdlatul Ulama dan Tantangan Peradaban: Memantapkan Arah, Menata Kepemimpinan, Membangun Masa Depan Nahdlatul Ulama” di Cikini, Jakarta, Senin (24/8/2026).
Buku tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus kontribusi pemikiran untuk melihat kembali perjalanan NU dan membahas arah kepemimpinan serta peran organisasi dalam memasuki abad kedua.
Idrus Marham mengatakan, buku yang ditulisnya merupakan respons terhadap dinamika yang berkembang di tubuh NU, khususnya menjelang Muktamar ke-35 yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
“Buku ini adalah kontribusi sebagai respons terhadap realitas yang ada dalam rangka menghadapi Muktamar 35 pada akhir bulan ini dan memasuki abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama,” ujar Idrus.
Dalam buku tersebut, Idrus mengulas perjalanan NU sejak masa para pendiri, mulai dari proses pembelajaran, pembentukan pemikiran hingga peran NU sebagai salah satu kekuatan penggerak kehidupan masyarakat.
Menurutnya, NU sejak awal tidak hanya hadir untuk menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam membangun kehidupan kebangsaan dan peradaban.
Karena itu, Idrus menilai NU perlu terus melahirkan gagasan-gagasan baru agar mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi berbagai kelompok pemikiran di lingkungan NU, termasuk kelompok tajdidiyah, wasatiyah, dan asabiyah. Kolaborasi berbagai perspektif tersebut dinilai penting untuk melahirkan pemikiran inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Bedah buku tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh yang memiliki latar belakang dan pengalaman dalam pergerakan NU. Forum diskusi diharapkan dapat memperkaya perspektif terhadap gagasan yang dituangkan Idrus dalam bukunya sekaligus menjadi bahan refleksi menjelang Muktamar ke-35.
Sebelumnya, panitia penyelenggara menyebut peluncuran dan diskusi buku ini tidak sekadar diarahkan sebagai kegiatan literasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membahas tantangan NU dalam memasuki abad kedua. Sejumlah isu yang dinilai perlu mendapat perhatian antara lain transformasi digital dan kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, ketimpangan sosial, geopolitik, krisis lingkungan serta perubahan karakter generasi muda.
Melalui buku tersebut, Idrus berharap pembahasan mengenai masa depan NU tidak hanya berkutat pada persoalan organisasi maupun figur kepemimpinan.
Lebih jauh, dinamika menjelang Muktamar ke-35 diharapkan dapat melahirkan gagasan strategis yang mampu memperkuat peran NU dalam bidang keagamaan, kebangsaan, pendidikan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat dan pembangunan peradaban.
Dengan memasuki abad kedua, NU dinilai memiliki tantangan untuk menjadikan pengalaman sejarah dan kekuatan sosial yang telah dibangun selama lebih dari satu abad sebagai modal dalam menjawab berbagai persoalan baru di masa depan.
(Yulianto)
























