SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Aksi jual di pasar obligasi global kembali berlanjut. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi, tingginya harga energi, pertumbuhan ekonomi AS, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar.
Yield Treasury AS tenor 30 tahun mencapai 5,48 persen pada Kamis (24/9/2026). Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2004. Sementara yield Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,20 persen.
Kenaikan yield menunjukkan harga obligasi mengalami tekanan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari aksi jual di pasar surat utang global yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Salah satu perhatian utama investor adalah meningkatnya biaya energi yang berpotensi menjaga tekanan inflasi. Di saat yang sama, perekonomian AS masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif kuat sehingga pasar terus menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Yield 10 Tahun Jadi Sorotan
Yield Treasury AS tenor 10 tahun menjadi perhatian karena kembali berada di atas level 5 persen. Pasar kini mulai mencermati level 6 persen sebagai ambang berikutnya yang dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya pembiayaan pemerintah, perusahaan dan rumah tangga.
Kenaikan yield juga mulai tercermin pada sektor perumahan AS. Suku bunga hipotek 30 tahun berada di sekitar 7 persen, atau sekitar satu poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, serta berada di kisaran tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Sejak pertemuan kebijakan The Fed pada Juni, yield Treasury 10 tahun telah meningkat sekitar 0,70 poin persentase. Jika dihitung sejak awal Maret, kenaikannya mencapai sekitar 1,25 poin persentase.
Kepala Strategi Suku Bunga AS di TD Securities, Gennadiy Goldberg, mengatakan sebagian besar kenaikan yield sejak Maret berkaitan dengan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
“Sebagian besar kenaikan imbal hasil sejak Maret didorong oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, sementara sisanya didorong oleh kombinasi antara ekspektasi pertumbuhan yang meningkat dan harga minyak yang lebih tinggi,” ujar Goldberg dalam catatan risetnya, dikutip Reuters.
Data aktivitas bisnis terbaru yang menunjukkan ekonomi AS masih tumbuh kuat, bersamaan dengan tekanan inflasi, turut membuat investor memperhatikan kemungkinan arah suku bunga The Fed ke depan.
Ekonomi AS Masih Kuat
Berbeda dengan obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, yield Treasury tenor 30 tahun mencerminkan imbal hasil yang diminta investor untuk memberikan pembiayaan kepada pemerintah AS dalam jangka panjang.
Kepala Strategi Investment Grade dan Makro di CreditSights, Zachary Griffiths, mengatakan kenaikan yield juga mencerminkan penyesuaian harga terhadap kondisi ekonomi AS yang masih relatif kuat.
“Kita melihat adanya penyesuaian harga pada beberapa hal—pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh, dan itu menjadi alasan yang lebih positif mengapa kita berada dalam lingkungan suku bunga bebas risiko yang lebih tinggi,” kata Griffiths.
Pasar saham AS sejauh ini masih mampu menyerap kenaikan yield. Pertumbuhan ekonomi, peningkatan laba perusahaan dan besarnya investasi terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih menjadi salah satu penopang sentimen investor.
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi bahkan sempat mencetak rekor tertinggi pada Selasa (22/9/2026).
Namun, yield obligasi yang semakin tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan bagi pemerintah, perusahaan maupun rumah tangga.
Tekanan Menjalar ke Obligasi Global
Tekanan pasar obligasi tidak hanya terjadi di AS. Sejumlah negara ekonomi besar juga menghadapi kenaikan biaya pembiayaan di tengah meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah.
Di Jerman, kebutuhan pinjaman pemerintah federal diperkirakan mencapai €525,5 miliar pada 2026, terutama untuk pembiayaan kembali utang dan kebutuhan pendanaan lainnya.
Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun bahkan sempat menembus 3,6 persen bulan ini, level tertinggi dalam 17 tahun.
Sementara di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada Kamis (24/9/2026) mencapai level tertinggi sejak 1996.
Kenaikan yield di berbagai negara menunjukkan investor global sedang menyesuaikan kembali harga obligasi terhadap kondisi suku bunga, inflasi, pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Pasar Mulai Melirik Level 6 Persen
Perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada level 5 persen. Pasar mulai mencermati kemungkinan yield Treasury 10 tahun bergerak menuju 6 persen.
Level tersebut akan menjadi perubahan signifikan bagi pasar Treasury AS yang memiliki nilai sekitar US$29 triliun. Kenaikan yield juga berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah AS dan memberikan tekanan terhadap berbagai aset berisiko.
Ahli Strategi Pasar Global SMBC EMEA, Hank Calenti, mengatakan Treasury AS harus bersaing dengan berbagai instrumen investasi lain untuk menarik pembeli.
“Obligasi pemerintah AS bersaing dengan instrumen pasar lainnya untuk mendapatkan pembeli, jadi pertanyaannya adalah, seberapa tinggi lagi imbal hasilnya bisa naik?” ujar Calenti.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams pada Kamis juga mengatakan perekonomian AS menunjukkan ketahanan yang kuat.
Di tengah kondisi tersebut, investor masih menunggu arah kebijakan The Fed dan perkembangan inflasi serta harga energi. Sementara itu, kenaikan yield obligasi AS terus menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya pinjaman dan kondisi pasar keuangan di berbagai negara.
Dengan Treasury AS menjadi salah satu acuan utama pasar keuangan global, pergerakan yield yang semakin tinggi berpotensi ikut memengaruhi bunga kredit, pembiayaan perusahaan, pasar saham, nilai tukar dan arus modal ke negara berkembang.
(Kiki Apriyansyah)

























