SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Indonesia bersiap membangun infrastruktur kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam skala jumbo. AI Factory dengan target kapasitas hingga 1 gigawatt (GW) akan mulai dikembangkan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 2027.
Proyek tersebut menjadi bagian dari Zankore by Indosat, ekosistem AI yang dikembangkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat komputasi dan pengembangan AI di kawasan Asia Tenggara.
Tahap awal pembangunan ditargetkan dimulai pada semester I 2027 dengan kapasitas sekitar 200 megawatt (MW). Kapasitas itu kemudian akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 1 GW dalam sekitar tiga tahun.
Skala tersebut terbilang jumbo. Namun, angka 1 GW perlu dipahami sebagai target kapasitas infrastruktur AI, bukan berarti fasilitas tersebut akan terus-menerus mengonsumsi listrik sebesar 1 GW sepanjang waktu.
Bukan Sekadar Data Center
AI Factory ini dirancang bukan sekadar sebagai gudang server. Infrastruktur tersebut akan menggabungkan komputasi AI berperforma tinggi, jaringan, penyimpanan data, hingga layanan komputasi yang dapat digunakan perusahaan, pemerintah, pengembang dan berbagai sektor lainnya.
Fasilitas tersebut juga diproyeksikan menggunakan teknologi komputasi terbaru dari NVIDIA, termasuk platform GB300 NVL72.
Dalam satu sistem GB300 NVL72 terdapat 72 GPU NVIDIA Blackwell Ultra dan 36 CPU NVIDIA Grace. Sistem tersebut dirancang untuk menangani beban kerja AI dengan kebutuhan komputasi sangat besar.
Dengan ribuan GPU yang beroperasi dalam satu fasilitas berskala ratusan megawatt, kebutuhan terhadap listrik dan sistem pendinginan otomatis ikut melonjak.
Investasi Bisa Tembus US$50 Miliar
Skala proyek ini juga tercermin dari kebutuhan investasinya.
Sejumlah kajian yang dikutip dalam pemberitaan memperkirakan pembangunan AI Factory secara end-to-end membutuhkan sekitar US$50 juta per MW. Jika kapasitas akhirnya mencapai 1.000 MW, kebutuhan investasi secara indikatif dapat mencapai sekitar US$50 miliar.
Namun, angka tersebut bukan berarti seluruh dana langsung digelontorkan pada tahap awal.
Untuk fase awal sekitar 200 MW, investasi yang disebut berada di kisaran US$8–9 miliar, sedangkan pengembangan menuju kapasitas penuh dilakukan secara bertahap.
Listrik Jadi Tantangan Besar
Di balik ambisi membangun AI Factory raksasa, ada satu persoalan yang tidak kalah penting: energi.
Pemerintah Kabupaten Batang sebelumnya menyebut kepastian pasokan energi dan kebutuhan tenaga kerja sebagai bagian penting yang harus dipersiapkan untuk mendukung proyek tersebut.
Hal ini masuk akal karena pusat komputasi AI membutuhkan pasokan listrik yang stabil sekaligus sistem pendinginan berkapasitas tinggi.
Dokumentasi NVIDIA menunjukkan satu sistem GB300 NVL72 saja dapat membutuhkan daya hingga sekitar 142 kilowatt. Jika jumlah sistem mencapai skala besar, kebutuhan daya dan infrastruktur pendukungnya tentu ikut meningkat.
Karena itu, pengembangan AI Factory bukan cuma soal mendatangkan GPU. Pemerintah dan pengembang juga harus memastikan jaringan listrik, pendinginan, konektivitas, keamanan data serta keandalan operasional siap menopang fasilitas tersebut.
Ada Sahabat-AI
AI Factory Zankore juga diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan Sahabat-AI, model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) Indonesia.
Sahabat-AI dikembangkan untuk memahami Bahasa Indonesia sekaligus sejumlah bahasa daerah. Model tersebut dirancang untuk memperluas pemanfaatan AI di Indonesia, termasuk bagi pemerintah, pelaku usaha, pengembang aplikasi dan masyarakat.
Pemerintah juga mendorong pengembangan talenta AI melalui kolaborasi industri dan perguruan tinggi, termasuk pendirian AI Technology Center bersama Indosat, NVIDIA dan Universitas Gadjah Mada.
Indonesia Kejar Posisi Pusat AI ASEAN
Dengan proyek tersebut, Indonesia tidak hanya mengejar pembangunan pusat data berkapasitas besar. Pemerintah dan industri ingin membangun ekosistem AI dari sisi infrastruktur, komputasi, model bahasa, talenta hingga aplikasi.
Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, tahap awal AI Factory akan mulai dibangun di Batang pada 2027 sebelum kapasitasnya diperbesar secara bertahap.
Namun, tantangan besarnya tetap sama: bagaimana memastikan ambisi menjadi pusat AI kawasan berjalan beriringan dengan kesiapan listrik, infrastruktur, sumber daya manusia dan kebutuhan energi masyarakat di sekitar kawasan.
Dengan kata lain, membangun AI Factory 1 GW bukan cuma perkara punya ribuan chip canggih. Infrastruktur energinya juga harus siap mengimbangi ambisi komputasinya.
(Purwantiningsih)

























