SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, dinilai tidak seharusnya hanya menjadi forum untuk memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Ketua Umum DNIKS sekaligus Anggota DPR/MPR RI 1999–2013, Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, menilai Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk menentukan arah NU memasuki abad kedua.
Menurutnya, pertanyaan utama bukan hanya mengenai siapa yang akan memimpin NU, tetapi ke mana organisasi tersebut akan dibawa dalam menghadapi perubahan zaman.
“Pemimpin datang dan pergi. Kepengurusan berganti. Tetapi NU membawa amanah sejarah yang jauh lebih panjang daripada usia sebuah kepengurusan,” tulis Ahmad Effendy Choirie dalam pandangannya.
Ia mengibaratkan filosofi “Tali Jagat” sebagai gambaran perjalanan NU. Tali berfungsi mengikat agar tidak tercerai-berai, sementara jaring menjangkau ruang yang lebih luas.
Dalam konteks NU, tali tersebut menjadi simbol pengikat sanad, tradisi, nilai, pesantren dan warisan para pendiri NU. Sementara jaring menggambarkan kemampuan NU menjangkau ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, perubahan sosial, geopolitik hingga perkembangan peradaban.
Ahmad Effendy Choirie mengaitkan hal tersebut dengan prinsip yang selama ini dikenal dalam khazanah NU, yakni al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yang berarti mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
Menurut dia, prinsip tersebut bukan sekadar ungkapan, tetapi dapat menjadi metodologi perubahan bagi NU.
“NU tidak boleh menjadi organisasi yang hanya pandai menjaga masa lalu. Namun, NU juga tidak boleh begitu terpesona kepada masa depan sehingga tercerabut dari akar sejarah, tradisi, dan jati dirinya,” tulisnya.
Ia menegaskan NU harus mampu menjaga akar tradisinya sekaligus berkembang menghadapi tantangan abad kedua.
Pesan dari Tambakberas
Pemilihan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai lokasi Muktamar ke-35 dinilai memiliki makna sejarah bagi perjalanan NU.
Dari lingkungan Tambakberas lahir KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh penting pendiri NU yang dikenal tidak hanya sebagai ulama pesantren, tetapi juga pemikir, organisator, penggerak ekonomi, pejuang kebangsaan dan diplomat umat.
Ahmad Effendy Choirie mengingatkan sejumlah gerakan yang pernah dibangun para pendiri NU, seperti Tashwirul Afkar sebagai ruang pemikiran dan pendidikan, Nahdlatut Tujjar untuk menggerakkan ekonomi, Syubbanul Wathan untuk membangun kesadaran generasi muda dan kebangsaan, serta Komite Hijaz.
Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa para pendiri NU bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi pembaru pada zamannya.
“Mereka menjaga kitab kuning, tetapi membaca perubahan dunia. Mereka mempertahankan mazhab, tetapi melakukan diplomasi internasional. Mereka hidup di pesantren, tetapi membangun organisasi modern,” tulisnya.
Karena itu, kembali ke Tambakberas dinilai bukan sekadar kembali ke sebuah tempat, melainkan kembali kepada keberanian, kemandirian, kesederhanaan, kecerdasan dan orientasi kemaslahatan yang diwariskan para pendiri NU.
Tradisi Jangan Menjadi Fosil
Tradisi menjadi salah satu kekuatan utama NU. Pesantren, sanad keilmuan, kitab kuning, bahtsul masail, tahlil, istighotsah, manaqib, maulid, ziarah kubur, musyawarah dan gotong royong menjadi bagian dari karakter sosial-keagamaan warga NU.
Namun, menurut Ahmad Effendy Choirie, menjaga tradisi tidak berarti membekukannya.
Tradisi yang hanya dipajang tanpa mampu menjawab persoalan zaman berisiko kehilangan daya transformasi.
Ia menilai kata “shalih” dalam prinsip al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih menunjukkan bahwa tidak semua hal lama harus dipertahankan secara otomatis.
Begitu pula dengan wal akhdzu bil jadidil ashlah. Hal baru tidak harus diterima seluruhnya. Yang perlu diambil adalah sesuatu yang lebih baik dan membawa kemaslahatan.
Dengan pendekatan tersebut, NU dinilai dapat menjadikan tradisi sebagai fondasi untuk membangun modernitas yang tetap memiliki nilai dan moralitas.
NU dan Tantangan Abad Kedua
Memasuki abad kedua, NU menghadapi perubahan besar yang berbeda dibandingkan masa awal berdirinya. Kecerdasan buatan, revolusi digital, bioteknologi, perubahan iklim, energi baru, transformasi dunia kerja, ekonomi digital, perubahan demografi dan geopolitik menjadi tantangan baru.
Menurut Ahmad Effendy Choirie, NU tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi dan media sosial.
NU juga membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai berbagai bidang, mulai dari ilmu data, kecerdasan buatan, kedokteran, teknik, ekonomi, pangan, energi, lingkungan, diplomasi, kewirausahaan hingga penelitian.
“Kitab kuning dan teknologi tidak perlu dipertentangkan. Sanad dan sains tidak boleh dipisahkan,” tulisnya.
Ia menilai generasi santri tetap perlu mempelajari khazanah keislaman klasik, tetapi pada saat yang sama harus menguasai matematika, sains, ekonomi, bahasa asing, teknologi digital dan perkembangan dunia.
Dari Politik Jabatan ke Politik Kemaslahatan
Muktamar tentu akan menentukan kepemimpinan NU. Namun, Ahmad Effendy Choirie mengingatkan agar energi organisasi tidak habis hanya untuk membahas perebutan jabatan.
Menurutnya, pertanyaan penting setelah Muktamar adalah sejauh mana perubahan yang dihasilkan bagi kehidupan umat.
Mulai dari pendidikan warga NU, kemajuan pesantren, kesejahteraan petani dan nelayan, lapangan kerja bagi generasi muda, pengentasan kemiskinan hingga perlindungan terhadap kelompok rentan.
“Politik kekuasaan harus ditempatkan di bawah politik kemaslahatan. Kekuasaan adalah instrumen, bukan tujuan. Jabatan adalah sarana pengabdian, bukan akhir perjuangan,” tulisnya.
Ia juga menilai tema Muktamar ke-35, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, harus diwujudkan melalui integritas, independensi dan pelayanan nyata kepada masyarakat.
Mendorong Kemandirian Ekonomi
Menurut Ahmad Effendy Choirie, salah satu tantangan besar NU pada abad kedua adalah mengubah kekuatan sosial menjadi kekuatan kesejahteraan.
NU memiliki jaringan pesantren, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga zakat, pengusaha, profesional, akademisi serta struktur organisasi hingga tingkat desa.
Jaringan tersebut dinilai dapat diperkuat menjadi ekosistem pemberdayaan ekonomi.
Pesantren, misalnya, tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Koperasi pesantren dapat menghubungkan petani dengan pasar, perguruan tinggi menyediakan riset dan teknologi, sementara pengusaha Nahdliyin memperluas jaringan produksi dan pemasaran.
NU juga dinilai dapat memperkuat gerakan pengentasan kemiskinan berbasis keluarga dengan pemetaan kondisi masyarakat secara lebih terukur.
“Orientasi NU perlu bergerak dari menjaga jamaah menuju memberdayakan jamaah,” tulisnya.
Ia menilai warga tidak cukup hanya mendapatkan pembinaan keagamaan, tetapi juga harus memperoleh akses pendidikan bermutu, pekerjaan layak, pelayanan kesehatan dan kesempatan memperbaiki kehidupan.
Pemimpin Tali Jagat
Ahmad Effendy Choirie menilai NU membutuhkan pemimpin yang mampu memahami tradisi sekaligus membaca masa depan.
Pemimpin tersebut harus mampu menghormati ulama, mendengarkan generasi muda, memahami khazanah keislaman sekaligus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Selain itu, pemimpin NU diharapkan mampu bekerja sama dengan pemerintah tanpa kehilangan independensi organisasi.
Pemimpin NU ke depan juga harus mampu menjadi “pengikat sekaligus penjaring”.
Mengikat pesantren dengan perguruan tinggi, ulama dengan ilmuwan, santri dengan profesional dan pengusaha, desa dengan kota, generasi tua dengan generasi muda, serta tradisi dengan inovasi.
Pada saat yang sama, NU harus mampu menjaring gagasan, ilmu, teknologi dan pengalaman terbaik dari berbagai pihak selama membawa kemaslahatan.
Menuju Abad Kedua NU
Menurut Ahmad Effendy Choirie, perjalanan seratus tahun pertama membuktikan kemampuan NU melewati berbagai perubahan zaman, mulai dari masa kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, pergolakan politik, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi hingga era digital.
Memasuki abad kedua, NU dinilai tidak cukup hanya memiliki akar yang kuat. Organisasi tersebut juga perlu memiliki cakrawala dan kemampuan menghadapi perubahan global.
“Yang lama dan baik jangan dibuang. Yang baru dan lebih baik jangan ditolak,” tulisnya.
Ia berharap Muktamar ke-35 tidak berhenti sebagai forum menentukan kepemimpinan NU untuk lima tahun mendatang. Lebih dari itu, Muktamar harus mampu menjawab pertanyaan mengenai NU seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Para pendiri telah mengikat tali pertama seabad lalu. Tugas generasi hari ini bukan memutusnya, melainkan memperkuat simpulnya dan memperluas jaringnya,” pungkas Ahmad Effendy Choirie.
(Ginanjar Prio Wibowo)

























