SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Koperasi (Kemenkop) bersama Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) sepakat memperkuat kolaborasi untuk mempercepat pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di tingkat desa.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada penguatan koperasi sebagai salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain itu, DNIKS didorong berkontribusi dalam pemutakhiran data sosial ekonomi masyarakat melalui jaringan Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) yang dimilikinya hingga tingkat kabupaten dan kota.
Ketua Umum DNIKS A Effendy Choirie mengatakan, salah satu langkah awal kerja sama tersebut adalah penyelenggaraan simposium nasional mengenai kesejahteraan sosial dengan tema “Koperasi Lokomotif Kesejahteraan Rakyat”.
“Sebagai awal kolaborasi, kami akan membuat simposium nasional terkait kesejahteraan sosial dengan tema Koperasi Lokomotif Kesejahteraan Rakyat,” kata Effendy dalam silaturahmi dengan Menteri Koperasi Ferry Juliantono di Kantor Kemenkop, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Sekjen DNIKS Sudarto, Waketum DNIKS Rudi Andries, Ketua DNIKS Ali Nurdin, Tengku Nurliyana Habsjah, Dya Loretta Kartiksari, A Eko Cahyono, serta Wasekjen Sentot Janinto.
Effendy, yang akrab disapa Gus Choi, mengatakan simposium tersebut akan membahas sedikitnya tiga agenda utama, yakni data dan peta kemiskinan, data pengangguran, serta strategi dan solusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Simposium tersebut akan membahas sedikitnya tiga agenda utama, yakni data dan peta kemiskinan, data pengangguran, serta strategi dan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terang Gus Choi.
Menurut dia, pembahasan mengenai data dan peta kemiskinan penting karena penanganan kemiskinan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam di setiap daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk. Angka tersebut turun 0,18 poin persentase dibandingkan September 2025 dan turun 0,40 poin persentase dibandingkan Maret 2025.
Namun, tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan perdesaan mencapai 10,67 persen, sedangkan perkotaan sebesar 6,34 persen.
Jumlah penduduk miskin di perdesaan mencapai sekitar 12,10 juta orang, sementara di perkotaan sekitar 10,83 juta orang.
Data tersebut menunjukkan pentingnya strategi pemberdayaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Desa memiliki potensi ekonomi berbasis pertanian, perdagangan, jasa, serta usaha mikro dan kecil yang dapat dikembangkan melalui koperasi.
Karena itu, pemetaan kemiskinan nantinya tidak hanya melihat jumlah penduduk miskin, tetapi juga kondisi ekonomi rumah tangga, pekerjaan, pendidikan, akses layanan dasar, serta potensi ekonomi di masing-masing wilayah.
Pengangguran Masih Menjadi Tantangan
Selain kemiskinan, persoalan pengangguran menjadi agenda penting dalam kolaborasi Kemenkop dan DNIKS.
BPS mencatat, pada Februari 2026 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang, dengan jumlah penduduk bekerja sebanyak 147,67 juta orang.
Sementara jumlah pengangguran mencapai sekitar 7,24 juta orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen.
Pada periode yang sama, penyerapan tenaga kerja masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan besar dan eceran, serta industri. Ketiga sektor tersebut menyerap sekitar 60,29 persen tenaga kerja nasional.
Kondisi tersebut menunjukkan koperasi dapat didorong tidak hanya sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai wadah penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha mikro dan kecil, peningkatan keterampilan, serta penguatan rantai pasok ekonomi desa.
DNIKS Didorong Perkuat Data DTSEN
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono meminta DNIKS ikut terlibat dalam pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Ferry menilai jaringan LKKS yang dimiliki DNIKS hingga tingkat kabupaten dan kota dapat menjadi kekuatan untuk membantu pemerintah memperoleh gambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih lengkap.
“Kami menyambut baik DNIKS untuk berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi. Data yang lebih lengkap dan akurat sangat penting untuk menentukan sasaran pendirian dan pengembangan koperasi desa,” ujar Ferry.
DTSEN menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program. BPS menyebut DTSEN terus dimutakhirkan dan pada Volume 2 Tahun 2026 mencakup sekitar 95,3 juta keluarga atau 289,3 juta individu.
Menurut Ferry, penguatan data menjadi tahap penting sebelum pemerintah melakukan intervensi ekonomi. Dengan data yang akurat, koperasi yang dibangun di desa diharapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
Kolaborasi Kemenkop dan DNIKS selanjutnya diharapkan tidak berhenti pada pemetaan masalah, tetapi menghasilkan strategi konkret untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Melalui koperasi sebagai “lokomotif” ekonomi rakyat, program pemberdayaan diharapkan mampu menghubungkan potensi desa dengan akses pembiayaan, pasar, teknologi, keterampilan, dan jaringan usaha sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.
(Riana P)

























