SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Gerakan “Patungan untuk Hutan” yang digagas kreator konten sekaligus penggagas gerakan tersebut, Ferry Irwandi, mendapat dukungan besar dari masyarakat.
Dalam waktu sekitar dua hari, donasi yang dihimpun melalui Kitabisa dilaporkan telah menembus Rp4 miliar. Jumlah tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan, yakni Rp50 miliar.
Gerakan ini muncul di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Kalimantan hingga Papua.
Ferry Irwandi mengatakan, masyarakat tidak cukup hanya membicarakan kerusakan hutan di media sosial. Menurut dia, perlu ada langkah nyata untuk ikut melindungi dan memulihkan kawasan hutan yang terancam.
Dalam video yang diunggahnya, Ferry memperlihatkan kondisi kawasan hutan yang rusak akibat kebakaran, pembabatan dan penebangan liar.
“Daerah yang kalian lihat ini dulunya hutan lebat dan sekarang sudah habis, benar-benar habis. Akibat kebakaran, pembabatan, dan penebangan liar,” kata Ferry Irwandi, kreator konten sekaligus penggagas gerakan “Patungan untuk Hutan”.
Ferry menjelaskan, perlindungan hutan bukan pekerjaan sederhana. Menurut dia, dibutuhkan riset, dialog dengan berbagai pihak, pemahaman terhadap aturan dan hukum, serta turun langsung ke lapangan.
“Patungan untuk hutan, nggak gampang, rumit, dan njelimet. Itulah kenapa ide ini nggak pernah benar-benar terealisasi dalam skala yang masif,” ujar Ferry.
Menurut Ferry, dana yang terkumpul akan diarahkan untuk tiga fokus utama, yakni mitigasi, respons kedaruratan dan restorasi hutan.
Mitigasi dilakukan untuk mencegah kebakaran sebelum terjadi. Sementara respons kedaruratan ditujukan untuk membantu penanganan ketika kebakaran terjadi dan masyarakat terdampak membutuhkan bantuan.
Sedangkan restorasi difokuskan pada pemulihan kawasan hutan yang sudah mengalami kerusakan serta menjaga ekosistem dalam jangka panjang.
Dalam menjalankan gerakan tersebut, Ferry juga menggandeng sejumlah organisasi yang memiliki pengalaman di bidang konservasi, di antaranya Kalaweit, BOSF dan ASRI.
Ferry menilai masyarakat adat juga memiliki peran penting dalam menjaga hutan Kalimantan.
“Tidak ada yang lebih mencintai hutan Kalimantan melebihi masyarakat adatnya, bagi mereka hutan adalah bagian dari kehidupan dan tubuh mereka,” kata Ferry Irwandi.
Menurut Ferry, menjaga hutan bukan hanya soal mempertahankan pepohonan. Hutan juga berkaitan dengan habitat satwa, sumber air, kualitas udara dan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.
“Karena selama hutannya tetap berdiri, karbon tetap tersimpan, gambut tetap basah, habitat satwa tetap ada, risiko kebakaran bisa ditekan, sumber air tetap terjaga, maka masyarakat di sekitarnya tetap punya ruang untuk hidup,” ujar Ferry.
Dengan target Rp50 miliar, gerakan “Patungan untuk Hutan” masih membutuhkan dukungan masyarakat untuk mencapai sasaran penggalangan dana.
Perjalanan masih panjang.
Donasi yang terkumpul baru sebagian dari target Rp50 miliar.
Pertanyaannya, apakah gerakan patungan masyarakat ini mampu mencapai target dan benar-benar membawa perubahan bagi perlindungan hutan Indonesia?
Patungan untuk Hutan. Sedikit dari banyak orang, untuk menjaga hutan Indonesia.
(Ginanjar Prio Wibowo)

























