SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Buku berjudul Islam Ala Prabowo kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah pihak menyoroti keterlibatan sejumlah tokoh sebagai kontributor dalam buku yang membahas pemikiran dan nilai-nilai keislaman Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, yang turut menjadi kontributor buku, menilai pembahasan dalam buku tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan identitas keislaman Prabowo.
Menurut Idrus, buku itu juga mengangkat nilai-nilai Islam dalam kehidupan, seperti akhlak, kemaslahatan, kepedulian kepada masyarakat, serta kerja nyata untuk rakyat.
“Prabowo memang bukan santri, tetapi Presiden Prabowo memang Muslim sejati. Kehidupannya mencerminkan nilai dan ruhul Islam,” ujar Idrus.
Idrus mengatakan latar belakang seseorang yang tidak berasal dari tradisi pesantren tidak serta-merta menunjukkan tingkat keberislamannya.
Ia menilai keberislaman seseorang tidak cukup diukur dari latar belakang pendidikan pesantren atau penguasaan terhadap teks-teks keagamaan. Menurutnya, nilai-nilai Islam harus tercermin melalui akhlak, keadilan, amanah, kepedulian terhadap kaum lemah, serta kebermanfaatan bagi masyarakat.
“Islam itu universal, komprehensif atau holistik, terintegrasi dan fleksibel. Jangan kita dikotomikan agama dengan sains,” katanya.
Idrus juga menilai perhatian terhadap kesejahteraan rakyat, pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta pengembangan sains dan teknologi merupakan bagian dari upaya membangun kemaslahatan dan peradaban.
Polemik Buku Islam Ala Prabowo
Terkait polemik yang berkembang, Idrus menyayangkan kritik terhadap buku tersebut baru mencuat setelah Muktamar NU ke-35. Ia menyebut buku Islam Ala Prabowo telah terbit sejak Agustus 2025.
Idrus mempertanyakan alasan polemik baru muncul setelah buku tersebut beredar cukup lama.
Ia menegaskan keterlibatannya sebagai kontributor tidak dimaksudkan untuk mengkultuskan Prabowo ataupun menjadikan agama sebagai alat legitimasi politik.
Menurut Idrus, buku tersebut justru menjadi bagian dari upaya melihat nilai-nilai Islam secara lebih luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia pun mengajak seluruh pihak menghentikan polarisasi dan menjadikan Muktamar NU ke-35 sebagai momentum memperkuat persatuan, kebangkitan, serta pembangunan peradaban.
Idrus menegaskan keberislaman seorang pemimpin perlu dilihat secara utuh, tidak hanya berdasarkan asal-usul sosial maupun latar belakang keagamaannya, tetapi juga melalui keteguhan iman, akhlak, keberpihakan kepada rakyat, dan kontribusinya bagi kemaslahatan bangsa.
(Yulianto)
























