SUARAINDONEWS.COM, PEMALANG — Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala Diah Indriyanti (36), ibu dari Muhammad Hasbi Al Aqib, siswa kelas II SDN 1 Kebondalem, Pemalang.
Kalimat itu sederhana. Namun setelah putranya meninggal dunia, kalimat tersebut terasa begitu menyayat hati.
“Mama, nanti jemputnya jangan lama. Aqib takut mau dipukulin.”
Ucapan itu disampaikan Aqib kepada ibunya sebelum kejadian yang akhirnya mengubah kehidupan keluarga mereka.
Saat itu, Diah belum menyangka ketakutan anaknya bakal menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di sekolah.
Aqib kemudian meninggal dunia pada 30 September 2026, setelah sebelumnya menjalani perawatan medis.
Keluarga menduga Aqib mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Polisi kini masih menyelidiki perkara tersebut, termasuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apakah dugaan kekerasan tersebut berkaitan dengan kematian Aqib.
Dari anak ceria menjadi ketakutan
Menurut Diah, perubahan pada diri Aqib mulai terlihat.
Anaknya yang sebelumnya ceria disebut menjadi lebih pendiam. Kondisinya juga menurun dan nafsu makannya berkurang.
Dalam perjalanan waktu, keluarga menemukan sejumlah tanda pada tubuh Aqib dan kemudian membawanya untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Yang membuat hati seorang ibu semakin hancur, menurut Diah, Aqib sempat bercerita bahwa dirinya dipukuli.
Bagi keluarga, cerita itu bukan lagi sekadar keluhan seorang anak.
Itu menjadi potongan-potongan kejadian yang baru terasa begitu berarti setelah kondisi Aqib semakin memburuk.
Sempat dirawat, tetapi Aqib tak kembali ke sekolah
Aqib sempat menjalani perawatan di RSUD dr. M. Ashari Pemalang sejak 17 September 2026.
Setelah menjalani perawatan sekitar sembilan hari, Aqib sempat diperbolehkan pulang.
Namun kondisi tubuhnya belum benar-benar pulih.
Pada 30 September, keluarga kembali berupaya membawa Aqib mendapatkan pertolongan medis. Namun nyawanya tidak tertolong.
Aqib pergi meninggalkan keluarga yang masih mencari jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Polisi masih mencari jawaban
Polres Pemalang telah memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap perkara tersebut.
Autopsi terhadap jenazah Aqib juga telah dilakukan oleh tim Biddokkes Polda Jawa Tengah.
Namun hingga kini, polisi masih menunggu dan mendalami hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab kematian Aqib.
Karena itu, dugaan bahwa Aqib meninggal akibat kekerasan atau perundungan belum dapat dinyatakan sebagai kesimpulan hukum.
Polisi masih bekerja mengumpulkan keterangan dan bukti.
Tangisan seorang ibu, harapan untuk anak-anak lain
Bagi Diah, persoalan ini bukan hanya tentang mencari tahu apa yang terjadi kepada putranya.
Ada seorang anak kecil yang pernah merasa takut pergi ke sekolah.
Ada seorang ibu yang menerima pesan sederhana dari anaknya agar jangan terlambat menjemput.
Dan ada satu kalimat yang kini menjadi kenangan paling pahit bagi keluarga:
“Mama, nanti jemputnya jangan lama.”
Aqib memang sudah tidak bisa lagi dijemput pulang oleh ibunya.
Namun keluarga berharap penyelidikan berjalan terang dan semua fakta terungkap, sehingga tidak ada lagi anak lain yang harus menyimpan ketakutan sendirian ketika berada di sekolah.
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar, bermain, bertumbuh, dan merasa aman—bukan tempat seorang anak kecil pulang membawa rasa takut.
(Ginanjar Prio Wibowo)

























