SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA – Laut dalam di Samudra Hindia kembali membuka misteri. Tim ilmuwan menemukan 149 spesies yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya, sekaligus menemukan lokasi yang dipenuhi sekitar 1.000 gigi hiu purba yang menjadi jejak kehidupan laut hingga lebih dari 22 juta tahun.
Temuan tersebut berasal dari ekspedisi penelitian di sekitar Christmas Island dan Cocos (Keeling) Islands, wilayah Australia di Samudra Hindia yang berada di sebelah barat daya Pulau Jawa, Indonesia. Penelitian dilakukan untuk mengungkap kehidupan di kawasan laut dalam yang selama ini masih minim diteliti.
Ekspedisi mencakup survei pada kedalaman mulai dari 94 meter hingga 5.431 meter. Para ilmuwan meneliti sejumlah gunung bawah laut atau seamount serta dasar laut abyssal yang terbentuk dari aktivitas vulkanik purba.
Kawasan yang dipetakan memiliki gunung bawah laut berusia sekitar 40 juta hingga 120 juta tahun, dengan struktur yang dapat mencapai diameter sekitar 70 kilometer.
Dari penelitian tersebut, ilmuwan mengidentifikasi 1.059 kelompok taksonomi. Sebanyak 495 di antaranya merupakan spesies yang telah diketahui, sementara 149 diidentifikasi sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan.
Temuan itu mencakup berbagai organisme laut dalam, antara lain teripang, ikan kelompok greeneye, cacing laut, karang hitam, teritip parasit, serta beragam ikan dan invertebrata lainnya.
Namun, salah satu temuan yang paling menarik berada jauh di dasar laut. Peneliti menemukan lokasi yang kemudian dijuluki “Shark Tooth Graveyard” atau kuburan gigi hiu.
Dalam satu pengambilan sampel dari kedalaman sekitar 5.400 meter, ilmuwan mendapatkan sekitar 1.000 gigi hiu. Fosil tersebut merekam keberadaan hiu dari masa lampau, termasuk gigi yang dikaitkan dengan megalodon, salah satu predator laut terbesar yang pernah hidup.
Usia sebagian material gigi tersebut mencapai lebih dari 22 juta tahun, sehingga lokasi itu memberikan gambaran mengenai perubahan kehidupan laut dalam selama jutaan tahun.
Ilmuwan kelautan dari Museums Victoria, Tim O’Hara, mengatakan penelitian di kawasan tersebut penting karena sebagian besar eksplorasi sebelumnya lebih banyak berfokus pada perairan dangkal.
“Orang-orang telah menjelajahi pulau-pulau pada perairan dangkal, namun belum ada yang meneliti kehidupan di perairan lebih dalam. Itu merupakan celah besar dalam data,” kata O’Hara, seperti dikutip ZME Science.
Menurut para peneliti, penemuan tersebut menunjukkan bahwa laut dalam masih menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat besar. Bahkan, jumlah spesies baru yang ditemukan kemungkinan belum menggambarkan seluruh kekayaan hayati kawasan tersebut karena sebagian sampel masih membutuhkan penelitian taksonomi lebih lanjut.
Ekspedisi ini juga menghasilkan pemetaan sejumlah fitur dasar laut yang sebelumnya belum diketahui. Salah satunya adalah sebuah kaldera bawah laut yang dijuluki “Eye of Sauron” karena bentuknya menyerupai mata.
Hasil penelitian tersebut menjadi data penting bagi pemahaman keanekaragaman hayati laut dalam serta pengelolaan kawasan konservasi laut Australia di sekitar Christmas Island dan Cocos (Keeling) Islands.
Temuan 149 spesies baru sekaligus “kuburan” gigi hiu purba memperlihatkan bahwa meski teknologi manusia semakin maju, sebagian besar kehidupan di kedalaman Samudra Hindia masih menjadi wilayah yang belum banyak diketahui.
(Purwantiningsih)
























