SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Inovasi kondom yang diklaim dapat berubah warna ketika mendeteksi infeksi menular seksual (IMS) kembali menarik perhatian. Namun, teknologi tersebut hingga kini belum menjadi produk yang bisa dibeli atau digunakan masyarakat secara umum.
Konsep tersebut bernama S.T.EYE, yang dikembangkan pada 2015 oleh tiga pelajar asal Inggris, yakni Daanyaal Ali, Muaz Nawaz, dan Chirag Shah dari Isaac Newton Academy.
S.T.EYE dirancang sebagai konsep “kondom pintar” yang secara teori dapat memberikan tanda visual ketika bersentuhan dengan penanda tertentu dari infeksi menular seksual. Konsepnya menggunakan molekul atau antibodi yang diharapkan dapat bereaksi dengan antigen terkait bakteri maupun virus penyebab IMS.
Dalam rancangan tersebut, perubahan warna dibuat untuk menunjukkan jenis infeksi tertentu. Warna hijau misalnya dirancang untuk menunjukkan klamidia, kuning untuk herpes, ungu untuk human papillomavirus (HPV), dan biru untuk sifilis. Namun, kode warna tersebut merupakan bagian dari konsep, bukan standar diagnosis medis yang telah divalidasi.
Ide tersebut mendapat perhatian besar setelah memenangkan kategori kesehatan dalam TeenTech Awards 2015. Ketiga pelajar itu memperoleh penghargaan atas gagasan mereka dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kesadaran mengenai IMS.
Meski terdengar seperti teknologi masa depan, S.T.EYE sebenarnya belum menjadi produk yang siap digunakan. Laporan Washington Post saat itu menegaskan bahwa S.T.EYE masih sebatas konsep dan para penciptanya masih mengembangkan gagasan tersebut.
Media kesehatan juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan teknis. Salah satunya adalah memastikan apakah teknologi tersebut benar-benar mampu mendeteksi infeksi secara akurat, membedakan berbagai jenis IMS, serta menentukan apakah perubahan warna dapat memberikan hasil yang dapat dipercaya.
Pertanyaan lainnya adalah apakah kondom tersebut dapat mendeteksi infeksi pada pengguna, pasangan, atau keduanya. Jika terdapat lebih dari satu infeksi, sistem juga harus mampu memberikan hasil yang tidak membingungkan.
Selain itu, perubahan warna pada saat aktivitas seksual bukanlah pengganti pemeriksaan medis. Bahkan jika teknologi semacam itu suatu hari berhasil dikembangkan, hasil indikasi tetap membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.
Sejumlah pemberitaan yang muncul kembali dalam beberapa tahun terakhir juga masih menyebut teknologi kondom berubah warna tersebut sebagai konsep atau prototipe, bukan produk medis yang telah mendapat persetujuan dan dipasarkan secara massal.
Dengan demikian, kabar mengenai “kondom berubah warna” memang memiliki dasar dari sebuah proyek inovasi nyata yang pernah dikembangkan tiga pelajar Inggris pada 2015. Tetapi, S.T.EYE bukan kondom pendeteksi IMS yang saat ini tersedia di pasaran.
Masyarakat tetap perlu menggunakan kondom secara benar dan melakukan pemeriksaan kesehatan apabila memiliki risiko atau gejala IMS. Teknologi S.T.EYE lebih tepat disebut sebagai gagasan inovatif yang mencoba menggabungkan fungsi perlindungan dengan deteksi awal, bukan alat diagnosis yang telah terbukti secara klinis.
(Kiki Apriyansyah)
























