SUARAINDONEWS. COM, JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat penanganan kekeringan di wilayah Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, untuk menjaga lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air. Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, puluhan unit pompa dikerahkan untuk mengalirkan air dari Sungai Citarum dan jaringan irigasi ke sawah yang terdampak kekeringan.
Menteri PU, Dody Hanggodo menegaskan pemenuhan kebutuhan air untuk lahan pertanian menjadi salah satu perhatian Kementerian PU, terutama di wilayah yang terdampak kemarau ekstrem atau el nino.
“Kekeringan bukan hanya persoalan berkurangnya air, tetapi menyangkut kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari dan sektor pertanian. Karena itu, Kementerian PU memastikan dukungan air dapat segera diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama pada lahan-lahan pertanian,” ujar Menteri Dody.
Sementara itu, Kepala BBWS Citarum, Mochammad Dian AL Ma’ruf menjelaskan Kecamatan Pakisjaya merupakan salah satu titik di Wilayah Sungai (WS) Citarum yang mengalami kekeringan. Kondisi tersebut terjadi karena pada sejumlah area tidak terjangkau jaringan irigasi teknis Daerah Irigasi (DI) Jatiluhur. Selain itu juga beberapa wilayah mengalami kerusakan infrastruktur, serta lahan yang terdampak pergeseran waktu tanam.
“Total potensi lahan yang terdampak kekeringan di Pakisjaya tersebar di tiga desa, yaitu Desa Solokan, Desa Telukjaya, dan Desa Tanahbaru,” kata Dian
Untuk mempercepat penanganan, Kementerian PU melalui BBWS Citarum mengoperasikan 20 unit pompa berkapasitas sekitar 40–80 liter per detik yang berasal dari BBWS Citarum, BBWS Citanduy, BBWS Ciliwung Cisadane, serta Kementerian Pertanian.
Pemompaan dilakukan dengan mengambil air dari Sungai Citarum karena pada wilayah tersebut tidak memiliki sumber air lain dan berbatasan dengan kawasan air asin. Selain pemompaan, Kementerian PU juga melakukan normalisasi saluran irigasi pada titik-titik yang menjadi penghambat aliran air. Kegiatan normalisasi dan pemompaan yang dilakukan sejak 19 Agustus hingga 28 September 2026 telah membantu mengairi 400 hektare sawah.
“Dari total 1.150 hektare lahan terdampak di Pakisjaya, upaya penanganan telah berhasil mengairi dan menyelamatkan sekitar 400 hektare, baik untuk tanaman yang sudah tumbuh (standing crop) maupun lahan yang bersiap untuk ditanam,” jelas Dian.
*Modifikasi Cuaca hingga Normalisasi Irigasi*
Selain pompanisasi, Kementerian PU berkolaborasi dengan TNI AU, PJT II, dan BMKG kembali melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah. Upaya ini telah menghasilkan hujan di beberapa wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek.
OMC yang dilaksanakan di Jawa Barat secara bertahap dari 18 September hingga 4 Oktober 2026 untuk menjaga 523 ribu hektare lahan sawah, dengan cakupan sekitar 2.000 km jaringan irigasi di Wilayah Sungai Citarum.
“Hingga 3 Oktober operasi ini telah berhasil menambah ketersediaan air di tampungan sebesar 45,8 juta meter kubik,” tutur Dian.
Selain pendekatan OMC, Dian menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan koordinasi intensif antar-pengelola waduk untuk memastikan keandalan air irigasi, air baku, dan listrik tetap terjaga tanpa ada air yang terbuang percuma serta melakukan normalisasi saluran irigasi pada titik-titik yang teridentifikasi menjadi penghambat laju aliran air.
(Yulianto)
























