SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Sebuah kapal pesiar mewah yang mengangkut sekitar 2.000 wisatawan dalam pelayaran khusus komunitas LGBTQ+ mendadak menjadi sorotan dunia. Bukan karena kemewahan kapal atau destinasi wisatanya, melainkan karena ditolak berlabuh oleh dua negara berturut-turut, yakni Turki dan Mesir.
Kapal Scarlet Lady milik Virgin Voyages yang disewa operator wisata Atlantis Events awalnya dijadwalkan singgah di Turki. Namun, otoritas setempat menolak kapal tersebut dengan alasan kelompok penumpang dinilai tidak sejalan dengan nilai moral masyarakat. Rute kemudian dialihkan ke Alexandria, Mesir. Namun kejutan kembali terjadi. Beberapa jam sebelum sandar, pemerintah Mesir juga menolak kapal memasuki perairannya tanpa memberikan penjelasan resmi.
Akibat keputusan tersebut, ribuan penumpang yang sudah bersiap mengunjungi Piramida Giza dan Grand Egyptian Museum harus mengubur impiannya. Mereka menerima pemberitahuan mendadak pada tengah malam bahwa persinggahan di Alexandria dibatalkan dan kapal harus mencari pelabuhan pengganti.
CEO Atlantis Events, Rich Campbell, mengaku terkejut dengan keputusan tersebut. Menurutnya, perusahaan telah membawa wisatawan ke kawasan tersebut selama puluhan tahun tanpa kendala.
“Kami sangat kecewa. Kami berhasil menjalankan rute serupa tahun lalu tanpa masalah. Keputusan ini benar-benar di luar dugaan,” ujar Campbell.
Campbell juga menyebut penolakan tersebut menjadi peristiwa pertama dalam 36 tahun sejarah Atlantis Events, di mana kapal yang mereka operasikan ditolak masuk karena identitas kelompok penumpangnya.
Sementara itu, aktris Broadway Patti LuPone yang tampil dalam pelayaran tersebut ikut mengecam keputusan Turki. Ia mengaku marah karena para penumpang gagal menikmati destinasi yang telah lama mereka nantikan.
Setelah ditolak dua negara, kapal akhirnya mengubah rute menuju sejumlah pelabuhan lain di Yunani, Montenegro, dan Italia agar pelayaran tetap berlanjut.
Insiden ini langsung memicu perhatian internasional. Sejumlah pengamat industri pelayaran menilai penolakan ganda tersebut merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi dan berpotensi memengaruhi rute wisata kapal pesiar bertema khusus di kawasan Timur Tengah pada masa mendatang.
(Anton)

























