SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Gerhana matahari memang menjadi tontonan langka yang bikin orang ingin melihat langsung ke langit. Namun, jangan sampai rasa penasaran justru membuat mata jadi korban.
Ribuan pengamat langit di Inggris dan berbagai negara menyaksikan fenomena gerhana matahari yang disebut sebagai salah satu gerhana paling signifikan sejak 1999.
Di balik keindahannya, para ahli kesehatan mata mengingatkan masyarakat agar tidak melihat langsung ke arah Matahari tanpa kacamata gerhana atau filter matahari yang bersertifikat.
Masalahnya, meskipun sebagian besar permukaan Matahari tertutup Bulan, bagian Matahari yang masih terlihat tetap memancarkan energi cahaya yang sangat kuat.
Optometris dan anggota dewan The College of Optometrists untuk Wales, Nkosi Yearwood, menjelaskan bahwa Matahari tidak hanya memancarkan cahaya yang terlihat oleh mata.
Ada juga sinar ultraviolet dan inframerah yang dapat membahayakan mata.
“Ketika Matahari mulai meredup saat gerhana, banyak orang mengira aman untuk melihatnya. Padahal, meskipun 90 persen tertutup, masih ada 10 persen Matahari yang terlihat dan energinya tetap sangat besar,” jelas Yearwood.
Mata Bisa Rusak Tanpa Terasa
Yang lebih mengkhawatirkan, kerusakan akibat melihat Matahari secara langsung tidak selalu terasa saat itu juga.
Patrick Laidlaw, optometris dari Optegra Eye Clinic Sheffield, mengatakan paparan langsung dapat merusak bagian belakang mata dan menyebabkan solar retinopathy, yaitu kerusakan retina akibat paparan cahaya Matahari yang terlalu kuat.
Jika paparannya cukup lama, kondisi tersebut bahkan dapat menyebabkan hilangnya sebagian penglihatan di bagian tengah.
Bagian yang paling rentan adalah makula, area kecil di retina yang bertanggung jawab terhadap penglihatan pusat dan detail.
Cahaya Matahari yang sangat intens dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel fotoreseptor di bagian tersebut.
Jadi, masalahnya bukan sekadar mata terasa silau.
Retina bisa mengalami kerusakan meski mata tidak langsung merasa sakit.
Pernah Ada Puluhan Kasus Setelah Gerhana
Yearwood menyebut pengalaman dari gerhana sebelumnya menjadi peringatan serius.
Setelah gerhana matahari pada 1990-an, sekitar 70 orang di Inggris dilaporkan datang ke layanan kesehatan mata dengan tingkat kerusakan retina akibat paparan Matahari.
Yang membuat khawatir, sekitar 40 persen di antaranya mengaku hanya melihat Matahari kurang dari satu menit.
Artinya, berpikir “cuma sebentar kok” bukan berarti otomatis aman.
Gejalanya Bisa Muncul Beberapa Jam atau Hari Kemudian
Kerusakan mata akibat melihat langsung gerhana juga memiliki satu masalah lain: gejalanya bisa terlambat muncul.
Yearwood mengatakan gejala dapat baru terasa beberapa jam bahkan beberapa hari setelah mata terpapar cahaya Matahari.
Kondisi tersebut juga biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.
Pasalnya, retina tidak memiliki reseptor rasa sakit. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kerusakan retina tanpa menyadarinya.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Penglihatan menjadi buram.
- Pandangan terlihat terdistorsi.
- Muncul titik gelap di tengah penglihatan.
- Warna terlihat berbeda dari biasanya.
- Mata menjadi sangat sensitif terhadap cahaya.
- Ketajaman penglihatan menurun.
Jika mengalami salah satu gejala tersebut setelah melihat gerhana, para ahli menyarankan segera memeriksakan mata ke optometris atau tenaga kesehatan mata.
Bisa Sembuh, Tapi Jangan Berharap Selalu Pulih Total
Kerusakan retina akibat paparan Matahari tidak memiliki pengobatan khusus yang dapat langsung mengembalikan kondisi mata seperti semula.
Namun, dalam banyak kasus, retina dapat mengalami pemulihan secara alami.
Yearwood mengibaratkannya seperti kulit yang terbakar matahari.
Lama pemulihan dan kemungkinan penglihatan kembali normal bergantung pada seberapa lama dan seberapa kuat mata terkena paparan cahaya.
Tetapi jika kerusakannya parah, sebagian gangguan penglihatan bisa menjadi permanen.
Karena itu, para ahli mengingatkan satu hal sederhana:
Gerhana boleh ditonton. Matahari jangan ditatap langsung.
Gunakan kacamata gerhana atau filter Matahari yang benar-benar bersertifikat. Jangan mengandalkan kacamata hitam biasa, kamera ponsel, teropong, atau sekadar menutup mata setengah-setengah.
Sebab kalau gerhananya cuma beberapa menit, jangan sampai dampaknya malah dibawa seumur hidup.
(Robby Bustami)

























