SUARAINDONEWS. COM, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham, meyakini Partai Golkar mampu bertransformasi menjadi partai masa depan di bawah kepemimpinan Ketua Umum Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Jenderal Muhammad Sarmuji.
Keyakinan tersebut disampaikan Idrus dalam refleksi menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar yang diperingati pada Selasa (20/10/2026). Menurut dia, Golkar harus mampu melampaui kejayaan masa lalu dengan menghadirkan gagasan dan karya nyata yang relevan dengan kebutuhan bangsa.
Dalam tulisannya berjudul Golkar Harus Menjadi Partai Masa Depan, Idrus mengakui Golkar memiliki sejarah panjang dalam pembangunan nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh membuat partai berhenti berinovasi dan hanya mengandalkan pencapaian masa lalu.
“Golkar sudah lama menjadi partai masa lalu. Kita pernah dibuat bangga karena peran-peran besarnya dalam arus pembangunan bangsa. Tapi sampai kapan kita akan berdiam dalam sejarah?” tulis Idrus.
Ia menilai, kepemimpinan Bahlil dan Sarmuji menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi Golkar agar tidak hanya dikenal sebagai partai dengan pengalaman politik panjang, tetapi juga sebagai kekuatan politik yang mampu menawarkan pemikiran untuk menjawab tantangan masa depan.
Menurut Idrus, peran partai politik dalam demokrasi tidak cukup hanya mengumpulkan suara dan memperoleh kursi di parlemen. Partai juga harus mampu menghasilkan gagasan yang dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan serta berkontribusi dalam menentukan arah kebijakan bangsa.
“Partai yang hanya dihitung suaranya tetapi tidak diperhitungkan pemikirannya, hanya akan dibutuhkan untuk meraih kekuasaan, namun tak pernah dilibatkan dalam menentukan arah dan masa depan bangsa,” ujarnya.
Idrus menjelaskan, dinamika demokrasi saat ini menuntut partai politik memperkuat kualitas argumentasi, menawarkan solusi, dan menghasilkan pemikiran yang dapat diuji secara terbuka. Dengan demikian, keberadaan partai tidak hanya terasa saat pemilihan umum, tetapi juga dalam proses perumusan kebijakan publik.
Ia mengingatkan, besarnya jumlah kursi di parlemen tidak otomatis menjamin sebuah partai memiliki pengaruh dalam menentukan arah pembangunan. Tanpa kontribusi pemikiran yang kuat, partai berisiko kehilangan relevansi dalam menjawab persoalan masyarakat.
Karena itu, Idrus menegaskan bahwa Golkar perlu kembali memperkuat doktrin karya kekaryaan sebagai landasan perjuangan politik. Doktrin tersebut harus diwujudkan melalui kerja nyata, pencapaian yang terukur, serta kontribusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Menuju Indonesia Emas 2045, yang dibutuhkan Partai Golkar dan bangsa hari ini, bukan lagi citra, bukan omon-omon, bukan pula janji, tetapi karya!” tulisnya.
Idrus juga menekankan perbedaan antara pencitraan dan hasil kerja. Menurut dia, citra positif semestinya lahir dari karya nyata, bukan sekadar dibangun melalui persepsi publik.
Ia berharap, memasuki usia ke-62, Golkar semakin memperkuat posisinya sebagai rumah gagasan yang mampu melahirkan solusi bagi berbagai persoalan nasional.
Di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia dan Muhammad Sarmuji, Idrus meyakini Golkar memiliki kesempatan untuk melakukan pembaruan sekaligus menjaga kesinambungan nilai-nilai perjuangan partai.
Transformasi tersebut dinilai penting agar Golkar tidak sekadar tercatat dalam sejarah pembangunan Indonesia, tetapi juga berperan aktif dalam menentukan arah kemajuan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
(Yulianto)























