SUARAINDONEWS.COM, Manggarai – Gempa bumi bermagnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026) pagi. Guncangan tersebut menjadi gempa terbesar dalam rangkaian aktivitas seismik yang terjadi di wilayah Manggarai sejak dini hari.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa M5,6 terjadi pada pukul 05.45.19 WIB. Episenter gempa berada di darat pada koordinat 8,30 Lintang Selatan dan 120,59 Bujur Timur, sekitar 37 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Gempa tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer dan dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di sejumlah wilayah.
BMKG mencatat intensitas guncangan mencapai V-VI MMI di Kabupaten Manggarai. Guncangan juga dirasakan IV MMI di Nagekeo, III-IV MMI di Manggarai Barat, serta III MMI di Sikka, Kota Bima dan Kabupaten Bima.
Untuk gempa M5,6 tersebut, BMKG menyatakan tidak berpotensi tsunami.
Namun, gempa M5,6 bukan satu-satunya guncangan yang terjadi pada Kamis pagi. BMKG mencatat adanya sejumlah aktivitas gempa lain di sekitar wilayah Manggarai sebelum dan sesudah gempa utama.
Sebelum gempa M5,6, tercatat gempa bermagnitudo 4,2 pada pukul 02.11 WIB, M4,4 pada pukul 04.35 WIB, M4,4 pada pukul 04.43 WIB, serta M4,8 pada pukul 05.28 WIB.
Setelah gempa M5,6 terjadi, aktivitas gempa masih berlanjut. BMKG mencatat gempa bermagnitudo 4,5 pada pukul 06.20 WIB.
Rangkaian tersebut membuat aktivitas kegempaan di wilayah Manggarai menjadi perhatian, terutama karena masyarakat Flores masih berada dalam masa penanganan pascabencana gempa besar yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Gempa berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 dan berdampak pada sejumlah kabupaten di NTT. Pemerintah hingga kini masih melakukan penanganan terhadap masyarakat terdampak serta pemulihan berbagai fasilitas umum.
Dampak gempa sebelumnya juga tercatat pada sektor pendidikan. Kemendikdasmen melaporkan ratusan satuan pendidikan di sejumlah kabupaten di Flores mengalami dampak akibat gempa.
Kabupaten Manggarai termasuk wilayah dengan jumlah satuan pendidikan terdampak cukup besar. Data yang dilaporkan pemerintah mencatat 104 sekolah di Manggarai terdampak, disusul Manggarai Timur, Nagekeo, Ende, Ngada, Sikka dan Manggarai Barat.
Pemerintah juga terus memperkuat penanganan bencana di NTT. Sehari sebelum gempa M5,6, pemerintah menyatakan siap menambah anggaran penanganan bencana apabila kebutuhan daerah belum mencukupi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya meninjau lokasi pengungsian di Kabupaten Manggarai pada Rabu (19/8/2026) dan menyampaikan kesiapan pemerintah untuk mendukung kebutuhan penanganan bencana.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta tetap memperhatikan informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Rangkaian gempa di Manggarai menjadi pengingat bahwa aktivitas kegempaan masih perlu dipantau secara serius. Terlebih, sejumlah wilayah di Flores masih dalam proses pemulihan setelah gempa besar yang terjadi pada 15 Agustus lalu.
Hingga berita ini ditulis, informasi mengenai dampak kerusakan maupun korban akibat gempa M5,6 di Manggarai masih menunggu pendataan dan laporan resmi dari pihak berwenang.
(Rizki Fadillah)
























