SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Kalau ukuran hidup enak cuma dilihat dari tebalnya dompet, mungkin ceritanya bakal beda. Tapi sebuah riset global justru menemukan fakta menarik: Indonesia berada di posisi teratas dalam ukuran “flourishing” atau kesejahteraan hidup manusia.
Temuan tersebut berasal dari Global Flourishing Study (GFS), penelitian internasional yang melibatkan lebih dari 200 ribu responden dari 22 negara dan Hong Kong.
Yang diukur juga bukan sekadar pertanyaan, “Bahagia nggak hidup lo?”
Peneliti melihat kehidupan manusia dari berbagai sisi, mulai dari kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan fisik dan mental, makna serta tujuan hidup, karakter, hubungan sosial, sampai keamanan finansial dan material.
Dalam penelitian lanjutan yang terbit pada 2026, Indonesia mencatat skor 8,10 dari 10 dalam Secure Flourish Index dan berada di posisi teratas di antara negara-negara yang diteliti.
Di bawah Indonesia terdapat Israel dengan skor 7,87, Filipina 7,71, Meksiko 7,64, dan Polandia 7,55. Sementara Jepang berada di posisi paling bawah dengan skor 5,89.
Namun, jangan buru-buru menerjemahkan hasil ini menjadi “orang Indonesia paling bahagia sedunia”. Sebab, flourishing bukan sekadar kebahagiaan dan bukan pula ukuran kekayaan sebuah negara.
Bukan Berarti Indonesia Paling Tajir
Justru bagian ini yang menarik.
Dalam aspek keamanan finansial dan material, Indonesia tidak berada di posisi pertama. Indonesia tercatat berada di posisi ke-10.
Dengan kata lain, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan manusia tidak otomatis ditentukan oleh seberapa besar kekuatan ekonomi atau seberapa tebal isi rekening.
Peneliti Harvard bahkan menemukan apa yang mereka sebut sebagai “development paradox”, yaitu adanya hubungan negatif antara tingkat kekayaan suatu negara dengan rasa makna dan tujuan hidup yang dilaporkan masyarakatnya.
Bahasa sederhananya, duit penting, tetapi duit bukan satu-satunya bahan bakar untuk merasa hidup baik-baik saja.
Indonesia Kuat di Hubungan Sosial
Lalu apa yang membuat Indonesia mencatat skor tinggi?
Penelitian menunjukkan Indonesia menonjol dalam sejumlah aspek kehidupan, termasuk makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, serta hubungan sosial dekat.
Dalam penelitian lanjutan, Indonesia berada di posisi pertama pada empat dari lima domain utama flourishing dan posisi kedua pada satu domain lainnya.
Hubungan dengan keluarga, teman, komunitas, rasa memiliki, serta berbagai faktor nonmaterial menjadi bagian penting dalam bagaimana seseorang menilai kehidupannya.
Jadi, jangan heran kalau budaya kumpul, nongkrong, ngobrol sampai lupa waktu, saling bantu ketika tetangga punya hajatan atau kena musibah, sampai tradisi berbagi masih punya tempat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Tetapi sekali lagi, penelitian tersebut tidak menyimpulkan satu kebiasaan tertentu sebagai penyebab Indonesia berada di posisi pertama.
Amerika Serikat Bukan Nomor Satu, Jepang Malah di Bawah
Dalam pengukuran awal Flourish Index yang tidak memasukkan keamanan finansial dan material, Indonesia memperoleh skor 8,47.
Angka tersebut berada di atas Meksiko 8,19, Filipina 8,11, Israel 8,00 dan Nigeria 7,82.
Amerika Serikat mencatat skor 7,18, sedangkan Jepang 5,93.
Angka ini kemudian berubah ketika peneliti menggunakan Secure Flourish Index yang memasukkan aspek finansial dan material. Indonesia menjadi 8,10, sementara Jepang menjadi 5,89.
Makanya, pembaca jangan sampai melihat angka dari dua indeks berbeda lalu menganggap peneliti salah hitung. Metodenya memang berbeda.
Yang Bikin Peneliti Ikut Penasaran
Ada temuan lain yang juga bikin penelitian ini menarik.
Kelompok usia 18 sampai 24 tahun di banyak negara justru melaporkan tingkat flourishing yang lebih rendah dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.
Harvard menyebut pola tersebut muncul cukup konsisten dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami penyebabnya.
Global Flourishing Study sendiri dirancang sebagai penelitian longitudinal selama lima tahun. Penelitian ini melibatkan peneliti dari Harvard University, Baylor University, Gallup dan sejumlah lembaga lainnya.
Artinya, ceritanya belum tamat. Para peneliti masih akan melihat bagaimana kondisi kesejahteraan manusia berubah dari waktu ke waktu.
Jadi, Indonesia Nomor 1 dalam Hal Apa?
Jawabannya bukan negara paling kaya, bukan pula klaim bahwa seluruh rakyat Indonesia paling bahagia.
Indonesia berada di posisi teratas dalam ukuran flourishing berdasarkan metodologi Global Flourishing Study.
Ukuran tersebut mencoba melihat kehidupan manusia secara lebih utuh: bahagia, sehat, punya tujuan hidup, punya karakter, punya hubungan sosial dan memiliki rasa aman secara material.
Dan dari berbagai ukuran itu, Indonesia mendapatkan skor tinggi.
Singkatnya, kalau hidup cuma dihitung dari saldo rekening, ceritanya mungkin lain.
Tapi kalau pertanyaannya diperluas menjadi “Seberapa baik manusia menjalani hidupnya?”, Indonesia dalam riset ini justru muncul di barisan paling atas.
Lumayan juga. Ternyata bukan cuma sambal yang bikin Indonesia punya rasa. Kehidupan sosialnya juga ikut dihitung.
(Purwantiningsih)

























