SUARAINDONEWS.COM, HAINAN — China sedang menjalankan eksperimen ekonomi jumbo di Pulau Hainan. Bukan sekadar bikin kawasan bebas bea, Beijing menjadikan seluruh pulau tersebut sebagai Hainan Free Trade Port (FTP) atau Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan.
Nilai ekonominya juga bukan kaleng-kaleng. Produk domestik bruto (PDB) Hainan berada di kisaran US$113 miliar, setara sekitar Rp2.000 triliun. Angka tersebut merupakan ukuran ekonomi Hainan, bukan dana yang digelontorkan China untuk membangun kawasan perdagangan bebas.
Mulai 18 Desember 2025, Hainan resmi menjalankan sistem operasi kepabeanan khusus. Artinya, urusan keluar-masuk barang di pulau tersebut dipisahkan dari sistem kepabeanan China daratan.
Sederhananya, China membuat Hainan seperti pintu depan yang dibuat lebih lebar untuk dunia. Barang dari luar negeri bisa masuk dengan aturan yang lebih longgar, sementara barang yang bergerak dari Hainan menuju China daratan tetap melewati pengawasan kepabeanan.
Konsepnya dikenal dengan istilah “first line open, second line controlled”. Jalur pertama, yakni dari luar negeri menuju Hainan, dibuat lebih terbuka. Sementara jalur kedua, dari Hainan menuju wilayah China daratan, tetap dikontrol.
Yang bikin kebijakan ini makin menarik adalah perluasan skema zero tariff.
Pemerintah China memperluas cakupan barang yang dapat memperoleh perlakuan bebas tarif dari sekitar 21 persen pos tarif menjadi sekitar 74 persen, mencakup sekitar 6.600 kategori barang.
Namun, jangan langsung mengira semua barang yang masuk Hainan otomatis gratis pajak. Ada daftar pengecualian dan persyaratan yang tetap harus dipenuhi.
China juga menawarkan aturan yang bisa membuat perusahaan berpikir, “Wah, ini menarik.”
Barang dari luar negeri yang kemudian diproses di Hainan dan menghasilkan nilai tambah minimal 30 persen dapat memperoleh fasilitas masuk ke pasar China daratan tanpa tarif impor, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
Dengan skema tersebut, pemerintah China tidak hanya ingin perusahaan membawa barang jadi ke Hainan lalu menjualnya. Mereka ingin ada aktivitas ekonomi nyata di pulau tersebut, mulai dari produksi, pengolahan, perakitan hingga pengembangan bisnis.
Hainan pun didorong menjadi tempat bertemunya perdagangan, investasi, jasa, logistik, pariwisata dan industri.
Pemerintah China juga memberikan berbagai insentif bagi perusahaan yang memenuhi persyaratan, termasuk kebijakan pajak tertentu dengan tarif pajak penghasilan badan sebesar 15 persen untuk sektor dan entitas yang masuk kriteria.
Eksperimen ini mulai menunjukkan hasil. Data pemerintah Hainan menyebut perdagangan barang selama periode 2021–2025 untuk pertama kalinya menembus angka 1 triliun yuan.
Dalam periode yang sama, perdagangan luar negeri barang Hainan tumbuh 19,2 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya. Hainan juga disebut telah menarik investasi dari 180 negara dan kawasan.
Setelah sistem kepabeanan khusus berjalan, aktivitas perdagangan kembali menunjukkan pertumbuhan. Hingga akhir Februari 2026, total impor dan ekspor barang Hainan mencapai 65,49 miliar yuan, atau sekitar US$9,7 miliar, naik 29,1 persen secara tahunan. Ekspor bahkan melonjak 55,4 persen.
Bagi Beijing, Hainan bukan sekadar kawasan bisnis. Pulau ini juga diposisikan sebagai laboratorium kebijakan ekonomi.
Karena Hainan merupakan satu provinsi sekaligus sebuah pulau, China memiliki ruang untuk menguji berbagai kebijakan keterbukaan ekonomi tanpa langsung menerapkannya ke seluruh wilayah daratan.
Yang diuji bukan hanya perdagangan barang. Kebijakan Hainan juga menyentuh investasi asing, perdagangan jasa, arus modal, logistik, perpajakan, data, kesehatan, pendidikan hingga transportasi.
Hainan juga punya kartu lain: pariwisata.
Pulau tropis tersebut memang sudah lama menjadi salah satu tujuan wisata populer di China. Pemerintah juga mengembangkan sektor duty-free shopping, yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.
Kuota belanja bebas bea bagi wisatawan di luar pulau mencapai 100.000 yuan per orang per tahun berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Ambisi China terhadap Hainan bahkan membuatnya kerap dibandingkan dengan Hong Kong sebagai pusat perdagangan internasional. Namun, perbandingan itu tidak berarti Hainan sudah menyamai Hong Kong.
Sejumlah analis yang dikutip Reuters menilai Hainan masih menghadapi perbedaan, terutama dalam aspek sistem hukum dan keterbukaan finansial.
Hainan juga harus berhadapan dengan persaingan pusat perdagangan dan manufaktur lain di kawasan Asia-Pasifik.
Di sisi lain, Beijing punya target yang lebih besar. Hainan diharapkan menjadi salah satu pintu China menuju ekonomi global sekaligus menjadi bukti bahwa keterbukaan perdagangan bisa diperluas secara bertahap.
Reuters juga mengaitkan proyek Hainan dengan ambisi China untuk memperkuat keterlibatan dalam perdagangan global, termasuk keinginannya bergabung dengan CPTPP atau Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership.
Jadi, kalau ada yang menyebut China sedang membangun kawasan perdagangan bebas senilai US$113 miliar, ceritanya perlu diluruskan.
US$113 miliar itu bukan anggaran pembangunan Hainan Free Trade Port, melainkan gambaran nilai ekonomi Hainan.
Yang sedang dilakukan Beijing adalah menjadikan pulau tersebut sebagai eksperimen ekonomi raksasa: pintu perdagangan ke dunia dibuat lebih terbuka, sementara arus barang menuju China daratan tetap dikendalikan.
Kalau eksperimen ini berhasil, Hainan bukan cuma terkenal karena pantainya. Pulau tersebut bisa menjadi salah satu panggung penting China dalam menguji model perdagangan dan investasi yang lebih terbuka kepada dunia.
(Akhirudin)

























