SUARAINDONEWS.COM, Surabaya – Jangan salah, kreativitas anak bangsa ternyata bisa bikin dunia terkesima. Tiga mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Dinamika Surabaya (Undika) baru saja mengukir prestasi internasional yang bikin bangga.
Mereka adalah Tegar Prasetiyo, Mochammad Rizki Ramadhan, dan Haekal Rahmami Loka Jaya, yang berhasil meraih Juara 1 kategori Engineering, ICT – Prototype Product di ajang The 5th International Innovation Technology Expo (IITE) 2025.
Kompetisi yang diselenggarakan secara online oleh Politeknik Indonusa Surakarta ini mengusung tema “Empowering Ideas Through Innovation: Shaping the Future with Technology and Sustainable Development” dan diikuti peserta dari berbagai negara, dari Asia Timur hingga Afrika.
Karya Mereka Bukan Sekadar Keren, Tapi Juga Penting
Kemenangan mereka diraih lewat karya berjudul:
“Flanatomy: Innovative Sex Education Learning Media using Augmented Reality (AR) for Students with Intellectual Disabilities to Support the Achievement of the SDGs.”
Flanatomy adalah media pembelajaran berbahan kain flanel yang dilengkapi teknologi Augmented Reality (AR). Di versi terbaru ini, fokusnya adalah sex education yang ramah untuk anak dengan disabilitas intelektual, khususnya untuk memahami organ reproduksi secara aman dan menyenangkan.
Yang bikin inovasi ini makin “ngena” adalah fitur trimester kehamilan, di mana pengguna bisa melihat perubahan bentuk janin dari trimester pertama hingga keenam. Jadi, pembelajaran jadi lebih interaktif dan mudah dipahami.
Kenapa Ini Penting?
Ide ini muncul dari keprihatinan tim terhadap kasus pelecehan seksual pada anak berkebutuhan khusus. Mereka ingin membantu siswa SLB mengenali area pribadi dan belajar melindungi diri dari tindakan tidak pantas.
“Kami ingin memberikan pemahaman sederhana tentang bagian tubuh dan organ reproduksi agar siswa SLB bisa mengenali area pribadi dan melindungi diri,” kata Tegar.
Desain Ramah Anak dan Tidak Menakutkan
Dalam proses pengembangan, tim melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan guru SLB. Dari situ, mereka memilih warna dan tipografi yang lembut dan ramah, seperti maroon, pink muda, dan pink tua. Tujuannya supaya materi edukasi tidak terlihat menakutkan.
Dari Ide Kecil Jadi Inovasi Global
Awalnya, mereka cuma ingin membuat sesuatu yang bermanfaat dan dekat dengan kehidupan anak-anak. Dari riset sederhana di kelas, Flanatomy berkembang menjadi produk nyata yang menggabungkan desain, teknologi, dan empati sosial.
“Kami melalui banyak tantangan, tapi terus berusaha menyempurnakan media ini sebagai sarana belajar sex education untuk anak dengan disabilitas intelektual,” ujar Kiki.
Chemistry Kuat Jadi Rahasia Sukses
Di balik prestasi ini, ada cerita kekompakan tim yang jadi kunci. Meski berbeda latar belakang, Tegar, Kiki, dan Haekal berhasil membangun kepercayaan dan komunikasi yang kuat.
Haekal mengaku awalnya minder, tapi dukungan Tegar membuatnya berani belajar. Kiki pun menyebut tim selalu saling menguatkan saat menghadapi tekanan, terutama saat lomba memakai bahasa Inggris.
Tegar sendiri mengaku awalnya lebih suka kerja sendiri, tapi setelah bekerja bareng, ia menyadari pentingnya kerja tim. Menurutnya, yang paling penting adalah kesamaan frekuensi, komunikasi, dan rasa percaya.
Dukungan Kampus Bikin Kreativitas Melejit
Kesuksesan mereka tak lepas dari dukungan Undika sebagai kampus yang fokus pada teknologi dan kreativitas. Fasilitas laboratorium, bimbingan dosen, dan ruang riset yang luas membuat mereka leluasa mengembangkan ide.
Karya dari Hati untuk Masa Depan Inklusif
Flanatomy bukan sekadar karya lomba, tapi bentuk empati dan kepedulian terhadap pendidikan inklusif. Mereka ingin pendidikan seks bukan dianggap tabu, melainkan sebagai bagian penting untuk keselamatan dan kemandirian anak.
Prestasi ini membuktikan bahwa inovasi yang lahir dari kepedulian sosial bisa bersaing di panggung dunia. Dari kain flanel sederhana, lahir karya yang bisa mengubah masa depan pendidikan inklusif di Indonesia.
(Anton)




















































