SUARAINDONEWS.COM, Bogor — Pembangunan Bendungan Cibeet di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menghadapi jalan terjal. Target proyek rampung pada 2028 dinilai sulit tercapai karena pembebasan lahan masih seret dan anggaran konstruksi jauh dari kebutuhan.
Anggota Komisi V DPR RI Mori Hanafi bahkan menyebut target penyelesaian pada 2028 nyaris mustahil jika kondisi proyek masih seperti sekarang.
Persoalannya bukan cuma satu. Ada tumpang tindih kepemilikan lahan, konflik dengan masyarakat terkait keberadaan makam yang dianggap keramat, hingga keterbatasan anggaran.
“Pertama tumpang tindih kepemilikan lahan. Yang kedua, di sini ada makam keramat yang dikeramatkan oleh penduduk sekitarnya, bahkan Kabupaten Bogor. Nah, itu juga menjadi hambatan. Jadi tidak mudah untuk pembebasan,” ujar Mori saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI meninjau proyek pembangunan Bendungan Cibeet dan Cijurey di Kabupaten Bogor, Jumat (11/9/2026).
Yang bikin masalah makin serius, proses pembebasan lahan sudah berjalan sejak 2023. Namun sampai 2026, lahan yang berhasil dibebaskan baru sekitar 8 persen dari total kebutuhan.
“Prosesnya bisa dibayangkan, dari tahun 2023 sampai tahun 2026 ini itu baru 8 persen. Dari target tahun 2028 ini selesai, itu buat saya itu mustahil bisa selesai,” tegasnya.
Bukan cuma lahannya yang bikin proyek tersendat. Urusan duit juga jadi tantangan besar.
Mori mengungkapkan, dari 2023 hingga 2026, anggaran konstruksi yang tersedia baru sekitar Rp500 miliar. Padahal total kebutuhan pembangunan diperkirakan mencapai Rp5 triliun.
Artinya, selama empat tahun anggaran yang tersedia baru sekitar 10 persen dari kebutuhan.
“Anggaran dari tahun 2023, 2024, 2025, 2026 itu baru bisa ada cuma Rp500 miliar dari Rp5 triliun. Artinya dalam empat tahun anggaran cuma 10 persen yang tersedia,” kata Mori.
Kalau pola penganggarannya masih sama, hitung-hitungan sederhananya bikin proyek ini makin panjang. Jika dalam empat tahun baru terkumpul 10 persen anggaran, maka secara matematis bisa membutuhkan waktu sekitar 40 tahun untuk memenuhi kebutuhan anggaran seluruh konstruksi.
Karena itu, Mori meminta pemerintah tidak sekadar memaksakan target penyelesaian. Menurutnya, proyek perlu dievaluasi secara menyeluruh agar tidak berujung mangkrak.
Ia bahkan membuka opsi menghentikan sementara pembangunan Bendungan Cibeet apabila persoalan lahan dan anggaran belum bisa dibereskan.
“Saya termasuk orang yang daripada dibangunnya nanti akhirnya terbengkalai, lebih baik kita stop sementara. Ini pendapat saya memang agak istimewa,” ungkapnya.
Menurut Mori, penghentian sementara bukan berarti proyek langsung ditinggalkan. Langkah itu bisa digunakan untuk mengevaluasi kembali perencanaan dan kebijakan pembangunan.
Namun jika pemerintah tetap ingin proyek berjalan, ia meminta dukungan anggaran ditambah secara signifikan.
“Kita stop sementara supaya nanti kita merevisi lagi terkait dengan perencanaan dan kebijakan ke depannya. Atau kalau memang ini mau dijalankan, maka anggaran yang dikeluarkan harus jauh lebih banyak daripada anggaran yang selama ini tersedia,” pungkasnya.
Jadi, target Bendungan Cibeet rampung 2028 sekarang menghadapi pertanyaan besar: mau dikebut dengan tambahan anggaran, atau dihentikan sementara agar tidak berakhir mangkrak?
(Riana P)

























