SUARAINDONEWS.COM, BOGOR – Anggota Komisi VIII DPR RI Syaiful Nuri menilai pelatihan petugas haji yang digelar pada penyelenggaraan haji 2026 memberikan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan jemaah, terutama bagi jemaah lanjut usia atau lansia.
Namun, ia meminta pembekalan tersebut tidak hanya diberikan kepada petugas haji reguler. Petugas Haji Daerah (PHD) juga dinilai perlu mendapat pelatihan dengan standar yang sama agar kualitas pelayanan kepada jemaah lebih merata.
“Dan terkait petugas haji di tahun 2026, alhamdulillah itu sangat bermanfaat sekali kepada jemaah haji terutama lansia. Karena petugas haji ini dibimbing, Pak, selama 2 minggu di Pondok Gede,” ujar Syaiful saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI ke Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/9/2026).
Menurut Syaiful, pelatihan selama dua pekan di Asrama Haji Pondok Gede membuat petugas lebih siap menghadapi berbagai kondisi di lapangan.
Hal itu menjadi penting karena petugas tidak hanya berhadapan dengan jemaah dalam kondisi normal, tetapi juga harus mampu memberikan pendampingan kepada lansia yang membutuhkan perhatian lebih.
Syaiful mengatakan, berdasarkan keterangan sejumlah petugas yang pernah bertugas, PHD belum mendapatkan pembekalan setara dengan petugas reguler. Kondisi itu membuat peran PHD dinilai belum maksimal.
“Yang PHD itu kurang adanya pemantapan karena ngikut saja, ngintil terus,” tegas politikus Fraksi PAN tersebut.
Karena itu, Komisi VIII DPR RI akan mengusulkan kepada Kementerian Haji dan Umrah RI agar PHD juga mengikuti pelatihan dengan standar yang sama.
Menurut Syaiful, langkah tersebut bukan untuk mengubah sistem yang sudah berjalan, melainkan memperkuat hasil yang telah dicapai dalam penyelenggaraan haji 2026.
Selain persoalan petugas, Syaiful juga menyoroti pentingnya penetapan istitaah kesehatan sejak awal. Menurutnya, kesiapan kesehatan jemaah harus menjadi bagian penting dalam proses keberangkatan agar persoalan di lapangan bisa diminimalkan.
Ia juga menyoroti adanya porsi keberangkatan yang tidak terpakai karena pemiliknya mengundurkan diri atau berpindah domisili tanpa terdeteksi. Persoalan tersebut, kata dia, banyak ditemukan di daerah pemilihannya.
Syaiful kemudian mendorong kantor layanan haji di daerah untuk rutin memberikan bimbingan kepada calon jemaah, khususnya lansia.
Menurutnya, edukasi kepada jemaah lansia tidak cukup hanya sekali. Bimbingan perlu dilakukan secara berulang agar calon jemaah benar-benar memahami persiapan ibadah, kondisi kesehatan dan berbagai hal teknis sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Kota Bogor, kata Syaiful, dapat menjadi daerah percontohan untuk menjalankan program bimbingan rutin tersebut.
“Kalau pembekalan petugas diperkuat dan edukasi jemaah dilakukan sejak awal, pelayanan haji di lapangan akan semakin siap. Yang paling penting, jemaah bisa mendapatkan pendampingan yang lebih baik, terutama mereka yang sudah lanjut usia,” ujarnya.
(Agus Marwan)

























