SUARAINDONEWS.COM, ACEH BESAR — Anggota DPD RI asal Aceh, Darwati A. Gani, mendorong masyarakat menghidupkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI bukan sekadar sebagai konsep kenegaraan, tetapi melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikan Darwati saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Desa Cadek, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Minggu (13/9/2026).
Darwati mengatakan pengamalan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika dapat dimulai dari lingkungan masyarakat paling dekat.
Menurutnya, kepedulian terhadap sesama, saling menghargai, memperkuat budaya literasi, serta memiliki sikap kritis terhadap berbagai persoalan publik merupakan bagian dari upaya menghidupkan nilai-nilai tersebut.
“Nilai Empat Pilar harus kita hidupkan dalam keseharian. Mulai dari saling menghargai, peduli terhadap sesama, sampai memiliki tanggung jawab untuk ikut melihat dan menyelesaikan persoalan di lingkungan kita,” kata Darwati.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun budaya membaca sejak usia dini. Darwati mendorong pengembangan Rumah Baca di Desa Cadek sebagai ruang bagi anak-anak untuk membaca, belajar, berdiskusi, sekaligus membangun rasa ingin tahu.
Menurut Darwati, perkembangan teknologi digital tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak-anak saat ini. Namun, penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan interaksi sosial.
“Anak-anak sekarang tumbuh bersama teknologi. Kita tidak bisa memisahkan mereka dari perkembangan digital, tetapi harus memberi keseimbangan. Rumah Baca dapat menjadi tempat anak membaca, belajar, berdiskusi, dan membangun rasa ingin tahu,” ujarnya.
Darwati menilai budaya membaca tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, tetapi juga dapat membantu membangun empati dan daya kritis masyarakat.
Masyarakat, kata dia, perlu memiliki kemampuan untuk tidak langsung menerima setiap informasi, melainkan memahami persoalan, melihatnya dari berbagai sudut pandang, kemudian menyampaikan aspirasi secara tepat.
Sikap kritis tersebut dinilai penting ketika masyarakat menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kepentingan publik, termasuk mengenai pengelompokan desil yang sebelumnya sempat menjadi perhatian masyarakat Aceh.
Pada Mei 2026, sejumlah masyarakat Aceh menyampaikan keberatan terhadap pengelompokan desil yang berkaitan dengan layanan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Warga kemudian mengajukan perubahan data melalui pemerintah desa dengan harapan kondisi sosial ekonomi mereka dapat tercermin secara lebih tepat.
Darwati berharap pendataan sosial ekonomi yang dilakukan pemerintah sepanjang 2026 dapat menghasilkan data yang semakin akurat mengenai kondisi masyarakat.
Menurutnya, kualitas data menjadi salah satu faktor penting agar kebijakan dan program pemerintah benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau kita ingin mewujudkan keadilan sosial, salah satu dasarnya adalah data yang benar. Kita berharap hasil pendataan benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat yang sesungguhnya, sehingga kebijakan pemerintah bisa lebih tepat sasaran dan masyarakat yang membutuhkan perhatian tidak terlewat,” kata Darwati.
Darwati menegaskan penguatan Empat Pilar tidak harus selalu dimulai dari ruang formal. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, dapat dibangun dari desa melalui kebiasaan saling peduli, budaya membaca, kemampuan menyaring informasi, dan keberanian masyarakat menyampaikan persoalan di lingkungannya.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memahami Empat Pilar secara teoritis, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
(Purwantiningsih)

























