SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Skor literasi membaca dan sains siswa Indonesia naik dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Namun, kenaikan tersebut belum membuat kemampuan siswa Indonesia mendekati rata-rata negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Dalam hasil PISA 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026, skor sains Indonesia naik 6 poin dari 383 pada 2022 menjadi 389. Skor membaca juga meningkat dari 359 menjadi 365. Sementara skor matematika berada di angka 364.
Kenaikan tersebut terjadi ketika performa rata-rata negara-negara OECD justru mengalami penurunan. Pada PISA 2025, rata-rata OECD tercatat 482 untuk sains, 461 untuk membaca, dan 463 untuk matematika.
Artinya, meski Indonesia mencatat perbaikan, jarak kemampuan siswa Indonesia dengan rata-rata OECD masih cukup lebar. Bahkan OECD mencatat 63,2 persen siswa Indonesia masih tergolong memiliki kemampuan rendah dalam sains, sementara siswa yang mencapai level tertinggi 5 atau 6 tercatat 0 persen.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan performa pendidikan Indonesia relatif stabil di tengah penurunan capaian negara-negara OECD.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” kata Toni.
PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Pada PISA 2025, lebih dari 760 ribu siswa dari 91 negara dan perekonomian mengikuti asesmen tersebut.
Selain capaian akademik, Indonesia juga mencatat peningkatan besar dalam akses pendidikan. Coverage Index, yang menggambarkan proporsi anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal, mencapai 0,90 pada PISA 2025.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 0,46 pada awal partisipasi Indonesia dalam PISA. Kemendikdasmen menilai peningkatan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.
Indonesia juga menunjukkan performa yang relatif lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional. OECD mencatat skor Indonesia untuk computational problem solving mencapai 427, dengan 59,1 persen siswa memiliki performa lebih baik dari yang diperkirakan berdasarkan kemampuan sains mereka.
Dalam aspek lingkungan, mayoritas siswa Indonesia juga menunjukkan kepedulian yang cukup tinggi. Pemerintah menyebut 92 persen siswa percaya dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sedangkan 94 persen percaya tindakan bersama dapat membantu mengatasi persoalan lingkungan.
Tingkat keingintahuan siswa Indonesia juga menjadi salah satu catatan positif. Sebanyak 80 persen siswa menyatakan memiliki rasa ingin tahu terhadap banyak hal, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 73 persen siswa di negara-negara OECD.
Namun, capaian tersebut tetap menyisakan pekerjaan besar bagi pemerintah. Kenaikan skor belum otomatis berarti kualitas pembelajaran Indonesia sudah setara dengan negara-negara maju.
OECD mencatat rata-rata skor Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata OECD pada seluruh tiga bidang utama PISA. Kondisi ini membuat peningkatan kualitas pembelajaran menjadi tantangan berikutnya setelah pemerintah berhasil memperluas akses pendidikan.
Kemendikdasmen menyiapkan empat strategi untuk menindaklanjuti hasil PISA 2025. Strategi tersebut meliputi penguatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, penyelarasan asesmen pendidikan nasional dengan kompetensi yang diukur PISA, serta penguatan peran keluarga dan orang tua.
Pemerintah juga akan memperkuat pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, literasi dan numerasi, serta pendidikan karakter. Kualifikasi dan kompetensi guru akan diperkuat melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), termasuk kemampuan pedagogik dan digital serta penguasaan koding dan kecerdasan artifisial.
Hasil PISA 2025 dengan demikian memberikan dua pesan sekaligus bagi pendidikan Indonesia: skor mulai bergerak naik dan akses pendidikan semakin luas, tetapi kemampuan dasar siswa masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan kenaikan skor, melainkan memastikan semakin banyak siswa Indonesia mampu mencapai kompetensi dasar hingga tingkat kemampuan tinggi.
(Agung Suhartono)























