SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Di saat banyak orang menikmati masa pensiun dengan bersantai di rumah, Rudy Dermawan memilih jalan yang berbeda. Mantan guru Bahasa Jepang SMA Negeri 81 Jakarta itu justru kembali “masuk kelas” dan mengajar ratusan orang secara online dengan tarif yang bikin geleng-geleng kepala.
Bukan karena mahal.
Justru karena terlalu murah.
Bahkan ada peserta yang hanya membayar Rp5.000.
Ya, bukan salah baca. Lima ribu rupiah.
Kisah Rudy mendadak mencuri perhatian publik setelah diketahui membuka kursus Bahasa Jepang secara daring dengan sistem pembayaran sukarela alias bayar seikhlasnya. Tidak ada tarif wajib, tidak ada paket premium, tidak ada biaya pendaftaran.
Yang ada hanya satu syarat sederhana: mau belajar.
Kelas yang awalnya hanya diikuti empat orang tetangga saat pandemi Covid-19 kini berkembang menjadi komunitas belajar dengan sekitar 150 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang.
Mulai dari siswa sekolah, mahasiswa, pekerja kantoran, hingga mereka yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Jepang.
Yang membuat banyak orang terharu, Rudy tidak sekadar mengajar tata bahasa atau kosakata Jepang. Ia juga membantu murid-muridnya yang ingin mengejar mimpi ke Negeri Sakura dengan memberikan surat rekomendasi dan berbagai arahan pendidikan.
Di tengah tren pendidikan yang sering dianggap mahal dan sulit dijangkau, langkah Rudy terasa seperti oase bagi banyak orang yang ingin belajar tetapi terkendala biaya.
Tak heran, kisahnya langsung menuai pujian di media sosial.
Banyak netizen menyebut Rudy sebagai bukti bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup.
Ada pula yang berkomentar bahwa semangat mengajar Rudy justru lebih aktif dibanding sebagian orang yang masih berada di usia produktif.
“Beliau sudah pensiun dari sekolah, tapi belum pensiun dari mengabdi,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa ilmu tidak selalu harus dibungkus dengan biaya mahal. Kadang, yang paling berharga justru lahir dari ketulusan untuk berbagi.
Di saat banyak orang berlomba mencari keuntungan, Rudy memilih mencari manfaat.
Dan mungkin itulah alasan mengapa kelas kecil yang dulu hanya berisi empat orang kini berkembang menjadi ratusan peserta yang datang bukan hanya untuk belajar bahasa Jepang, tetapi juga belajar tentang arti ketulusan.
Karena ternyata, ada hal yang lebih berharga daripada uang kursus.
Yaitu guru yang masih percaya bahwa ilmu harus terus dibagikan, meski masa pensiun sudah lama tiba.
(Anton)

























