SUARAINDONEWS.COM, Semarang – Kisah ini bisa jadi pelajaran mahal tentang arti kepercayaan. Seorang mahasiswa berinisial IM (23) di Semarang harus berurusan dengan polisi setelah diduga menggelapkan dan menggadaikan 40 sepeda motor milik teman kampus, adik tingkat, hingga pacarnya sendiri.
Yang bikin geleng-geleng kepala, modus yang digunakan terbilang sederhana. Pelaku menawarkan skema penyewaan motor dengan iming-iming uang Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Karena dikenal baik dan dipercaya di lingkungan kampus, banyak korban tanpa curiga menyerahkan kendaraan mereka.
Namun bukannya disewakan, motor-motor itu justru berakhir di tangan orang lain.
Satu per satu kendaraan yang dipinjam diduga langsung digadaikan dengan nilai antara Rp6 juta hingga Rp12 juta per unit. Dalam waktu sekitar satu bulan, puluhan motor berpindah tangan dan uang ratusan juta rupiah masuk ke kantong pelaku.
Polisi menyebut total uang yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar Rp135 juta.
Yang membuat publik makin tercengang, uang hasil gadai tersebut bukan digunakan untuk kebutuhan mendesak atau membayar utang besar. Berdasarkan hasil penyelidikan, dana itu justru diduga dipakai untuk memenuhi gaya hidup, hiburan, hingga membayar layanan melalui aplikasi MiChat.
“Korban bukan cuma teman biasa, ada adik tingkat sampai pacar sendiri,” begitu fakta yang membuat kasus ini ramai diperbincangkan.
Bayangkan saja, ketika teman mengira motornya sedang menghasilkan uang dari penyewaan, kendaraan tersebut ternyata sudah berpindah tangan ke pihak lain.
Kasus ini mulai terungkap setelah sejumlah korban curiga karena motor yang dipinjam tak kunjung dikembalikan. Laporan kemudian mengalir ke polisi hingga akhirnya IM berhasil diamankan.
Dari sekitar 40 unit motor yang diduga digadaikan, polisi sejauh ini telah berhasil menemukan dan mengamankan 23 kendaraan. Sisanya masih dalam proses pencarian karena tersebar di sejumlah wilayah.
Di media sosial, kasus ini langsung memicu banjir komentar. Banyak warganet menyoroti bagaimana pelaku bisa mendapatkan kepercayaan dari begitu banyak korban dalam waktu singkat.
Ada pula yang menyebut kasus ini sebagai contoh bahwa penipuan tidak selalu datang dari orang asing.
Kadang, pelakunya justru orang yang setiap hari duduk satu kelas, nongkrong satu tongkrongan, bahkan orang yang mengaku sayang.
Kini para korban hanya berharap motor mereka bisa kembali ditemukan, sementara pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Pelajaran paling mahal dari kasus ini sederhana: jangan mudah menyerahkan kendaraan hanya karena kenal dekat. Sebab kepercayaan yang salah alamat bisa berubah jadi kehilangan yang nyata.
(Anton)

























