SUARAINDONEWS.COM, PURWOKERTO — Siapa sangka, mahasiswa asal Mali, Afrika Barat, justru bisa ngomong bahasa Ngapak dengan gaya yang bikin warga Banyumas ikut tersenyum?
Sosok itu adalah Mamoudou Sangare Toufi, mahasiswa asal Mali yang baru saja menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
Namanya ikut mencuri perhatian dalam Wisuda ke-79 UMP yang digelar Sabtu, 3 Oktober 2026. Toufi menjadi salah satu dari 12 mahasiswa internasional yang diwisuda bersama ribuan lulusan UMP lainnya. Para mahasiswa internasional tersebut berasal dari berbagai negara, antara lain Yaman, Kenya, Madagaskar, Filipina, Tajikistan, Sudan, Pakistan, Gambia, Mali, dan Zimbabwe.
Yang membuat Toufi berbeda bukan sekadar asal negaranya yang jauh dari Purwokerto.
Selama tinggal dan belajar di Banyumas, ia dikenal dekat dengan lingkungan masyarakat setempat. Bahkan, sosoknya menjadi perhatian karena kemampuan berbahasa Indonesia dan kedekatannya dengan budaya lokal.
Di media sosial, Toufi juga dikenal dengan nama Mamoudou Sangare Toufi. Sementara informasi mengenai kemampuannya menggunakan bahasa Banyumasan atau Ngapak ramai dikaitkan dengan konten yang beredar di media sosial.
Namun, kemampuan Ngapak tersebut belum dijelaskan secara rinci dalam pemberitaan resmi UMP mengenai wisuda. Karena itu, informasi soal rencana memperkenalkan bahasa Ngapak di Afrika perlu diposisikan sebagai rencana atau pernyataan pribadi Toufi, bukan sebagai program resmi UMP.
Dari Mali, Nyasar ke Banyumas
Perjalanan Toufi di Indonesia ternyata bukan cuma soal kuliah dan mengejar gelar.
Ia juga beberapa kali terlibat dalam kegiatan pendidikan dan berbagi pengalaman dengan masyarakat lokal.
Pada Januari 2026, misalnya, Toufi hadir dalam kegiatan “Sharing and Motivation: Learning Beyond Borders” di MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul, Banyumas.
Bersama mahasiswa internasional lainnya, ia berbagi pengalaman belajar bahasa Inggris sekaligus memotivasi para siswa sekolah dasar.
Pesannya sederhana tetapi mengena.
Jangan malu berbicara bahasa Inggris dan jangan takut salah.
Toufi mengatakan, kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.
Kehadirannya di sekolah tersebut juga menunjukkan bagaimana mahasiswa internasional UMP tidak hanya berada di ruang kuliah, tetapi ikut berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Pernah Cerita Perjuangan dari Mali hingga Indonesia
Toufi juga pernah menjadi pembicara dalam kegiatan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Manar Muhammadiyah Boarding School (A-MBS) Pemalang.
Dalam kegiatan bertema “Meraih Dunia dengan Ilmu dan Bahasa: Inspirasi Global untuk Santri Unggul”, ia membagikan pengalaman mengenai pendidikan di Mali serta perjalanan hingga bisa melanjutkan pendidikan di Indonesia.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para santri untuk mendengar langsung cerita mahasiswa internasional mengenai tantangan belajar di luar negeri, adaptasi budaya, bahasa, hingga pengalaman hidup selama berada di Indonesia.
Jadi, sebelum dikenal karena gaya Ngapaknya, Toufi memang sudah cukup aktif menjadi penghubung budaya dan pendidikan antara Indonesia dengan negara asalnya.
UMP Wisuda 12 Mahasiswa Internasional
Wisuda ke-79 UMP menjadi momentum penting bagi mahasiswa internasional.
Menurut UMP, terdapat 12 mahasiswa internasional yang menyelesaikan pendidikan pada jenjang Magister, Sarjana, dan Ahli Madya.
Mereka berasal dari berbagai negara dan mengambil bidang studi yang beragam.
Dari Mali, terdapat Mamaudou Sangare, M.Pd. yang menyelesaikan Magister Pendidikan Bahasa Inggris.
Rektor UMP Prof. Dr. Jebul Suroso mengatakan para mahasiswa internasional tersebut merupakan bagian dari keluarga besar UMP.
“Mereka datang dari berbagai negara, belajar bersama kita di Purwokerto, dan hari ini menyelesaikan salah satu perjalanan penting dalam kehidupan mereka,” ujar Jebul.
Menurutnya, pengalaman para mahasiswa asing selama berada di Indonesia diharapkan tidak berhenti setelah mereka menerima ijazah.
Mereka diharapkan membawa pengalaman, persahabatan dan kenangan dari Indonesia sekaligus menjadi penghubung antara UMP dengan masyarakat dunia.
Ngapak Mau Dibawa ke Afrika?
Nah, bagian inilah yang membuat kisah Toufi semakin menarik.
Jika benar rencana tersebut direalisasikan, perjalanan bahasa Ngapak tidak lagi cuma berkutat di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
Bayangkan, bahasa yang identik dengan kata-kata seperti “inyong”, “rika”, “ora” dan “kepriwe” bisa terdengar dari benua Afrika.
Tentu saja, rencana tersebut masih harus dilihat sebagai gagasan atau rencana pribadi Toufi sampai ada pernyataan langsung yang bisa diverifikasi mengenai bentuk kegiatan atau programnya.
Namun satu hal sudah jelas: pengalaman Toufi di Purwokerto menunjukkan bahwa pertukaran budaya tidak selalu berjalan satu arah.
Ia datang dari Mali untuk belajar di Indonesia.
Tetapi selama berada di Banyumas, ia juga mengenal bahasa, budaya dan kehidupan masyarakat lokal.
Kini setelah menyandang gelar M.Pd., Toufi bersiap melanjutkan perjalanan berikutnya.
Kalau selama di Purwokerto ia belajar Bahasa Inggris sekaligus mengenal Banyumas, bukan tidak mungkin ketika kembali ke Afrika nanti ia membawa pulang satu oleh-oleh yang cukup unik:
cerita tentang Indonesia, budaya Banyumas, dan bahasa Ngapak.
Dari Mali ke Purwokerto.
Dari Purwokerto, siapa tahu…
Ngapak ikut mendunia.
(Riana P)

























