SUARAINDONEWS. COM, JAKARTA – Kesenian tradisional Emprak di Jepara, Jawa Tengah, berada di ambang kepunahan. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pelestarian budaya daerah bukan sekadar merawat masa lalu, melainkan fondasi strategis restorasi Indonesia untuk mewujudkan bangsa yang lebih berdaya.
“Restorasi Indonesia harus berakar pada kebudayaan kita. Di dalam kesenian rakyat terdapat ingatan, pengetahuan, dan nilai yang membentuk kehidupan bersama. Merawatnya berarti menjaga sumber kekuatan bangsa untuk terus bergerak maju,” ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, dalam pagelaran Emprak di Joglo Pancasila Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (17/10) malam.
Pagelaran tersebut merupakan rangkaian peringatan HUT ke-15 Partai NasDem yang bertepatan dengan Hari Kebudayaan Nasional, pada 17 Oktober. Tahun ini, Hari Kebudayaan Nasional mengusung tema “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya.”
Emprak adalah seni pertunjukan khas Jepara yang memadukan teater, musik, tembang, tari, dan lawakan.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, kesenian ini menjadi hiburan utama dalam hajatan warga dan mampu tampil semalam suntuk. Kini, kelompok yang masih bertahan dapat dihitung dengan jari.
Kelompok Emprak Sido Mukti dari Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, disebut sebagai salah satu—jika bukan satu-satunya—kelompok yang masih aktif di Jepara. Kelompok ini melibatkan sekitar tujuh hingga sembilan seniman dari sejumlah desa di sekitarnya. Pada masa kejayaannya, setidaknya terdapat lima kelompok Emprak di wilayah tersebut.
Perubahan selera hiburan, keterbatasan ruang pentas, biaya pertunjukan, serta sulitnya regenerasi, membuat Emprak kian terpinggirkan.
Rerie berpendapat bahwa para seniman senior menyimpan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman panjang. Tanpa pewarisan, pengetahuan itu berisiko hilang.
“Ketika sebuah kesenian mulai ditinggalkan dan nyaris punah, kita perlu hadir sebelum mata rantai pewarisannya terputus,” kata Rerie, yang juga Anggota Komisi X DPR RI.
Dalam peringatan Hari Kebudayaan Nasional, Rerie tidak berhenti pada imbauan. Ia mendorong agar Emprak dipentaskan secara rutin setiap bulan dan berkeliling ke desa-desa di Jepara. Gagasan ini disambut Ketua DPD Partai NasDem Jepara Pratikno yang menyatakan kesiapannya menyusun formula pentas keliling, terutama di titik-titik keramaian warga.
“Kesenian akan terus hidup ketika para senimannya mendapat ruang untuk berkarya dan generasi berikutnya mempunyai kesempatan untuk belajar. Karena itu, komitmen pelestarian harus hadir dalam tindakan: membuka panggung, mempertemukan seniman dengan penonton, serta mendukung pewarisan pengetahuan kepada anak-anak muda,” tegas Rerie.
Data Kementerian Kebudayaan menunjukkan, lebih dari 2.700 warisan budaya tak benda tercatat secara nasional, dengan 16 di antaranya telah diakui UNESCO.
Angka ini, jelas Rerie, menunjukkan besarnya modal budaya bangsa. Namun, tanpa perawatan berkelanjutan, warisan tersebut berisiko tergerus zaman.
Dalam konteks Hari Kebudayaan Nasional, Rerie berpendapat bahwa pelestarian Emprak merupakan contoh bagaimana kebudayaan lokal dapat menjadi fondasi restorasi Indonesia.
Pelestarian, tambah dia, tidak berarti membekukan tradisi, melainkan memastikan kebudayaan tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi sekarang.
“Semangat restorasi perlu diwujudkan dalam kerja yang dekat dengan masyarakat. Melalui pagelaran Emprak ini, kita ingin ikut menjaga agar kebudayaan Jepara terus tumbuh, para pelakunya tetap berkarya, dan masyarakat merasa memiliki warisannya,” pungkas Rerie.
(Yulianto)























