SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Siapa sangka, gunungan sampah yang setiap hari kita lihat ternyata menyimpan persoalan yang bikin dunia ikut melirik!
TPST Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, menjadi sorotan internasional setelah riset UCLA Emmett Institute menempatkannya sebagai lokasi pembuangan sampah dengan emisi metana tertinggi kedua di dunia yang terdeteksi sepanjang 2025.
Angkanya bikin melongo! Emisi metana dari lokasi ini diperkirakan mencapai sekitar 6,3 ton setiap jam berdasarkan pengamatan satelit.
Coba bayangkan, sampah yang kelihatannya cuma numpuk, bau, dan bikin pusing ternyata juga melepaskan gas yang berkontribusi terhadap pemanasan global!
Tapi tunggu dulu, apa sebenarnya gas metana itu?
Metana adalah gas rumah kaca yang terbentuk, antara lain, ketika sampah organik seperti sisa makanan membusuk tanpa cukup oksigen. Gas ini mampu memerangkap panas di atmosfer dan memperparah perubahan iklim.
Bukan cuma urusan bumi makin panas, metana juga mudah terbakar jika bercampur dengan udara pada konsentrasi tertentu dan bertemu sumber api. Karena itu, pengendalian gas di kawasan penimbunan sampah menjadi persoalan keselamatan yang tidak boleh disepelekan.
Yang bikin makin penasaran, bagaimana para peneliti bisa mengetahui emisi gas dari gunungan sampah sebesar itu?
Jawabannya lewat satelit!
Pengamatan satelit yang dianalisis Carbon Mapper menjadi salah satu sumber data penelitian tersebut. Jadi, persoalan sampah yang selama ini terlihat dari darat ternyata juga bisa dipantau dari luar angkasa.
Dalam daftar lokasi dengan emisi metana tertinggi yang terdeteksi pada 2025, Bantargebang berada di posisi kedua setelah Campo de Mayo di Argentina. Namun, angka tersebut merupakan estimasi laju emisi berdasarkan pengamatan, bukan berarti jumlah yang sama dipastikan keluar setiap jam sepanjang tahun.
Lantas, apa yang harus dilakukan?
Salah satu kuncinya justru ada di rumah kita sendiri. Sisa makanan, kulit buah, dan sampah organik lainnya perlu dipilah agar tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Pengomposan, pengurangan sampah dari sumbernya, penutupan timbunan yang tepat, serta penangkapan dan pemanfaatan gas metana bisa menjadi bagian dari solusi.
Sebab, selama sampah terus menumpuk tanpa pengelolaan yang memadai, persoalannya bukan cuma soal bau dan pemandangan yang bikin tidak nyaman. Ada pula ancaman emisi yang dampaknya bisa melampaui batas wilayah.
Jadi, jangan anggap remeh sampah sisa makan malam yang kita buang hari ini. Kalau jutaan orang melakukan hal yang sama setiap hari, gunung sampah bisa terus membesar.
Pertanyaannya sekarang: kalau Bantargebang sudah masuk peringkat kedua dunia dalam temuan emisi metana, seberapa serius kita mau mengubah cara mengelola sampah mulai dari rumah sendiri?
(Purwantiningsih)

























