SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Jambi dan Sumatera Selatan tak hanya memicu keresahan warga, tetapi juga menjadi sorotan melalui karya seni yang ramai dibagikan di media sosial.
Visual yang menampilkan perempuan berbusana adat merah dengan masker hitam di tengah lahan bekas terbakar menyampaikan pesan tentang perjuangan masyarakat menghadapi polusi udara.
Pertanyaannya pun menyentuh: apakah suara masyarakat akan didengar jika disampaikan melalui keindahan?
Dalam visual yang beredar, sejumlah perempuan mengenakan busana adat berwarna merah dan masker hitam. Mereka berdiri berbaris di kawasan yang tampak hangus akibat kebakaran, dengan kabut asap menyelimuti latar belakang.
Sementara itu, gambar lainnya memperlihatkan seorang penari dengan hiasan emas dan masker gas.
Kontras antara keindahan busana tradisional dan alat pelindung pernapasan menghadirkan gambaran tentang ancaman kabut asap terhadap kehidupan masyarakat serta kekayaan budaya daerah.
Meski identitas seniman dan konteks asli karya tersebut belum terverifikasi, visual ini menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan, kehidupan sosial, dan suara masyarakat yang terdampak.
Di tengah beredarnya visual tersebut, kondisi karhutla di Jambi dan Sumatera Selatan memang menjadi perhatian.
Analisis citra satelit Sentinel-2 periode 6 hingga 8 Oktober 2026 yang dirilis Komunitas Konservasi Indonesia Warsi mencatat luas kebakaran di Jambi mencapai sekitar 42.455 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 10.768 hektare merupakan lahan gambut.
Sementara di Palembang, kebakaran di kawasan Talang Jambe menghadapi tantangan tersendiri karena kondisi lahan gambut yang kering. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.
Kabut asap yang terbawa angin juga berpotensi menurunkan jarak pandang dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Keresahan terhadap kabut asap turut disampaikan melalui berbagai aksi.
Pada awal Oktober, warga dan relawan menggelar aksi di kawasan Jembatan Ampera, Palembang, dengan membawa pesan bahwa udara bersih merupakan hak masyarakat.
Mahasiswa juga mendesak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengambil langkah nyata dalam penanganan karhutla.
Di Jambi, unjuk rasa serupa digelar untuk meminta penanganan kebakaran yang lebih serius.
Berbagai tuntutan tersebut menegaskan pentingnya penanganan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pencegahan kebakaran berulang, perlindungan lahan gambut, serta penelusuran penyebab kebakaran.
Karya seni dapat menjadi bahasa untuk menyampaikan keresahan ketika kata-kata dianggap belum cukup.
Namun, di balik simbol perempuan bermasker dan lahan yang terbakar, ada persoalan nyata yang membutuhkan tindakan: udara bersih, kesehatan masyarakat, dan lingkungan yang terlindungi.
Sebab, keindahan sebuah karya mungkin mampu menarik perhatian. Tetapi, perubahan hanya akan terjadi jika kritik didengar dan diikuti langkah nyata.
(Ginanjar Prio Wibowo)
























