SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Idrus Marham menilai pidato Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR 2026 memiliki pesan kuat mengenai arah transformasi Indonesia menuju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Menurut Idrus, pidato Prabowo tidak sekadar menyampaikan laporan mengenai capaian pemerintah, tetapi juga membangun optimisme dan kepercayaan diri nasional bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk terus bergerak maju.
“Pidato beliau kuat membangun kepercayaan diri nasional bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk bertransformasi, bergerak maju, menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang selama ini belum terselesaikan,” ujar Idrus dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
Idrus mengatakan, dalam pidatonya, Prabowo menegaskan sejumlah agenda strategis pemerintah, mulai dari pertumbuhan ekonomi, investasi, reformasi kelembagaan, penataan BUMN, swasembada pangan dan energi, hilirisasi, efisiensi pemerintahan hingga penguatan pengawasan.
Menurut dia, seluruh agenda tersebut pada akhirnya memiliki satu tujuan utama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Presiden Prabowo telah menegaskan bahwa episentrum dari seluruh transformasi yang dilakukannya bermuara pada satu tujuan utama: kesejahteraan rakyat,” katanya.
Idrus mencontohkan program mandatori B50 sebagai salah satu bentuk transformasi yang dilakukan pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Program tersebut mewajibkan penggunaan bahan bakar dengan campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit. Menurut Idrus, kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan swasembada bahan bakar, tetapi juga pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri.
“Hal ini bukan sekadar tentang swasembada BBM, melainkan wujud nyata swasembada yang berbasis pada potensi sumber daya dalam negeri,” ujarnya.
Idrus menilai B50 berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar sekaligus membuat devisa yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar dari luar negeri dapat berputar di dalam negeri.
Kementerian ESDM, kata Idrus, memperkirakan implementasi B50 dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun.
Namun, ia menilai dampaknya tidak berhenti pada angka penghematan tersebut.
“Ketika nilai itu berputar, ia dapat menciptakan pekerjaan, meningkatkan permintaan terhadap hasil perkebunan, memperkuat industri pengolahan, meningkatkan penerimaan negara dan memperbesar aktivitas ekonomi nasional,” jelasnya.
Idrus juga menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya.
Presiden menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, sedangkan semester I 2026 sebesar 5,45 persen.
Menurut Idrus, capaian tersebut menunjukkan adanya fondasi yang cukup kuat di tengah kondisi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian.
Selain pertumbuhan ekonomi, Idrus menyoroti realisasi investasi 2025 yang disebut mencapai Rp1.931 triliun dengan sekitar 2,7 juta lapangan kerja. Sementara pada semester I 2026, investasi mencapai sekitar Rp1.010 triliun dan menciptakan sekitar 1,4 juta lapangan kerja.
Ia menilai target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 6 persen yang disampaikan Prabowo menjadi indikator penting apabila dapat direalisasikan.
“Jika Indonesia mampu mencapai angka pertumbuhan tersebut, itu artinya Indonesia telah memasuki fase akselerasi pembangunan,” kata Idrus.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut akan memberikan ruang bagi peningkatan kapasitas produksi, investasi, penciptaan lapangan kerja, pendapatan masyarakat dan penerimaan negara.
Idrus melihat pidato Prabowo juga menegaskan bahwa pemerintah sedang melakukan transformasi struktural secara sistematis dan progresif.
Agenda swasembada pangan dan energi, hilirisasi, reformasi BUMN, pengelolaan sumber daya alam, pendidikan, kesehatan hingga perlindungan sosial disebut menjadi bagian dari arsitektur besar pembangunan nasional.
Di sisi lain, transformasi ekonomi Indonesia berlangsung bersamaan dengan perubahan konstelasi global.
Idrus menyebut dunia saat ini menghadapi perubahan geopolitik, perang dagang, fragmentasi rantai pasok, persaingan teknologi dan perebutan sumber daya.
Karena itu, Indonesia dinilai tidak cukup hanya menjadi pasar, tetapi harus mampu menjadi produsen, menciptakan nilai tambah dan mengambil posisi dalam rantai ekonomi global.
Menurut Idrus, seluruh kebijakan pemerintah juga harus tetap menempatkan rakyat sebagai pusat pembangunan.
“Efisiensi bukan efisiensi demi birokrasi; reformasi bukan reformasi demi organisasi; investasi bukan investasi demi angka; hilirisasi bukan sekadar membuka kreativitas ekonomi baru; pertumbuhan bukan sekadar membangun angka makro,” kata Idrus.
“Semua harus bermuara pada kesejahteraan rakyat Indonesia. Ini merupakan komitmen ideologis yang kuat,” lanjutnya.
Idrus menilai pesan utama dari pidato Prabowo adalah tekad untuk mengubah kondisi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya jajaran pemerintah sebagai eksekutor kebijakan bekerja secara profesional dan optimal agar agenda transformasi yang disampaikan Presiden dapat benar-benar dirasakan masyarakat.
“Cara negara bekerja, wabil khusus para pembantu Presiden selaku eksekutor kebijakan, harus profesional bekerja optimal. Dengan demikian, apa yang menjadi tekad Presiden dapat qabul dengan ijab-nya untuk mengubah nasib rakyat,” tegas Idrus.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat melihat optimisme pemerintah sebagai bagian dari proses transformasi nasional.
“Terpulang pada bagaimana kita sebagai sesama penghuni ‘rumah bersama Indonesia’ memotret sikap optimisme itu. Mau ikut bertransformasi menuju Indonesia yang lebih kuat? Atau….?” pungkasnya.
(Ginanjar Prio Wibowo)
























