SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham meminta publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan terkait tudingan yang mengaitkan Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun dengan pemesanan pita cukai rokok.
Idrus menegaskan, setiap kritik maupun pemberitaan harus berpegang pada fakta, rasionalitas, dan objektivitas. Menurut dia, penyampaian informasi juga perlu memperhatikan etika agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.
“Harus faktual, harus rasional, harus objektif. Jangan sampai hal-hal seperti ini kemudian membuat masyarakat menjadi kacau,” kata Idrus.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Misbakhun membantah tudingan yang mengaitkan dirinya dengan persoalan pemesanan pita cukai rokok. Tudingan itu disebut muncul dalam siniar Bocor Alus dan pemberitaan Majalah Tempo.
Idrus mengatakan dirinya memahami dan menghargai narasi yang disampaikan melalui siniar maupun pemberitaan tersebut. Namun, ia menekankan informasi yang disampaikan tetap harus sesuai dengan fakta yang ada.
Misbakhun sebelumnya menegaskan dirinya tidak pernah melakukan seperti yang disebut dalam pemberitaan maupun siaran tersebut.
“Saya tidak melakukan apa yang disampaikan dalam siaran atau berita tersebut,” ujar Misbakhun.
Misbakhun juga menjelaskan dirinya tidak memiliki kewenangan dalam proses pemesanan pita cukai rokok. Menurut dia, kewenangan tersebut berada pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Idrus menilai klarifikasi Misbakhun semestinya menjadi dasar bagi publik untuk melihat persoalan tersebut secara proporsional. Ia mengatakan kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi, tetapi harus disertai fakta dan tidak berubah menjadi tuduhan tanpa dasar yang jelas.
“Kritik dalam dunia demokrasi itu suatu keharusan, tetapi kritik itu juga harus faktual, harus rasional, harus objektif,” kata Idrus.
Idrus juga mengungkapkan memiliki riwayat kebersamaan dengan Misbakhun sejak pengawalan Panitia Khusus Hak Angket Century. Saat itu, Idrus menjabat sebagai Ketua Pansus Century.
Dalam proses tersebut, Idrus mengaku memahami komitmen dan kinerja Misbakhun bersama sejumlah tokoh politik lainnya, di antaranya Profesor Gayus Lumbuun, Mahfud Siddiq, Maruarar Sirait, Bambang Soesatyo, dan Ahmad Yani.
Menurut Idrus, kebersamaan tersebut membuat dirinya mengetahui perjalanan dan perkembangan Misbakhun sebagai salah satu kader politik yang dinilainya memiliki komitmen dan kinerja yang luar biasa.
Idrus kemudian mengajak masyarakat melihat persoalan tersebut dalam perspektif yang lebih positif dengan membangun solidaritas sosial antarsesama anak bangsa.
“Sejatinya kita sesama anak bangsa membangun solidaritas sosial yang kuat, sehingga memungkinkan kita untuk berkarya, menorehkan prestasi untuk bangsa. Solidaritas itu adalah saling mendukung, saling mendorong untuk berbuat kebaikan, bukan saling mempreteli, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.
Menurut Idrus, semangat saling mendukung dan mendorong diperlukan agar energi masyarakat dapat diarahkan untuk menghasilkan berbagai prestasi bagi bangsa, bukan dihabiskan untuk saling menjatuhkan.
“Kalau misalkan itu yang kita kembangkan, maka kapan Indonesia maju?” katanya.
Idrus menegaskan kritik tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi, tetapi harus disampaikan berdasarkan fakta dan objektivitas. Ia juga mendorong masyarakat mengembangkan cara pandang positif terhadap sesama anak bangsa.
“Sejatinya kita sesama anak bangsa memperkuat solidaritas sosial, yang implementasinya saling mendorong, saling mendukung dalam menorehkan berbagai prestasi untuk bangsa, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.
Ia mengatakan wujud solidaritas sosial adalah kepedulian terhadap sesama, termasuk ikut merasakan ketika ada anak bangsa yang mengalami kesulitan.
“Wujud daripada solidaritas sosial itu adalah senang melihat sesama anak bangsa bermaju dan susah melihat bila ada anak bangsa yang menderita,” katanya.
Karena itu, Idrus mengajak semua pihak mengembangkan pola pikir positif atau positive thinking, bukan negative thinking, serta mengedepankan husnuzan atau prasangka baik dalam menyikapi persoalan.
“Kita mesti mengembangkan positive thinking, bukan negative thinking, mengembangkan husnuzan, bukan suuzan,” ujar Idrus.
Idrus juga menyinggung posisi Misbakhun sebagai tokoh Partai Golkar. Ia menilai rekam jejak dan prestasi Misbakhun merupakan bagian positif yang perlu dijaga.
“Tokoh ini adalah salah seorang tokoh yang memiliki prestasi yang cerah. Tentu akan berpengaruh juga kepada Golkar,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah pemberitaan sebelumnya menunjukkan Misbakhun aktif membahas kebijakan cukai hasil tembakau. Pada Agustus 2026, Komisi XI DPR menyatakan pembahasan penambahan lapisan tarif cukai rokok akan dituntaskan pada masa sidang berjalan.
Pada Mei 2026, Misbakhun juga mendukung kebijakan mempertahankan tarif cukai hasil tembakau dengan alasan memberikan relaksasi kepada industri dan menjaga penyerapan tenaga kerja.
Idrus meminta polemik tersebut tidak berkembang menjadi penghakiman sebelum seluruh fakta dan pihak-pihak yang disebut memberikan penjelasan.
“Sudah memberikan klarifikasi, maka tidak ada. Kita harus saling memahami, saling menjaga sesama anak bangsa,” kata Idrus.
(Yulianto)























