SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Korban jiwa akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang bagian selatan, pada Selasa (28/7) waktu setempat terus bertambah. Hingga Rabu (29/7), sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi korban yang diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus pencarian adalah pusat perbelanjaan Aeon Mall di Kumamoto. Ledakan yang diduga dipicu kebocoran gas setelah gempa menyebabkan sebagian bangunan runtuh. Sekitar 20 hingga 30 karyawan dilaporkan masih belum ditemukan.
Pemerintah Jepang mengerahkan ribuan personel penyelamat, termasuk Pasukan Bela Diri Jepang (Self-Defense Forces), untuk mempercepat proses evakuasi dan pencarian korban di sejumlah lokasi terdampak.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan pemerintah memprioritaskan penyelamatan korban dan memastikan bantuan segera disalurkan ke wilayah terdampak.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada jalan, jembatan, serta jaringan listrik. Sekitar 260.000 warga dievakuasi ke tempat penampungan sementara, sementara puluhan ribu rumah mengalami pemadaman listrik. Layanan kereta cepat, bandara, dan aktivitas sejumlah pabrik juga sempat dihentikan akibat dampak gempa.
Otoritas Jepang mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap gempa susulan dan potensi longsor, terutama di wilayah yang mengalami kerusakan parah. Cuaca panas juga menjadi perhatian karena meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi para pengungsi yang masih berada di tempat evakuasi.
Gempa ini menjadi salah satu bencana terbesar yang melanda Kumamoto sejak gempa dahsyat pada 2016. Jepang yang berada di kawasan Ring of Fire merupakan salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia sehingga kerap mengalami gempa bumi berkekuatan besar. (Reuters)
(Ginanjar Prio Wibowo)
























