SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Ada satu nama negara yang mulai sekarang perlu kamu hafalkan. Nauru, negara kepulauan mungil di Samudra Pasifik, resmi berganti nama menjadi Republik Naoero.
Perubahan ini bukan sekadar soal ejaan atau tampilan baru di peta dunia. Pemerintah setempat menyebut keputusan tersebut sebagai langkah besar untuk kembali pada identitas asli bangsa mereka sekaligus melepaskan diri dari warisan kolonial yang telah melekat selama puluhan tahun.
Nama “Naoero” sebenarnya bukan nama baru. Itulah sebutan tradisional yang sejak lama digunakan masyarakat lokal dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dunia internasional lebih mengenalnya sebagai “Nauru” karena dianggap lebih mudah diucapkan oleh orang asing.
Kini, pemerintah memutuskan sudah waktunya identitas asli itu kembali digunakan secara resmi.
Tak hanya nama negara yang berubah, sejumlah identitas nasional juga ikut berganti. Kode internasional negara yang sebelumnya NRU kini menjadi NRO. Sebutan bagi warga negaranya juga berubah dari Nauruan menjadi dei-Naoero, lengkap dengan pelafalan baru dari “Now-roo” menjadi “Now-ero”.
Perubahan tersebut telah disahkan melalui amandemen konstitusi yang disetujui parlemen dalam dua putaran pemungutan suara.
Presiden David Adeang mengatakan langkah tersebut diambil untuk menghormati sejarah, bahasa, dan jati diri bangsa.
“Perubahan yang diusulkan ini bertujuan untuk lebih setia menghormati warisan bangsa kita, bahasa kita, dan identitas kita,” ujar David Adeang.
Menariknya, pemerintah sempat mempertimbangkan menggelar referendum nasional. Namun setelah melalui berbagai diskusi, pemerintah memutuskan persetujuan parlemen sudah cukup untuk mengesahkan perubahan nama negara tersebut.
Bagi pemerintah Naoero, perubahan ini menjadi simbol lahirnya kebanggaan nasional baru. Nama “Naoero” bahkan selama ini sudah digunakan pada lambang negara dan berbagai simbol resmi, hanya saja belum menjadi nama yang dikenal dunia.
Meski sedang merayakan identitas barunya, Naoero tetap menghadapi tantangan besar. Negara dengan jumlah penduduk sekitar 12 ribu jiwa itu merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama ancaman kenaikan permukaan laut.
Naoero juga menambah daftar negara yang memilih mengganti nama demi memperkuat identitas nasional. Sebelumnya, Swaziland berganti menjadi Eswatini, sementara Turki meminta dunia menggunakan nama Türkiye dalam komunikasi internasional.
Kini perubahan tersebut mulai diakui secara global. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta sejumlah pemerintah seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan China telah memperbarui nama negara tersebut menjadi Republik Naoero. Seluruh aset nasional, termasuk kapal dan pesawat, juga akan menyesuaikan identitas baru tersebut.
Bagi dunia, mungkin ini hanya pergantian nama. Namun bagi Naoero, ini adalah cara untuk mengatakan bahwa identitas sebuah bangsa tidak ditentukan oleh sejarah kolonial, melainkan oleh pilihan rakyatnya sendiri.
(Rizki Fadillah)
























